Who Is Adam?

Who Is Adam?
Tiba Di Kota Bandung



Setelah melakukan dua jam perjalanan, akhirnya Sisil dan juga Adam tiba di kota Bandung


Tentu saja mereka bisa cepat sampai, karena mereka melakukan perjalanan saat malam hari. Tak ada kata macet selama mereka melakukan perjalanan.


"Tuan, ini sudah pukul 1 malam. Mau langsung ke hotel, atau mau langsung mencari makanan yang diinginkan oleh Nyonya Sisil?" tanya PakbSopir.


Mendengar ucapan sopirnya, Adam langsung melihat kearah Sisil. Ternyata Sisil tertidur dengan sangat pulas, dia pun menjadi tak tega untuk membangunkan istrinya.


"Kita ke hotel saja, Pak," ucap Adam pada akhirnya.


Setelah mendapatkan perintah dari majikannya, pak Sopir pun langsung melajukan mobilnya menuju hotel terdekat di sana.


Tak memerlukan waktu yang lama, hanya dengan melakukan lima belas menit perjalanan saja mereka sudah sampai di sebuah hotel berbintang.


"Sudah sampai, Tuan," ucap Pak Sopir memberi tahu.


"Tolong pesankan kamar untukku," pinta Adam.


Adam lalu merogoh saku celananya, dia mengambil dompet dan memberikan kartu kepada pak Sopir tersebut. Dengan cepat pak Sopir tersebut mengambil kartu dari tangan Adam.


"Tunggu sebentar ya, Tuan," ucapnya.


"Ya," jawab Adam.


Pak Sopir pun langsung masuk kedalam hotel tersebut, dia segera memesankan kamar untuk Adam. Sedangkan Adam setia menunggu di dalam mobil sambil mengelus lembut puncak kepala istrinya.


"Kamu sekarang jadi aneh, Yang. Banyak maunya, lebih agresif. Selalu saja minta diturutin, kalau ngga diturutin pasti langsung ngambek." Adam mengecup bibir istrinya.


"Tapi, walaupun seperti itu, Mas tetap cinta sama kamu. Mas sayang banget sama kamu, Mas juga sayang sama calon Baby kita." Adam mengelus lembut perut Sisil.


Sisil terlihat tak terganggu, dia tertidur dengan sangat pulas, bahkan terlihat sangat nyaman berada di dalam dekap hangat suaminya.


Lima belas menit kemudian, pak Sopir pun datang dengan membawa ID Card di tangannya.


"Mari, Tuan." Pak Sopir langsung membukakan pintu mobil untuk Adam.


Adam pun langsung menggendong Sisil dan turun dari dalam mobilnya, dia bopong tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.


Setelah melihat Adam turun, pak Sopir langsung berjalan terlebih dahulu. Tentu saja harus seperti itu, karena dia lah yang memegang ID Cardnya.


"Silakan, Tuan," ucap Pak Sopir ketika membukakan pinta kamar hotel untuk kedua majikannya tersebut.


"Terima kasih," ucap Adam.


"Sama-sama, Tuan." Pak Sopir terlihat membungkuk hormat, lalu berpamitan dari kamar hotel yang sudah ia pesankan untuk Adam.


Tentunya sebelum dia pergi, dia pun menyimpan ID Cardnya di atas nakas. Lalu dia menutup rapat kamar hotel tersebut.


Adam langsung merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan, setelahnya dia selimuti dan dia kecup kening istrinya.


"Tidurlah, Sayang. Besok kita keliling kota Bandung, membeli makanan apa pun yang kamu inginkan." Satu kecupan dia daratkan di bibir Sisil, kemudian dia meninggalkan Sisil dan duduk di atas sofa.


Adam lalu merogoh saku celananya, dia mengambil ponselnya dan langsung memberikan pesan singkat kepada Mahendra dan juga Leo.


Adam tahu jika ini bukan waktu yang tepat untuk berkirim pesan, namun setidaknya nanti pagi pasti Mahendra dan Leo akan membaca pesan tersebut.


"Leo, tolong handle urusan di kantor. Aku sedang berada di luar kota," satu pesan Adam kirimkan untuk Leo.


"Bang, tolong kamu handle meeting penting dengan Tuan Edward dan juga dengan Tuan Brata. Aku sedang di luar kota, ajaklah Gracia untuk membantumu," kembali Adam mengirim satu pesan untuk orang kepercayaan Tuan Arley.


Adam lalu tersenyum kala mengingat keinginan istrinya yang tidak bisa dibantah, namun dia juga bersyukur.


Adam lalu menghampiri Sisil, dia terlihat duduk tepat di samping Sisil. Lalu, dia mengelus lembut perut Sisil.


Seulas senyum terukir di bibir Adam, dia sangat senang karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.


"Baik-baik di perut Bunda ya, Sayang. Jangan rewel, Ayah sayang Dede." Adam mengelus dan mengecup perut Sisil yang terbalut selimut.


Setelah melakukan hal itu, Adam pun langsung merebahkan tubuh lelahnya. Dia menarik Sisil ke dalam pelukannya, lalu mengecup bibir istrinya sekilas.


"I LOVE YOU," bisiknya tepat di telinga istrinya.


Adam pun lalu berusaha memejamkan matanya, tak lama kemudian dia pun sudah terlelap dalam buaian mimpinya.


*/*


pagi pun telah menjelang, Sisil terlihat menggeliatkan tubuhnya. Lalu, dia pun mulai membuka matanya.


Dia menatap kamar yang dia tempati, dia juga melihat sekelilingnya yang dirasa tak bersahabat di matanya.


Sisil pun langsung mengernyitkan dahinya, lalu dia pun melihat ke arah sampingnya.


"Mas Adam, kita di mana?" tanya Sisil pelan.


Adam yang masih terlelap dalam buai mimpinya tak merespon sama sekali, dia malah mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Ya ampun, Mas." Sisil hanya bisa menggelengkan kepalanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.


Sisil yang merasa penasaran pun menggoyangkan tubuh Adam, tak lama kemudian Adam pun membuka matanya.


"Ada apa, hem?" tanya Adam.


"Mas, ini di mana?" tanya Sisil.


"Di hotel, Sayang." Adam mengecupi ceruk leher istrinya.


"Kenapa bisa di hotel?" tanya Sisil seraya mendorong wajah Adam.


"Ck, apa kamu sudah lupa? Kamu memintaku untuk pergi ke Bandung, pengen makan Co-le-nak," jawab Adam.


"Ya ampun, Mas. Aku jadinya ketiduran ya? Terus kita nginep di hotel ya?" tanya Sisil.


"Ya, Sayangku," jawab Adam.


"Terus, Colenaknya bagaimana?" tanya Sisil.


"Nanti siang kita cari yang jualan colenaknya," ucap Adam dengan mata terpejam.


"Oke," jawab Sisil senang.


"Sekarang tidurlah lagi," kata Adam.


"Tanggung, Mas. Naik aja, ya?" tanya Sisil.


Mendengar ucapan Sisil, Adam langsung membuka matanya. Lalu, dia menatap wajah istrinya dengan sangat lekat.


"Naik kemana?" tanya Adam.


Sisil tak menjawab, dia langsung bangun dan membuka kain penutup bawah punya Adam.


"Ya ampun," ucap Adam seraya menepuk jidatnya.