Who Is Adam?

Who Is Adam?
Overdosis



Laila merasa miris saat melihat keadaan Adam, tubuhnya di belit dengan selimut tebal. Dahinya berkeringat, tubuhnya terus saja menggeliat.


Adam sepertinya sangat tersiksa, berkali-kali dia meminta tolong dengan suara yang terdengar parau. Arkana yang melihat hal janggal pun meminta Dad Arley, untuk datang bersama Dokter ke apartemen Adam.


Tak lupa Arkana pun menjelaskan keadaan Adam saat Ini, Tuan Arley terdengar menggeram marah saat mendengar kondisi cucu kesayangannya.


Rumah Tuan Arley yang memang berada tak jauh dari apartemen Adam, membuatnya bisa dengan cepat sampai ke sana.


Tuan Arley membawa Dokter Abian, Dokter yang sudah berusia empat puluh tahunan. Dia sudah menjadi Dokter peribadi Tuan Arley, sejak dia menikah dengan Adisha.


Tuan Arley harus sering mengontrol kesehatannya, karena dia mempunyai istri dan anak yang masih kecil. Dia tak mau hidupnya sia-sia karena penyakit, dia harus sehat di sisa usianya.


Tuan Arley juga membawa beberapa bodyguardnya, dia harus tahu kenapa semua ini bisa terjadi pada cucunya.


Saat melihat Adam yang di belit dengan selimut tebal, Dokter Abian langsung berusaha untuk membukanya. Saat sudah terbuka, dia langsung terbelalak kaget karena tangan dan kaki Adam dalam keadaan terikat.


Dengan cepat Dokter Abian melepaskannya, dia harus segera memberikan pertolongan pada Adam.


Adam sudah mulai meracau tak jelas, matanya memerah akibat toksisitas retina persisten, keringat bercucuran di seluruh tubuhnya dan napasnya pun terlihat mulai tersenggal.


Dokter Abian langsung memeriksa keadaan Adam, tak lama dia nampak menggelengkan kepalanya. Dokter Abian pun segera menyuntikan obat penenang pada Adam.


Keadaan Adam pun terlihat mulai tenang, dia mulai diam tanpa racauan tak jelas yang keluar dari mulutnya, tak lama matanya pun memejam dan napasnya mulai teratur.


"Apa yang terjadi pada cucuku, Dok?" tanya Tuan Arley tak sabar.


"Tuan muda overdosis obat perangsang, sepertinya ada yang sengaja memberinya obat perangsang dalam dosis tinggi." Jelas Dokter Abian.


Arkana, Laila, Tuan Arley dan bahkan Sisil langsung kaget saat mendengar ucapan Dokter Abian.


"Sisil, sini kamu." Panggil Tuan Arley.


Sisil yang sedari tadi berdiri dengan gelisah di pojok kamar Adam langsung menghampiri Tuan Arley. Dia terlihat ketakutan, tapi, dia juga merasa tak punya salah.


Justru, di sini Sisil' lah yang hampir jadi korbannya.


"A--ada apa, Tuan?" tanya Sisil terbata.


Dia terlihat sangat takut, saat melihat tatapan Tuan Arley yang terasa menghunus pandangannya.


"Tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi!" titah Tuan Arley.


Dengan wajah tegang, Sisil pun menceritakan semuanya. Tentunya tanpa ada sedikitpun, hal yang dia tutupi.


Sisil juga bercerita, tentang pertemuannya dengan Mharta.


"****!! perempuan gila mana yang berani bermain dengan cucuku?!" Tuan Arley terlihat menggeram kesal," Bastra!" panggil Tuan Arley pada salah satu bodyguardnya.


Dengan cepat, Bastra pun menghampiri Tuannya.


"Ye, Master."


Dengan patuh Bastra langsung menunggu titah dari Tuannya.


"Cek rekaman Cctv! Salin rekamannya dan tunjukan segera padaku!" titah Tuan Arley.


Tuan Arley terlihat tak sabar, dia ingin segera mengetahui apa yang telah terjadi pada cucunya dan siapa yang telah berani mengusik ketenangan keluarga Caldwell.


"Siap, Master!"


Bastra pun langsung pergi untuk melaksanakan titah Tuan Arley, sedangkan bodyguard yang lainnya nampak berjaga di depan apartemen.


