
Hari ini di rumah Devano, terlihat sangat ramai. Besok adalah hari pernikahannya dengan Eliza, tentu saja semuanya harus terlihat sempurna.
Semua pekerja telah dikerahkan, agar semuanya bisa cepat kelar. Rumah Devano, kini sudah terlihat seperti istana di negeri dongeng.
Karena Eliza, memang menginginkan pernikahannya seperti Princes dalam negeri dongeng. Awalnya, Devano ingin menyewa sebuah ballroom dalam hotel mewah di pusat kota, tapi, Eliza beralasan jika kakinya baru saja sembuh.
Dia tak mau, malah mengganggu aktivitas mereka setelah menikah. Karena terlalu lama menerima tamu, akhirnya Devano memutuskan untuk mengadakan pernikahan dan acara resepsi nya di rumah saja.
Tentunya, tamu yang di undangpun, tak terlalu banyak sesuai dengan permintaan Eliza. Bagi Devano, kenyamanan Eliza, adalah yang utama.
...****************...
Hari pun telah berganti, semua tamu undangan sudah mulai berdatangan. Devano sengaja mengadakan hari pernikahannya di hari sabtu, agar semua orang sedang berada dalam mode libur.
Pukul sembilan pagi, acara pernikahan bujang berusia tiga puluh tahun itu pun telah dilaksanakan. Tuan Bram, Ayah kandung dari Eliza pun nampak menjadi wali nikah Eliza.
Saat mengucapkan kabul, Devano terlihat sudah terlatih. Hanya dalam satu tarikan nafas, semua saksi dan para tamu undangan langsung berkata SAH.
Devano nampak tersenyum senang, apa lagi saat Eliza datang menghampirinya. Senyum Devano tak pernah luntur, karena melihat kecantikan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
Setelah kedatangan Eliza, acara pun berlanjut dari mulai tukar cincin sampai penandatanganan surat nikah.
Senyum dari pasangan pengantin baru itu pun tak pernah pudar, bahkan saking senangnya Devano sampai mengecup bibir istrinya saat sedang melakukan sesi foto pengantin.
Semua keluarga dan tamu yang hadir, hanya bisa menertawakan ketidaksabaran dari Devano.
Setelah serangkaian acara pernikahan selsai, acara pun langsung dilanjutkan ke acara resepsi. Semua tamu yang hadir nampak memberikan selamat, begitu pun dengan pasangan pengantin baru Tuan Arley dan Adisha, mereka pun nampak hadir di sana.
"Selamat ya, Sayang. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Nyonya Alina.
"Selamat ya, Boy. Semoga kamu bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab." ucap Tuan Seno.
"Selamat ya, Kak. Sebentar lagi, Kakak bisa--" ucapan Laila langsung tertahan karena Devano langsung menutup mulut Laila.
"Selamat Ya, semoga nanti malam kamu bisa bermain dengan baik. Dan semoga permainan yang kamu suguhkan, bisa membuat istrimu terkesan dan tentunya semoga kamu bisa memuaskan Istrimu." ucap Tuan Arley.
Adisha langsung mengatupkan mulutnya, dia baru tahu jika suaminya sangat lah me*sum. Baik dalam perkataan, ataupun perbuatan.
"Insya Allah, Om. Kalau untuk yang satu itu, aku pasti bisa. Kalau Antena punyaku sudah berdiri tegak, pasti bisa menuntunnya ke arah yang benar." ucap Devano.
Eliza yang mendengar penuturan suaminya, langsung tertunduk malu. Sedangkan orang-orang yang mendengarnya, langsung tertawa.
Saat orang-orang dewasa sedang asyik mengucapkan kata selamat kepada Devano, tiba-tiba saja ada menarik-narik jas yang dipakai oleh Tuan Arley.
Ternyata pelakunya adalah Adam, Tuan Arley pun langsung menggendong, cucu kesayangannya itu.
"Ada apa, Boy?"
"Tadi Grandpa bilang, Om Devan harus bermain dengan bagus agar Aunty Elisa terkesan dengan permainan Om Devan. Memangnya kalau orang dewasa malam-malam suka bermain apa, Grandpa?"
Tuan Arley langsung diam seribu bahasa, dia benar-benar tak menyangka, jika cucunya akan bertanya seperti itu.
Adisha yang melihat raut wajah suaminya, langsung menjawab pertanyaan Adam.
"Bermain ponsel, Sayang." jawab Adisha asal.
"Tapi, Nini. Kenapa harus memuaskan istri?" tanya Adam.
Semua yang ada di sana saling pandang, mereka sedang mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Adam.
"Bermain dengan ponsel. karena sedang mengejar target usaha, kalau berhasil dan menghasilkan uang banyak, Istri pasti akan senang." jawab Arkana.
Jawaban Arkana nampak masuk akal, Adam pun langsung manggut-manggut karena percaya.
...****************...
