Who Is Adam?

Who Is Adam?
Hukuman



Setelah satu jam melakukan perjalanan, Tuan Arley, kini telah sampai di sebuah gubuk kecil di pinggir hutan. Setelah memarkirkan mobilnya, Tuan Arley langsung turun dengan tergesa .


"Silahkan, Tuan." Salah satu anak buah Tuan Arley, nampak membukakan pintu.


"Di mana, Dia?" tanya Tuan Arley.


"Di ruang belakang, Tuan." jawabnya.


Tuan Arley langsung masuk ke dalam gubuk yang hanya mempunyai tiga ruangan saja. Gubuk tersebut nampak lusuh dan d tak terawat.


Saat sampai di ruang belakang, Tuan Arley dapat melihat jika wanita yang dia cari beberapa hari ini, nampak terkulai lemas.


Dia terduduk di tanah, dengan tangan yang terikat pada tiang. Matanya di tutup dengan kain, dan mulutnya di tutup dengan lakban.


Tuan Arley nampak menyunggingkan senyumnya, dia sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh anak buahnya.


Lalu, siapa wanita itu?


Tentu saja wanita itu adalah Laurent, wanita yang sudah membuatnya marah besar. Dari dulu, Tuan Arley selalu memaafkan Laurent.


Walaupun Laurent terkadang menghabiskan banyak uang perusahaan untuk urusan pribadinya, Tuan Arley tak pernah marah.


Dia menyayangi Laurent, seperti adik kandungnya sendiri. Sebesar apa pun kesalahan Laurent, Tuan Arley selalu memaafkannya.


Tapi tidak untuk kali ini, karena kelakuan Laurent sudah keterlaluan. Sedikit saja, Tuan Arley telat datang, nyawa Adisha sudah dipastikan sudah melayang.


Pada dasarnya memang Laurent adalah adik sepupunya, tapi, setelah dia menyakiti wanita yang dia cintai, tentu saja membuat Tuan Arley murka.


Tuan Arley nampak mengambil satu botol air mineral yang terletak tak jauh dari Laurent, kemudian, Tuan Arley mengguyurkan air tersebut tepat ke wajah Laurent. Setelah itu, dengan gerakan kasar, Tuan Arley langsung membuka lamban yang menutupi mulut Laurent.


Laurent kelagapan, dia langsung bangun dan memaki tanpa melihat, siapa yang berada di depannya.


"Lepaskan gue bangsad !!! Beraninya hanya pada wanita, dasar sialan!!! Lihat saja nanti, kalau gue lepas, kalian akan gue cincang dan gue lemparkan daging kalian ke penangkaran Buaya !!!" teriak Laurent.


Tuan Arley, yang mendengar ocehan Laurent, langsung tertawa dengan sangat lantang.


"Hahahaha,, kamu sangat lucu adik ku, Sayang." ucap Tuan Arley.


Setelah mendengar suara Tuan Arley, Laurent pun melembutkan suaranya.


"Ar, kau kah itu?" tanya Laurent.


"Ya, adik ku, Sayang."


"Ar, tolong buka penutup mata ini. Aku ingin menatap wajah tampan mu," pinta Laurent.


Tuan Arley langsung membuka penutup mata Laurent, Laurent nampak mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia merasa matanya sakit, karena di tutup dengan kain selama semalaman.


Senyum Laurent langsung merekah, saat melihat Tuan Arley di hadapannya.


"Ar, lepaskan aku, Sayang." pinta Laurent.


"Tentu, adik ku sayang. Aku akan segera melepaskan mu." ucap Tuna Arley.


"Benarkah?"


"Yes, kamu akan kulepaskan. Lalu, aku akan memasukan mu kedalam bui." ucap Tuan Arley.


Mata Laurent nampak membulat sempurna, dia tidak menyangka jika Tuan Arley akan semarah itu padanya. Walau bagaimanapun, Laurent, bisa melihat sorot mata Tuan Arley, yang menunjukkan kemarahan kepadanya.


"Jangan, Ar. Jangan masukan aku ke dalam penjara, hidup ku sudah hancur. Suami ku telah menceraikan aku, saat tahu, aku masih selalu memujamu." ucap Laurent.


"Aku, tak perduli. Kau hampir saja membuat wanita ku, kehilangan nyawa. Kau harus bertanggung jawab atas kejahatan mu!!" ucap Tuan Arley.


"Maafkan aku, Ar. Aku janji, aku tak akan mengganggu wanita itu, aku hanya ingin kamu menikahi ku." ucap Laurent.


"Kamu jahat, Ar!!"


"Aku masih berbaik hati, Laurent. Kalau aku jahat, aku sudah memasukan mu ke dalam lautan Buaya. Kamu masih ingat kan Laurent, di mana letak penangkaran Buaya keluarga kita?"


Laurent langsung terlihat kesusahan saat menelan salivanya sendiri, dia sangat tahu, jika keluarga Caldwell mempunyai penangkaran Buaya. Karena memang, mereka mempunyai bisnis seperti tas, jaket dan sepatu yang terbuat dari kulit Buaya.


"Ma--maafkan aku, Ar. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, cukup nikahi aku saja." ucap Laurent dengan tatapan penuh permohonan.


"Jangan gila, Laurent!!! Kau adik ku, jangan berkata yang tidak-tidak.


"Ar, nikahi aku. Aku ingin merasakan bercin*ta dengan mu, aku sudah lama terobsesi dengan tubuh indah mu itu." ucap Laurent.


"Gila, dasar wanita gila!!" seru Tuan Arley.


Tuan Arley merasa jika Laurent sudah benar-benar gila, jika berbicara lama-lama dengan Laurent, Tuan Arley pun bisa ikut gila.


Tuan Arley langsung pergi meninggalkan, Laurent. Dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk segera menjebloskan Laurent ke dalam penjara.


Tuan Arley juga berpesan, agar Laurent di jatuhi hukuman yang berat. Bahkan, Tuan Arley meminta agar Laurent di hukum seumur hidup.


Anak buah Tuan Arley pun menyanggupi, Tuan Arley berdecak senang. Sedangkan Laurent, masih saja meracau tak jelas.


Terkadang, Laurent terdengar memaki dan terkadang Laurent terdengar memelas meminta Tuan Arley untuk membawanya pergi dari sana. Laurent, benar-benar seperti orang gila.


Setelah urusannya dengan Laurent selsai, Tuan Arley langsung pulang. Dia sudah rindu dengan wanita yang baru saja sah menjadi istrinya, yang semalam baru saja dia ambil mahkotanya.


Pukul tujuh pagi, dia sudah sampai di rumahnya. Saat tiba, dia hanya melihat keempat adiknya Adisha yang sedang bercengkerama di ruang keluarga.


Tuan Arley pun langsung menghampiri mereka," Hai, guys.."


"Bang, " sapa Arga.


"Di mana, Adisha?" tanya Tuan Arley.


"Dari pagi, Kakak, belum keluar kamar." jawab Manggala.


Tuan Arley pun langsung tersenyum, dia tahu, pasti Adisha kelelahan karena ulahnya.


Tuan Arley langsung pergi dan masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua. Saat Tuan Arley membuka pintu kamarnya, dia masih melihat istrinya yang tengah tidur dengan pulas.


Masih seperti saat dia tinggal, tubuhnya masih polos dan hanya tertutup oleh selimut. Tuan Arley langsung menghampiri istri nya dan mengecup kening Adisha dengan lembut.


"Kamu pasti cape, maaf karena dengan tak sabarnya, aku terus saja melakukannya berulang-ulang." Tangan Tuan Arley, nampak mengelus lembut pipi Adisha.


Adisha yang merasa terganggu pun langsung membuka matanya, saat melihat wajah suaminya. Adisha pun langsung tersenyum, dia sangat senang karena sudah bisa membuat suaminya terlihat sangat puas.


"Pagi, Sayang." sapa Tuan Arley.


"Pagi," jawab Adisha.


Adisha nampak memicingkan matanya, saat melihat Tuan Arley yang memakai jaket.


"Kamu, habis pergi?" tanya Adisha.


"Hem, menyelsaikan pekerjaan yang tertunda. Cape, sini peluk, aku mau cium." ucap Tuan Arley .


Tuan Arley langsung menunduk dan mencium istrinya dengan lembut, sedangkan tangan nya sibuk melepas apa pu yang melekat di tubuhnya.


Adisha mendorong tubuh suaminya, hingga dia bisa melihat dengan jelas wajah rupawan suaminya itu.


"Kamu mau apa? Katanya cape?"


"Tapi, buat yang satu ini engga ada kata cape." ucap Tuan Arley sambil menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.