Who Is Adam?

Who Is Adam?
Jalan-Jalan



Setelah kepergian Tuan Seno dan juga Nyonya Alina, Devano dan juga Arkana berpamitan kepada istri mereka. Karena mereka harus kembali bekerja, sedangkan Laila kini bersama Eliza yang sedang asik mengobrol.


Di rumah Devano mereka terlihat sedang bercengkrama, membicarakan hal-hal apa saja yang biasa dilakukan oleh mereka saat di rumah saja.


"Bagaiman rasanya hamil, Kak?" tanya Eliza.


"Ck, aku yang harusnya memanggil mu, Kakak. Karena kamu sudah menikah dengan Kakak ku." ucap Laila.


Eliza merasa tidak enak, jika dia harus memanggil Laila dengan sebutan adik ipar. Karena kenyataannya mereka memang terpaut umur, Eliza lebih muda tiga tahun dari Laila.


"Maaf, sekarang ceritakan padaku. Bagaimana rasanya hamil?" tanya Eliza.


"Rasanya sangat menyenangkan, semua orang jadi perhatian. Tapi, saat aku hamil Adam. Semuanya sangat menyakitkan," ucap Laila sendu.


Eliza langsung mengusap tangan Laila dengan lembut, dia tahu jika Laila dulu pernah tersiksa saat mengandung Adam, karena Devano sudah menceritakan kisah masa lalu Laila.


"Maaf, jika pertanyaanku mengingatkanmu kepada kesedihan kamu di masa lalu. Lebih baik kita lupakan, Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke rumah Kak Adisha saja?" ajak Eliza.


"Mau apa kesana?" tanya Laila.


"Kita ke Mall, jalan-jalan. Me time, ke salon atau shoping mungkin.." ucap Eliza.


"Itu ide yang bagus kakak ipar, kita ajak Mommy Adisha buat jalan-jalan ke Mall. Kita shopping, Kita habiskan uang suami kita." ajak Laila.


"Kamu benar, aku juga belum pernah memakai kartu yang Mas Devan, berikan pada ku."ucap Eliza.


Senyum pun, langsung terbersit di bibir kedua wanita cantik tersebut. Mereka pun langsung bersiap untuk pergi ke rumah Tuan Arley, mereka akan mengajak Adisha untuk berjalan-jalan ke Mall terbesar di pusat kota.


Sampai di rumah Tuan Arley, Laila dan juga Eliza langsung menghampiri Adisha yang terlihat sedang sibuk menyiram tanaman di samping rumah.


"Hai, Mom." sapa Laila.


"Laila, Sayang." ucap Adisha.


Laila dan Adisha langsung menautkan pipi kanan dan pipi kiri mereka, kemudian mereka pun tersenyum bersama.


"Pagi, Tante." sapa Eliza.


"Pagi, Eliza, Sayang." sapa Adisha.


"Mom," rengek Laila.


"Apa? Kenapa kalian ke sini pagi-pagi? Apa ada hal penting?" tanya Adisha.


"No, Mom. Kami hanya ingin mengajak Mom jalan-jalan ke Mall, untuk nyalon bareng. Mom mau?" tanya Laia.


"Boleh, Laila, Sayang. Tapi, Mommy mau minta izin dulu pada Daddy kamu." ucap Adisha.


Adisha lalu mengajak Eliza dan juga Laila menuju ruang tamu, tak lupa dia juga menyuruh asisten rumah tangga untuk menyediakan minuman dan camilan untuk mereka berdua.


Sedangkan Adisha, langsung masuk ke kamarnya. Dia pun meminta izin kepada Tuan Arley yang belum berangkat kemanapun pagi itu.


Tuan Arley masih terlihat berdiri di depan cermin, dia sedang mematut diri nya ,dan dia masih tetap terlihat gagah walaupun usianya sudah setengah abad.


Adisha langsung menghampiri Tuan Arley dan memeluknya dari belakang, Tuan Arley terlihat senang. Dia langsung menarik lembut tangan Adisha dan mengecupi punggung tangan Adisha.


"Pasti ada maunya," ucap Tuan Arley.