Pukul tiga sore, acara pun sudah selsai. Semua tamu yang hadir di sana, nampak mulai berpamitan. Rumah Devano yang awalnya terliha ramai, kini sepi kembali. Hanya ada beberapa pekerja, yang sedang sibuk merapikan semua barang-barang yang ada di sana.
Sedangkan Devano, langsung menuntun Eliza menuju kamar utama. Saat tiba di kamar, Devano langsung membantu Eliza untuk membuka gaun pengantin milik Eliza.
Eliza tampak malu-malu, walau bagaimana pun juga, ini adalah yang pertama untuknya dan juga untuk Devano. Pertama dalam satu ruangan, dengan gelar sebagai suami istri.
"Mau mandi bareng?" tawar Devano.
"Ngga ah, malu." jawab Eliza.
Melihat Raut wajah Devano, Eliza jadi merasa kasihan. Akhirnya, walaupun malu, Eliza pun menyetujui keinginan suaminya.
"I--iya, boleh." jawab Eliza.
Tanpa banyak bicara, Devano langsung menggendong Eliza. Sampai di kamar mandi, Devano langsung mengisi bathup dengan air hangat.
Setelah siap, Devano langsung mengajak Eliza untuk berendam bersama. Eliza terlihat malu-malu, karma harus berduaan dalam keadaan tak berbusana.
Berbeda dengan Devano, dia terlihat sangat senang. Bahkan, tangannya begitu nakal mengelus area sensitif istrinya.
Eliza terlihat sangat risih dengan kelakuan Devano, terkadang, Eliza menepis tangan Devano.
"Iissh, jangan nakal, Mas." ucap Eliza.
"Aku hanya mengusap tubuhmu dengan sabun, Sayang." ucap Devano beralasan.
"Tapi, semuanya di pegang." keluh Eliza.
"Kan udah halal," ucap Devano.
"Terus, kalau udah halal mau apa memang?"
"Mau, itu. "
"Tuh kan, nakal lagi!! Buruan ah, mandinya. Kita shalat Ashar dulu," ucap Eliza.
"Ah, kamu benar. Tapi, habis Ashar, boleh ya?"
"Iya, Mas Devano yang bawel." ucap Eliza.
Akhirnya Eliza dan Devano, pun segera menyelesaikan mandinya. Setelah selesai, mereka pun mengambil wudhu dan shalat Ashar berjamaah.
Setelah shalat Ashar berjamaah, Devano pun meminta apa yang dia inginkan, dia langsung menggendong istrinya dan merebahkannya di tempat tidur.
Eliza nampak gelisah, dia terlihat beberapa kali merema* kedua tangannya. Sedangkan Devano, dia terlihat begitu semangat untuk segera melepas gelar perjakanya.
Devano mulai mendekatkan wajahnya, dia pun mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Eliza yang awalnya terlihat gugup, kini mulai terhanyut dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.
Dengan gerak tangan yang masih terlihat amatiran, Devano mulai mengusap daerah sensitif istrinya. Eliza nampak menikmatinya, dia bahkan tak sadar jika Devano sudah membuka semua kain yang menutupi tubuh mereka.
Hingga tiba saat penyatuan negara, Eliza nampak kesakitan. Untuk sejenak, Devano menghentikan aksinya.
"Sakit?"
Eliza nampak menganggukan kepalanya tanda mengiyakan, Devano pun jadi tak tega untuk melanjutkan.
"Udahan aja?"
Eliza memang merasa sakit di area intinya, tapi melihat Devano yang terlihat sangat menginginkannya, Eliza pun memperbolehkan Devano untuk melanjutkan keinginannya.
"Lanjutin aja, Mas. Aku tahu, Mas nya pengen banget."
"Kamu memang sangat pengertian, Sayang." ucap Devano.
Devano pun memulai kembali aktivitas yang sempat tertunda, Devano mulai mencium kembali bibir istriya. Setelah melihat Eliza yang terlihat lebih rileks, Devano mulai mengayunkan pinggulnya.
Tapi, baru saja Devano memejamkan matanya. Eliza nampak menjerit kesakitan, Devano panik. Devano langsung bangun dan melepas penyatuannya.
"Kenapa, Sayang? Apa sakit banget?" tanya Devano panik.
"Kaki aku, Mas. Kaki aku keram," keluh Eliza.
Devano langsung berlari ke kamar mandi, dia mengambil gayung dan mengisinya dengan air hangat. Devano mengelap kaki Eliza dengan air hangat, agar peredaran darahnya kembali normal.
"Sakit ya? "
"Iya, Mas. Sakit banget, maaf." sesal Eliza.
"Lalu, bagaiman nasibnya?" ucap Devano seraya melihat miliknya yang masih berdiri tegak.
"Maaf," ucap Eliza.
"Ya ampun, Sayang. Baru juga bilang Assalamualaikum, udah di larang masuk." ucap Devano.