Who Is Adam?

Who Is Adam?
Beku Tidak?



Tiba di dalam ruangannya, Mahendra melihat Gracia yang sudah duduk sambil berdecak kesal. Dia berusaha untuk mencatat, namun tangannya yang sakit membuat dirinya kesusahan.


Mahendra terlihat menggelengkan kepalanya, dia mengambil berkas yang ada di mejanya dan langsung mengambil kursi. Kemudian, dia duduk tepat di samping Gracia.


Gracia nampk memundurkan wajahnya, karena wajah Mahendra terlihat begitu dekat dengan dirinya.


"Tuan mau apa?" tanya Gracia.


"Aku mau membantumu, biar aku yang mengerjakan semua berkasnya. Kamu periksa laporan yang kemarin saja," kata Mahendra.


Gracia terlihat mengernyit heran, dia benar-benar merasa bingung dengan perubahan sikap Mahendra. Dia tetap terlihat dingin, namun terasa lebih perhatian.


"Kenapa malah menatap wajahku seperti itu?" tanya Mahendra.


Gracia terlihat begitu kaget dengan pertanyaan dari Mahendra.


"Ah iya, maaf Tuan. Aku akan mengerjakan tugas yang Tuan katakan," kata Gracia.


Tanpa banyak bicara lagi, Gracia pun langsung membuka laptopnya dan melakukan tugasnya. Sedangkan semua berkas yang ada di meja, Mahendra yang mengerjakannya.


Sesekali Gracia nampak melirik ke arah Mahendra, rasanya pagi ini dia terlihat tampan sekali.


Mungkin karena efek bantuan yang dia berikan kepada Gracia, Gracia pun tersenyum seraya memperhatikan wajah Mahendra yang terlihat begitu serius.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Mahendra seraya mendekatkan wajahnya.


Gracia terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Mahendra.


"Ti--tidak apa-apa, hanya saja Tuan terlihat lebih tampan kalau baik seperti ini." Gracia terlihat menepuk mulutnya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Gracia, Mahendra nampak tersenyum.


"Benarkah seperti itu? Bukannya setiap hari juga aku tampan?" kata Mahendra tepat di telinga Gracia.


Hal yang dilakukan oleh Mahendra, membuat Gracia meremang seketika. Karena sapuan hangat dari napas Mahendra langsung berasa di telinga dan lehernya.


"Ka--kata siapa tampan? Biasa saja," kata Gracia seraya mencebikkan bibirnya.


"Biasa saja, ya?" tanya Mahendra.


"Ya!" kata Gracia seraya menggelengkan kepalanya.


Melihat tingkah Gracia yang ucapan dan perbuatannya tidak sesuai, membuat Mahendra tertawa kecil.


Hal itu membuat Gracia terpana, karena baru kali ini dia melihat Mahendra yang sedang tertawa. Rasanya Mahendra terlihat tampan berkali-kali lipat.


"Kenapa kamu terus saja menatapku?" tanya Mahendra lagi.


"Ti--tidak apa-apa, hanya saja Tuan hari ini sangat aneh," ucap Gracia.


"Hem, aku memang aneh. Mulai hari ini, bisakah kamu menyebutku dengan pnggilan nama saja?" tanya Mahendra.


"Kalau begitu, panggil apa saja. Yang penting jangan panggil Tuan," kata Mahendra.


"Bagimana kalau Kakak?" tanya Gracia.


"Ck! Tidak mau, aku bukan Kakak kamu," jawab Mahendra.


"Bagaimana kalau Mas, saja? Kaya Nyonya Sisil manggil Tuan Adam, romantis." Gracia tersenyum seraya menatap wajah Mahendra.


"Kalau begitu kita menikah saja, biar seperti Tuan Adam dan Nyonya Sisil." Mahendra mengusulkan.


"Mana bisa seperti itu! Tuan Adam selalu romantis, hangat dan juga perhatian. Sedangkan Tuan... DINGIN KAYA KULKAS ENAM BELAS PINTU. Kalau aku nikah sama Tuan, aku pasti akan be--"


Gracia tak melanjutkan ucapannya, karena Mahendra langsung mengangkat Tubuh Gracia dan mendudukannya di atas pangkuannya.


Kemudian, Mahendra memeluk pinggang Gracia dengan erat. Gracia yang kaget hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali, dia tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Mahendra terhadap dirinya.


"To--tolong turunkan saya, Tuan." Gracia berusaha untuk lepas dari pelukan Mahendra.


"Kata kamu aku ini seperti kulkas enam belas pintu, kaku dan dingin. Sekarang kamu ajari aku, supaya aku bisa bersikap hangat," ucap Mahendra.


Gracia nampak tertegun dengan apa yang diucapkan oleh Mahendra, dia benar-benar tidak menyangka jika Mahendra akan mengatakan hal itu terhadap dirinya.


"Kok diem? Atau, kamu perlu bukti jika berdekatan dengan aku, kamu ngga bakalan beku?" tanya Mahendra.


Gracia terlihat menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu, jika kamu berdekatan dengan aku. Kamu tidak akan beku, tapi... kamu akan merasa kepanasan," kata Mahendra.


"Maksudnya?" tanya Gracia.


Mahendra tersenyum, lalu dia menegakkan tubuhnya dan langsung menarik tengkuk leher Gracia.


Bibir mereka langsung menyatu, Gracia nampak kaget. Bahkan dia langsung mencoba untuk memberontak, sayangnya tangan kanan Mahendra terlihat menekan tengkuk leher Gracia.


Tangan kirinya pun nampak memeluk pinggang Gracia dengan erat, sehingga Gracia tak bisa berkutik.


Mahendra terlihat bermain dengan bibir Gracia, dia menikmati manisnya bibir Gadis itu. Walaupun Gracia hanya diam saja, Mahendra seolah tidak perduli.


Cukup lama Mahendra menikmati bibir Gracia, tak lama kemudian Mahendra melepaskan tautannya. Karena dia melihat Gracia yang terlihat kehabisan oksigen.


Di usapnya bibir Gracia dengan lembut, lalu dia pun kembali berkata.


"Beku ngga?" tanya Mahendra.


Gracia tak menjawab, dia langsung turun dari pangkuan Mahendra. Lalu, dia mengambil berkas dan memakainya untuk mengipasi wajahnya.


Mahendra tersenyum melihat wajah Gracia yang terlihat memerah, entah karena marah atau malu, Mahendra tak tahu.