Adisha langsung tersenyum, karena suaminya sudah tahu dengan apa yang Adisha inginkan.


" Laila dan juga Eliza mengajakku untuk pergi ke salon, Apakah boleh, Sayang?" tanya Adisha.


Tuan Arley pun langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun memutar tubuhnya. Dia langsung memeluk Adisha dengan erat.


"Boleh, tapi cium dulu." ucap Tuan Arley.


Tuan arley pun langsung menunduk, dia menautkan bibirnya ke bibir Adisha. Menyesap manisnya madu dari bibir sang istri tercinta, untuk beberapa menit, mereka pun terhanyut dalam buayan cinta yang seakan begitu menggelora.


"Oh, Sayang. Kalau saja pagi ini tidak ada meeting dengan klien, aku pasti sudah mengajak mu untuk bermain kuda-kudaan." ucap Tuan Arley seraya terkekeh.


Adisha pun, langsung memukul pelan dada Tuan Arley.


"Nanti malam, Sayang. Sekarang aku bolehkan pergi bersama mereka?" tanya Adisha.


"Tentu, Sayang." jawab Tuan Arley.


Tuan Arley lalu merogoh saku celananya, kemudian dia pun mengambil dompetnya. Dia mengambil sebuah kartu unlimited, dan memberikannya kepada Adisha.


"Pakailah kartu ini sepuasmu, belilah apa yang kamu inginkan. Karena selama kita menikah, kamu belum membeli apapun, kamu belum meminta apapun padaku." ucap Tuan Arley.


"Karena aku memang tidak membutuhkan apapun, karena yang sangat sempurna, sudah aku dapatkan di dalam genggamanku." ucap Adisha.


"Benarkah, Sayang?" tanya Tuan Arley.


"Tentu, Sayang. Kamu. lah, yang paling sempurna yang aku sudah dapatkan." ucap Adisha.


Tuan Arley pun langsung mencubit gemas hidung Adisha.


"Aku pergi, kamu juga hati-hati di sana." ucap Tuan Arley.


Adisha pun mengangguk, kemudian sebelum pergi Tuan Arley pun mencium Adisha dengan sangat mesra. Lalu, Tuan Arley pun pergi meninggalkan Adisha di dalam kamarnya.


Tak lupa, sebelum pergi. Tuan Arley pun sempat berpamitan kepada Eliza dan juga Laila, bahkan Tuan Arley pun menitipkan Adisha pada mereka berdua.


Setelah kepergian Tuan Arley, Adisha pun datang dengan penampilan yang lebih fresh. Dia memakai kemeja berwarna biru laut dengan celana Jeans panjang berwarna biru dongker.


Adisha memang selalu terlihat modis di setiap penampilannya, terkadang Laila pun merasa iri dengan penampilan Adisha dan juga Eliza.


Laila pun mulai berpikir, jika dia harus merubah penampilannya, saat dia sudah melahirkan. Tujuan utamanya, yang pasti, agar Arkana tak merasa bosan padanya.


Dan di sinilah mereka sekarang, Di sebuah Mall terbesar di pusat kota. Mereka bertiga sedang melihat-lihat tas branded yang sedang Buming, dan banyak di gandrungi kaum hawa.


Saat mereka sedang asyik memilih, tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang menyapa Adisha.


"Sha, ini kamu kan Sha?" tanya lelaki tersebut.


Adisha sempat mengerutkan keningnya, karena dia merasa tidak mengenal sosok lelaki yang menyapanya tersebut. Laki-laki itu, terlihat seumuran dengannya, tampan dan memakai setelan jas yang rapi.


"Kamu, siapa?" tanya Adisha.


"Ya ampun, Sha. Aku Andri, temen SMA kamu. Lelaki yang selalu berusaha mendekati kamu, tapi kamunya selalu menghindar." ucap Andri.


"Oh, maaf. Aku tidak mengenal kamu tadi," ucap Adisha.


"Kenapa? Pasti karena aku tambah tampan," ucap Andri percaya diri.


Adisha terlihat tersenyum canggung, sedangkan Laila dan Eliza, nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa.