Who Is Adam?

Who Is Adam?
Buka-bukaan



Acara resepsi pernikahan kini telah usai, Adam yang tak sabar pun langsung mengajak Sisil ke kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh Tuan Arley di hotel berbintang tersebut.


Tentunya, Tuan Arley memesan kamar pengantin yang paling mewah dan paling nyaman. Karena dia ingin membuat Adam dan Sisil merasa nyaman, saat pertama kali melakukannya.


"Sayang, Mas mandi dulu." Kata Adam yang merasa tubuhnya terasa sangat tak nyaman setelah seharian berdiri menyambut tamu undangan.


"Iya, Mas." Sisil langsung menganggukan kepalanya lalu duduk di depan meja rias.


Adam langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Sisil langsung membersihkan make-up yang terasa begitu berat di wajahnya.


Padahal dia hanya memakai riasan tipis, akan tetapi karena tak terbiasa dia pun merasa tak nyaman. Dengan telaten dia mengusap wajahnya hingga bersih dari make up yang terpoles di wajahnya sampai ke leher jenjangnya.


"Selesai, tinggal buka riasan kepala sama ganti baju." Sisil mulai membuka riasan-riasan yang bertengger cantik di atas kepalanya.


Dia juga mulai merapikan rambutnya yang terasa kaku setelah semua riasan sudah turun dari atas kepalanya.


"Aaah... rasanya kepalaku lebih ringan." Sisil lalu berusaha untuk menyisir rambutnya, namun terasa susah.


Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengunci asal rambutnya, karena sepertinya dia harus keramas terlebih dahulu agar rambutnya busa kembali rapih.


"Sayang..." panggil Adam yang langsung memeluk Sisil sambil mengecupi pundak mulus istrinya.


"Mas! Kenapa ngga pake baju?" tanya Sisil.


"Percuma, Yang. Entar juga di buka," jawab adam enteng.


"Tapi aku risih lihatnya," Sisil memperhatikan pantulan tubuh Adam dari cermin.


Tubuh Adam terlihat begitu atletis, otot-otot tangannya terlihat begitu menggoda. Bahkan di perut Adam terlihat tonjolan indah, tetapi bukan lemak.


"Udah ngga usah banyak omong, sekarang Mas bantu buka bajunya ya?" tawar Adam.


Tanpa aba-aba Adam langsung membuka kancing belakang gaun pengantin yang dipakai oleh Sisil, tangan Adam begitu terampil kalau urusan buka-bukaan.


Setelah terbuka semua, Adam dengan sengaja menjatuhkan gaun pengantin Sisil yang masih tersangkut di pundaknya.


"Mas!" protes Sisil saat gaun pengantinnya kini sudah lolos sampai sebatas pinggang.


"Apa?" tanya Adam yang langsung mengangkat tubuh Sisil ke atas meja rias.


Adam menurunkan gaun pengantin Sisil hingga menyisakan dalaman saja, hal itu membuat Adam berdecak kagum. Karena dia bisa melihat tubuh Sisil yang sangt indah, bodynya terlihat sempurna.


Kulit Sisil yang berwarna seputih susu dengan puncak dada yang terlihat membusung membuat Adam tak bisa mengendalikan dirinya.


Dia langsung menyambar bibir mungil Sisil dan menautkan dengan bibirnya, rasa penasaran akan manis alami bibir Sisil kini telah terobati.


Tangan kanannya secara alami bergerak turun mengusap puncak kanan dada istrinya, sedangkan tangan kirinya begitu lembut mengusap pundak Sisil.


Hal itu membuat tubuh Sisil meremang seketika, Sisil sampai memejamkan matanya dengan kuat saat merasakan sensasi geli dan nikmat yang baru saja dia rasakan.


Tangan Adam yang sedari tadi membelai puncak dada istrinya, kini mulai turun mengusap hal yang membuatnya merasa penasaran.


Tangan Sisil dengan cepat mencekalnya, dia belum mandi. Rasanya tak enak hati, jika Adam akan mencium bau tak sedap dari tubuhnya.


Padahal ini yah, yang Othor tahu. Orang yang lagi jatuh cinta itu tak mengingat bau badan, yang di ingat hanya bentuk badan dan penasaran akan rasanya.


