Who Is Adam?

Who Is Adam?
Seperti Sepasang Kekasih



Adam sudah mulai melajukan mobilnya, Sisil dengan setia duduk di samping Adam. Sisil terlihat sangat gugup, tangannya terlihat memilin ujung kaos yang dia kenakan.


Sesekali Adam melirik ke arah Sisil, dia merasa lucu saat melihat wajah Sisil yang nampak gelisah. Bahkan dahinya pun mulai berkeringat, padahal Ac mobil sudah menyala.


Adam menepikan mobilnya, dia mengambil tisu dan mengelap dahi Sisil yang sudah dipenuhi oleh keringat. Sisil yang tak enak hati pun langsung memegang tangan Adam, lalu mengambil tisu yang Adam pegang.


"Saya bisa sendiri, Tuan." Sisil nampak mengelap sendiri keringatnya.


Adam pun langsung menjukan kembali mobilnya, dia kembali fokus untuk menyetir.


"Kenapa?" tanya Adam.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya gugup dan... takut." Sisil berucap dengan pelan.


"Takut kenapa?" tanya Adam penasaran.


"Saya takut, kalau kaki saya tidak akan bisa kembali normal." Jawab Sisil.


Dia menjawab sesuai dengan apa yang dia pikirkan, kakinya sudah sangat lama seperti itu. Apa mungkin bisa sembuh? hanya itu yang terlintas di dalam pikirannya.


"Jangan takut, manusia wajib berusaha dan berdo'a. Untuk hasilnya, kita serahkan pada sang pencipta." Adam berusaha menyemangati Sisil.


Dia tahu, pasti tak akan mudah untuk Sisil.


"Tuan, benar." Sisil pun terlihat menyunggingkan senyuman yang sangat manis, dia merasa mendapatkan penyemangat dari ucapam Adam.


Sampai di Klinik, Adam langsung mengajak Sisil untuk bertemu dengan Dokter Rizal. Sisil pun menurut, dia berjalan di belakang Adam.


Adam yang merasa tak suka pun langsung menautkan tangannya, agar Sisil bisa berjalan beriringan dengannya.


Sisil sempat ingin berontak. Tapi, saat tangan mereka bertautan. Ada rasa nyaman yang menyeruak ke dalam hati Sisil. Sisil pun tersenyum, sambil menatap Adam.


"Kenapa?" tanya Adam.


Sisil yang tertangkap basah sedang menatap Adam pun, langsung salah tingkah.


"Ngga apa-apa, Tuan." Sisil langsung menunduk, dia tak berani lagi menatap wajah Adam.


Adam pun langsung terkekeh melihat kelakuan Sisil, entah kenapa, dia menyukai sifat Sisil yang pemalu, lebih banyak diam dan selalu terlihat tegar.


Sampai di depan ruangan Dokter Rizal, Adam pun langsung mengetuk pintu ruangan tersebut. setelah mendapat sahutan dari Dokter Rizal, Adam dan Sisil pun langsung masuk kedalam ruangan tersebut.


Setelah masuk, Dokter Rizal pun mempersilahkan Adam dan Sisil untuk duduk. Adam dan Sisi pun langsung menurut.


"Jadi, wanita cantik ini yang Tuan Mahendra, ceritakan kemarin." Ucap Dokter Rizal membuka pembicaraan.


"Yes, Dok. Mahendra pasti sudah menjelaskan semuanya kan, Dok?" tanya Adam.


"Tentu, Tuan. Tuan Mahendra sudah menjelaskannya. Ngomong-ngomong, kalian sangat serasi. Baju yang kalian pakai saja sudah sama. " Dokter Rizal pun tersenyum, saat melihat baju yang mereka kenakan.


Adam dan Sisil pun langsung melihat baju yang mereka pakai, ternyata benar apa yang di katakan oleh Dokter Rizal.


Adam dan Sisil sama-sama memakai baju berwarna merah marun dan celana jeans berwarna hitam. Bedanya, Adam memakai kemeja sedangkan Sisil. memakai kaos.


"Padahal., kita ngga janjian." Kata Adam.


"Sudah satu hati, Kayaknya." Dokter Rizal menimpali.


Adam dan Dokter Rizal pun langsung tertawa, sedangkan Sisil nampak senyum malu-malu.


"Baiklah, Nona Sisil. Bolehkah saya bertanya?" tanya Dokter Rizal.


"Boleh, Dok." Jawab Sisil.


"Sejak kapan kaki anda seperti ini?" tanya Dokter Rizal.


"Sejak umur saya lima tahun, Dok." Jawab Sisil.


"Apakah anda pernah berobat?"