"Nona, tindakan yang anda lakukan salah. Anda bisa saja membuat Tuan Muda kehilangan nyawa dengan tindakan yang anda lakukan." Terang Dokter Abian.


Sisil terlihat sangat kaget, saat mendengar penuturan dari Dokter Abian. Dimana coba salahnya Sisil? dia hanya mencoba menyelamatkan dirinya, eh? maksudnya berusaha untuk mempertahankan keperawanannya.


Sisil memang tak pernah berpacaran, tapi dia juga tak bodoh-bodoh banget. Dia sering melihat cara anak jaman now saat sedang berpacaran, dia juga sering melihat orang yang bercumbu di pinggir gang.


Karena memang, di dekat rumah Sisil ada kostan khusus wanita malam. Setidaknya Sisil tahu, apa yang lelaki inginkan jika sudah terlihat sangat agresif seperti Adam tadi.


"Saya terpaksa melakukannya, Dok. Saya tidak mau kehilangan keperawanan saya, apa lagi sama lelaki yang bukan mahram saya." Jawab Sisil takut-takut.


Hawa yang tadinya tegang, terlihat mencair karena jawaban dari Sisil.


Laila langsung menghampiri Sisil," tak apa. Semuanya sudah terjadi, tapi akupun berterima kasih sama kamu, Sayang. Karena kamu, dengan sigap langsung memberitahukan keadaan anak kami secepatnya." Laila langsung memeluk Sisil, berusaha untuk mengurangi rasa takutnya.


"Terima kasih, Nyonya." Jawab Sisil.


Sisil berterima kasih bukan karena dapat pengampunan dari Laila, toh dia juga tak merasa bersalah.


Hanya saja dia merasa takut dengan tatapan dari Tuan Arley, yang terasa sampai menembus ke dalam lapisan terdalam tubuhnya.


Akan tetapi, Sisil berterima kasih karena Laila sudah memeluknya dan mengusap lembut punggungnya.


Sisil merasa hatinya yang telah lama membeku, terasa menghangat. Dia merasa, jika dia sedang dipeluk oleh ibu kandungnya.


Rasanya sangat damai berada di dalam pelukan Laila, pelukan yang sudah sangat lama tidak dia dapatkan dari seorang ibu. Bahkan, tanpa terasa Sisil langsung menangis karena terharu.


Laila pun sempat bingung dibuatnya, dengan cepat dia melerai pelukannya dan mengusap air mata yang kini sudah membanjiri pipinya.


"Kamu kenapa menangis? Bukankah kamu sendiri tadi yang bilang, kalau Adam tak sempat memperkosa kamu. Lalu, untuk apa kamu menangis?" tanya Laila panik.


"Saya terharu, Nyonya. Anda memeluk saya dengan penuh kasih sayang, saya merasa sedang di peluk sama ibu saya, Nyonya." Kata Sisil.


"Ya ampun, saya kira kenapa. Sini saya peluk lagi," ucap Laila.


Laila kembali memeluk Sisil, sedangkan Dokter Abian yang merasa tugasnya sudah selesai langsung berpamitan. Tak lupa, dia juga memberikan obat untuk Adam.


Setelah kepergian Dokter Abian, Bastra pun kembali masuk ke dalam kamar Adam. Dia langsung menyerahkan ponselnya, yang sudah berisi rekaman Cctv di mana detik-detik terjadinya nasib sial yang menimpa Adam.


Tuan Arley pun dengan cepat mengambil ponsel Bastra dan memutar video rekaman Cctv tersebut.


Wajah Tuan Arley langsung memerah, matanya menatap nyalang pada layar ponsel Bastra. Tangannya langsung mengepal sempurna, rahangnya pun terlihat mengeras.


"Pantas saja dia berani mengganggu cucuku, lihatlah, Boy, Mharta Kayena Khalastra. Kamu tidak lupa kan, kalau dia adalah anak dari saingan bisnis kamu?" tanya Tuan Arley.


Tuan Arley langsung menyerahkan ponselnya, Arkana pun langsung melihat rekaman Cctvnya.


"William Dianada Khalastra, Anak dan Ayah sama-sama licik, mari kita bermain, Dad." Ajak Arkana.


"Daddy selalu siap, tangan Dad sudah terasa sangat gatal." Jawab Tuan Arley .


+


+


+


Coba tebak, apa yang akan Mereka lakukan?


Jangan lupa Like dan tinggalkan jejak.