Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kesialan Reinata



Tak lama kemudian, Reinata nampak memegang perutnya.


"Aduh! Kenapa perutku sakit sekali? Rasanya sangat mulas," keluh Reinata.


Adam dan Gracia langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, mereka tahu jika obat pencahar tersebut kini mulai bereaksi.


"Toilet, mana toiletnya?!" tanya Reinata setengah membentak.


Gracia pun dengan sigap mengajak Reinata untuk keluar dari ruangan Adam, lalu dia menunjukkan toilet yang tak jauh dari ruangan Adam.


"Ya Tuhan! Perutku sakit sekali," gerutu Reinata sebelum masuk kedalam toilet.


Setelah Reinata masuk ke dalam toilet, Gracia nampak tertawa dengan terbahak-bahak. Dia merasa lucu dengan tingkah Reinata yang terlihat kesakitan dan juga mulas secara bersamaan.


"Lagian siapa juga yang nyuruh buat minum teh hangat buatan aku, Itu kan buat Tuan Adam." Gracia kembali tertawa dengan terbahak-bahak.


"Sudah, jangan menertawakan orang lain. Sekarang bagaimana nasibku?" tanya Adam.


Gracia pun nampak menghentikan tawanya, dia terlihat mengelus perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Begini saja, Tuan. Tuan jangan minum obat pencahar yang tadi, sepertinya efek obatnya terlalu kuat. Bagaimana kalau Tuan memakai obat pencahar yang langsung dimasukkan ke dalam anu* saja?" tanya Gracia.


Mendengar ucapan Gracia, dahi Adam terlihat berkerut. Sepertinya dia baru mendengar obat yang bisa dimasukkan lewat belakang.


"Memangnya ada ya, obat yang seperti itu?" tanya Adam.


"Ada, Tuan. Saya rasa itu lebih aman, karena tidak melalui mulut dan pencernaan," kata Gracia.


Adam terlihat berpikir dan menimang-nimang, lalu kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Mana benda itu?" tanya Adam.


"Sebentar, Tuan. Akan saya ambilkan," ucap Gracia.


Gracia terlihat berlari ke dalam ruangannya, tak lama kemudian dia pun datang dengan membawa obat yang dibutuhkan oleh Adam.


Gracia lalu memberikan obat pencahar tersebut, dengan cepat Adam pun menerima obat tersebut dari tangan Gracia.


"Kecil sekali obatnya, kenapa cuma segede ibu jari?" tanya Adam.


"Kecil-kecil begini banyak manfaatnya, Tuan," ucap Gracia.


"Lalu, bagaimana cara pemakaiannya?" tanya Adam.


"Tuan tinggal buka saja tuturnya, terus masukkan lewat belakang. Lalu, tekan biar habis semua obatnya," ucap Gracia.


Sebenarnya dia merasa jijik kala mendengarkan penjelasan dari Gracia, namun dari pada tidak bisa buang air, dia pun akhirnya memutuskan untuk mencobanya.


Gracia pun langsung menganggukkan kepalanya, sedangkan Adam langsung berjalan dan masuk ke dalam ruangannya.


Tak lama kemudian, Gracia melihat Reinata yang baru saja keluar dari toilet. Dia terlihat memegangi perutnya, karena merasa kesakitan.


"Sialan! Sebenarnya pagi ini aku sarapan apa? Kenapa perutku sangat sakit sekali?" umpat Reinata.


Reinata terlihat ingin menghampiri Gracia, namun kembali perutnya terasa sakit dan mulas. Reinata pun langsung segera kembali menuju toilet, melihat hal itu Gracia pun merasa tak tega.


Akhirnya, dia pun segera pergi ke pantry untuk membuatkan teh pahit untuk Reinata.


"Dasar orang aneh, sudah dibilang jangan suka datang ke perusahaan Caldwell. Masih saja bandel, Rasain tuh akibatnya!"


Walaupun Gracia terlihat mengatai Reinata, namun dia tetap ke pantry dan membuatkan teh pahit untuk Reinata. Setelah selesai, dia pun langsung menghampiri Reinata yang baru saja keluar dari dalam toilet.


"Nona, lebih baik anda ke ruanganku saja. Aku sudah membuatkan teh Pait untukmu," kata Gracia.


Reinata nampak memicingkan matanya, kemudian dia pun berkata dengan sangat sinis.


"Jangan bilang kamu mau meracuni aku?" tanya Reinata.


"Tidak, Nona. Ini teh pahit untuk meredakan rasa mulas di perut anda," ucap Gracia.


"Baiklah, awas saja kalau kamu meracuni aku. Aku akan melaporkan kamu kepada polisi," ucap Reinata.


"Ya, Ya, Ya. Terserah apa pun maumu, Nona," ucap Gracia.


Mendengar ucapan Gracia, Reinata pun mulai berjalan menghampiri dirinya dengan tertatih. Karena melihat Reinata yang kesusahan saat berjalan, Gracia pun memutuskan untuk memapah Reinata untuk masuk ke dalam ruangannya.


Setelah masuk ke dalam ruangannya, dia pun langsung menuntun Reinata untuk duduk diatas sofa. Leo hanya menatap Gracia dan Reinata dalam diam.


"Silakan diminum, Nona, teh pahitnya. Saya akan bekerja dulu," ucap Gracia.


Gracia lalu menyerahkan teh hangat tersebut kepada Reinata, Reinata pun dengan cepat menerima teh hangat tersebut.


Lalu, dengan perlahan dia pun menyesap teh buatan Gracia. Saat air teh tersebut masuk ke dalam mulut Reinata, rasa pahit dan panas langsung menyebar dan tak lama kemudian.


Byur!


Reinata nampak menyemburkan air teh tersebut, Leo dan Gracia terlihat sangat kaget melihatnya.


"Ya Tuhan!" ucap Gracia dan Leo secara bersamaan.


Reinata hanya tersenyum kikuk sambil menyimpan cangkir tehnya, beruntung tidak ada berkas penting di sana. Kalau ada, sudah dapat dipastikan semuanya akan kacau balau.