"Pernah, Dok. Tapi tak lama, karena keterbatasan biaya. Awalnya saya tidak bisa berjalan, tetapi setelah melakukan beberapa kali terapi. Bisa berjalan, walaupun--"


Sisil tak melanjutkan ucapannya, dia hanya menggedikan kedua bahunya sambil memandang kaki kirinya.


"Kecelakaan mobil, Dok. Kaki kiri saya terhimpit body mobil," ucap Sisil tertunduk lesu.


Saat Sisil menceritakan semuanya, Adam jadi teringat akan Pricilia. Tapi, tak mungkin Sisil adalah Pricilia, pikirnya.


"Aku jadi mengingat Pricilia, gadis kecil tegar yang membuat aku kagum padanya." Batin Adam.


Adam terus saja memandang wajah Sisil, dia merasa tak suka saat melihat gadis itu terlihat lemah saat menceritakan tentang kondisi kakinya.


Adam langsung menggenggam jemari Sisil, dia seolah berkata 'kamu harus kuat, kamu pasti bisa'.


Sisil pun melihat ke arah Adam, lalu tersenyum dengan sangat manis.


"Baiklah, kalau begitu. Silahkan, Nona berbaring di ranjang pasien." Pinta Dokter Rizal.


Adam dan Sisil langsung bangun, dengan perlahan Sisil merebahkan tubuhnya di ranjang pasien. Sedangkan tangan Adam, tak hentinya menggenggam tangan Sisil.


"Maaf ya, Nona. Kakinya saya periksa dulu," ucap Dokter Rizal.


Dokter Rizal pun, langsung memeriksa kaki kiri Sisil. Dia memperhatikan kaki Sisil dengan seksama, sesekali dia terlihat menggoyangkan kaki Sisil.


"Kondisi kaki Nona, sangat bagus. Hanya butuh beberapa kali terapi, kaki Nona bisa sembuh kembali." Dokter Rizal nampak mengusap kaki Sisil menggunakan cairan basah yang terlihat lengket dan berminyak.


Mendengar ucapan Dokter Rizal, baik Adam ataupun Sisil terlihat senang. Bahkan Adam, langsung menepuk-nepuk pundak Sisil.


"Selamat ya, Sil. Kamu bentaran lagi bakal sembuh," ucap Adam.


"Terima kasih, Tuan." Sisil tersenyum dengan sangat manis.


Dalam hatinya, sungguh Sisil mengucap banyak syukur. Dia sangat senang karena akhirnya dia bisa kembali normal, tentunya tidak akan ada lagi yang akan menghinanya.


"Lalu, berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan agar bisa kembali normal?" tanya Adam.


"Sekitar dua bulan, saya harap Nona Sisil rutin datang tiap minggu." Dokter Rizal kembali mengusap dan sedikit memijat kaki Sisil.


Sisil nampak meringis, bahkan Adam bisa merasakannya saat genggaman tangannya terasa lebih kuat.


"Sakit?" tanya Adam.


Sisil terlihat menganggukan kepalanya," lumayan."


Dokter Rizal nampak tersenyum," anda memang wanita kuat, Nona. Biasanya kalau sudah terapi seperti ini, banyak yang suka berteriak-teriak karena kesakitan. Bahkan ada yang sampai nendang atau menjambak rambut saya."


Dokter Rizal pun nampak tersenyum, kala mengingat pasien-pasiennya yang terlalu barbar saat melakukan terapi.


Adam pun tersenyum mendengar penuturan Dokter Rizal, menurut Adam pun sama. Jika Sisil merupakan wanita kuat, pantang menyerah dan selalu pandai menyembunyikannya lukanya.


Hampir satu jam Sisil melakukan terapi, Setelah selsai. Dokter Rizal pun meminta Sisil untuk mencoba menggerakan kakinya.


"Bagaimana?" tanya Dokter Rizal.


"Terasa lebih ringan, Dok." Jawab Sisil sambil tersenyum.


Adam dan Dokter Rizal pun nampak tersenyum lega.


"Alhamdulillah," ucap syukur Adam.


"Terima kasih," ucap Sisil tulus.


"Sama-sama, " jawab Adam.


Selesai melakukan terapi, Adam kembali mengajak Sisil pulang. Dia tahu jika setelah melakukan terapi, Sisil harus istirahat. Agar kakinya bisa cepat sembuh.


"Aku pulang dulu, kamu langsung istirahat." Pamit Adam.


"Siap, Tuan. Terima kasih," lagi-lagi Sisil mengucapkan terima kasih kepada Adam.


"Sama-sama," jawab Adam seraya mengacak pelan puncak rambut Sisil.


Sisil hanya bisa tertegun mendapat perlakuan manis dari Adam.