Sisil yang masih awam, malah takut Adam kabauan. Hellow,,,, tante Othor kasih tahu ya Sil, bau badan juga udah sedep aja buat pujaan hati mah. Orang bangun tidur aja, napas bau naga aja dikata sedep.


Adam terlihat kecewa, padahal tanpa mandi pun tak masalah untuknya. Mengingat si imin sudah menegang dari tadi, dia sudah sangat penasaran ingin bertemu dan menetap di sarangnya. Bukan hanya untuk di sembunyikan di balik boxer nya.


"Sekarang aja, Yang?" tawar Adam.


"Akunya bau, mandi dulu. Biar lebih segar juga," tawar Sisil lagi.


"Oke, jawab Adam pasrah.


Adam langsung menggendong Sisil, dia memperlakukan Sisil bak anak koala. Sisil seolah tak perduli, dia malah memeluk leher Adam dengan erat.


Adam membawa Sisil ke kamar mandi, lalu dia membantu Sisil merendam tubuhnya di dalam bathup dengan air hangat.


Sisil awalnya sempat risih saat Adam membantu menggosok punggungnya, apa lagi saat Adam mengusap lembut puncak dadanya.


Rasanya milik Sisil ikut berdenyut, dia seperti menginginkan sesuatu yang lebih dari itu. Adam bahkan dengan telaten memijat kepala Sisil setelah memberikan sampo terlebih dahulu.


Sisil benar-benar merasa dimanjakan oleh Adam, dua puluh menit kemudian. Sisil sudah selesai dengan acara mandinya, Adam kembali menggendongnya.


Mendudukan Sisil di tepi ranjang dan membantu Sisil mengeringkan rambut dan juga tubuhnya. Sesekali dia mengecup lembut leher istrinya.


"Beneran wangi, Yang. Aku jadi tambah ngga sabar," ucap Adam.


Hal itu membuat Sisil tersipu malu, sejak tadi Adam selalu saja mengungkit hal itu. Membuat Sisil salah tingkah dibuatnya


Apa lagi saat Sisil membayangkan apa yang akan Adam lakukan terhadapnya, membuat wajah Sisil benar-benar bersemu.


Adam mulai merebahkan tubuh istrinya, dia mulai mengecupi setiap inci wajah istrinya. Sisil tersenyum lalu mengusap lembut pipi Adam.


"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan dalam hidupku, terima kasih sudah menerima aku yang serba kurang ini." Ucap Sisil tulus.


"Mas, juga mau ngucapin terima kasih. Karena kamu sudah mau menikah sama Mas, lelaki yang terkadang tak sabar dengan apa yang diinginkan." Kata Adam seraya terkekeh.


Sisil terlihat menganggukan kepalanya, dia langsung menarik wajah Adam agar lebih mendekat lalu menautkan bibirnya.


Adam sempat melotot kaget dengan apa yang dilakukan oleh Sisil, tapi beberapa detik kemudian. Dia menutup matanya dan menikmati suguhan menu pembuka yang Sisil berikan.


Jujur Adam sudah tak sabar untuk merasakan kelembutan milik istrinya, akan tetapi menurut artikel yang Adam baca. Saat pertama kali melakukannya akan terasa sangat sakit untuk pasangannya.


Saat miliknya masuk, kelembutan milik Sisil akan terasa sangat sakit karena adanya dorongan kuat yang membuat selaput daranya sobek.


"Harus sabar, harus pelan, harus membuat Sisil merasa nyaman. Ingat Adam, jangan terburu." Adam terus saja mensugesti dirinya.


Setelah serangkaian acara pemanasan dilakukan, dengan perlahan Adam memasukan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya.


Sisil sempat memekik, dia terlihat sangat kesakitan. Bahkan Adam sempat mencabut miliknya, akan tetapi... Adam merasa sedikit kecewa. Karena dia tak menemukan noda darah pada milik Sisil.


+


+


Hai Hai Hai,,, karya Othor yang baru sudah mulai bisa di baca hari minggu ya...


Jangan lupa mampir, kalau respon kalian baik akan aku lanjutkan. Kalau ngga ada respon, mungkin akan aku bawa ke sebrang. 🙏🙏🙏🙏