
Selepas shalat subuh Gracia langsung mengambil kemeja dan juga jas milik Mahendra yang sudah dia cuci, kemudian dia pun menyetrikanya dan menyemprotkannya dengan pewangi pakaian.
"Hem, wangi." Gracia terlihat mengendus pakaian Mahendra yang terlihat sudah rapi dan juga wangi.
Setelah melipatnya dengan benar, Gracia pun langsung memasukkan baju dan jas milik Mahendra ke dalam paper bag.
Tak lupa dia pun membawa baju yang akan dia simpan di tempat kerjanya, tentunya sebagai cadangan agar dia tak perlu memakai baju Mahendra seperti kemarin, saat dia membutuhkan baju ganti.
"Sudah siap, sekarang saatnya aku memasak sebelum pergi ke kantor," ucap Gracia.
Gracia pun terlihat keluar dari dalam kamarnya, kemudian dia pun melangkahkan kakinya menuju dapur.
Saat tiba di dapur, ternyata Ibu Naura sedang menata makanan di atas meja. Gracia pun tersenyum, lalu dia menghampiri Ibunya dan mengelus lembut pundak ibunya.
Kini Ibu Naura sudah terlihat sangat sehat, badannya pun lebih terawat. Wajahnya pun bahkan kini terlihat lebih glowing, karena setiap satu minggu sekali Mom Maura akan mengajaknya untuk perawatan ke salon.
Ibu Naura kini sudah berpenampilan lebih baik setelah bertemu dengan kakak kandungnya, bahkan Mom Maura pun memberikan hak Ibu Naura yang sempat dia kelola.
Tentu itu semua karena Ibu Naura yang pergi meninggalkan keluarganya, sebenarnya Ibu Naura mempunyai saham di dalam perusahaan milik Leo.
Namun, dia lebih memilih untuk meminta tolong kepada Leo dalam mengelola saham bagiannya.
Karena menurutnya, walaupun Gracia turun tangan, namun dia belum berpengalaman. Gracia masih membutuhkan pengalaman yang bagus sebelum dia mengelola usahanya sendiri.
"Ibu sudah masak?" tanya Gracia.
Ibu Naura nampak menggelengkan kepalanya, kemudian dia tersenyum dan mengajak Gracia untuk duduk bersama dengan dirinya.
"Makanan ini adalah kiriman dari Tante kamu, Sayang," kata Ibu Naura.
"Ya ampun, Tante selalu saja bersikap sangat baik. Hal itu membuatku merasa tidak enak hati, Bu," kata Gracia.
"Ibu pun sama, Sayang. Namun, tante kamu itu memang sangat baik. Apa lagi kami sudah lama tak bertemu, mungkin ini adalah bentuk kasih sayang-nya terhadap ibu dan juga kamu."
Ibu Naura terlihat memeluk Gracia dan mengecup puncak kepalanya.
"Semoga kamu tidak seperti ibu yang rela meninggalkan keluarga demi lelaki brengsek seperti ayah kamu," kata Bu Naura.
"Aamiin," kata Gracia.
Setelah terjadi obrolan ringan di antara anak dan ibu tersebut, akhirnya mereka pun memutuskan untuk sarapan bersama.
Sesekali mereka terlihat tertawa dan bercanda, Gracia terlihat sangat bahagia. Walaupun tanpa ada sosok ayah di sampingnya, namun dia bersyukur karena Ibu Naura bisa menjadi ayah dan juga Ibu sekaligus untuk dirinya.
" Aku sudah selesai, Bu. Aku bersiap dulu," pamit Gracia setelah dia mencuci piring bekas mereka sarapan.
"Ya, besiaplah." Bu Naura tersenyum hangat pada putrinya.
Gracia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dia segera mengambil kemeja dan juga rok yang biasa dia pakai untuk bekerja.
'Aku hanya ingin bilang, mukai besok pakailah celana panjang. Jangan memakai rok sependek itu, karena kamu terlihat kesusahan saat menaiki motor.'
"Ck! Kenapa aku malah mengingat kulkas enam belas pintu itu? Lagi pula siapa dia? Kenapa berani sekali mengaturku?"
Gracia pun tak memedulikan perkataan dari Mahendra, dia tetap memakai rok sepan di atas lutut dan kemeja panjang kesukaannya.
Setelah selesai memakai bajunya, Gracia nampak mematut wajahnya di depan cermin. Rambutnya dia gelung, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Tak lupa dia pun memakai high heels, berwarna hitam yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang.
"Sudah selesai," ucap Gracia.
Dia langsung mengambil tas dan juga dua paper bag yang sudah dia siapkan untuk dia bawa menuju kantor, tak lupa sebelum pergi dia pun berpamitan dahulu kepada Ibu Naura.
"Aku berangkat!" pamit Gracia seraya mengecup kening Ibu Naura.
Ibu Naura terlihat tersenyum lalu dia mengusap lembut punggung putrinya.
"Hati-hati," ucapnya lembut.
Gracia tersenyum, lalu dia pun segera pergi menuju kantor tempat dia mengais rezeky dan juga memperdalam ilmu dalam berbisnis.
Tiba di perusahaan Callweld, dia pun langsung memarkirkan motornya. Kemudian, dia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke perusahaan Caldwell.
Mahendra yang baru saja datang, terlihat menatap tungkai kaki Gracia yang begitu indah saat menggunakan high heels.
Tak lama kemudian, dia terlihat menggelengkan kepalanya. Lalu, Mahendra menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil memperhatikan Gracia.
Baru saja Gracia melangkahkan kakinya untuk masuk ke loby, tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada seoarang OB yang berjalan dengan tergesa sambil membawa bungkusan di tangannya.
OB tersebut pun nampak menabrak tubuh Gracia, Gracia terlihat mencari pegangan agar tidak jatuh. Sayangnya karena rok yang dia pakai terlalu ketat, membuat dia tak bisa bergerak bebas.
Gracia dan juga OB tersebut pun akhirnya jatuh terjengkang.
Brewek !
Gracia nampak jatuh terduduk dengan rok span yang dia pakai sudah robek di bagian belakang, Gracia nampk membulatkan matanya.
Dia bingung sekarang harus apa, dia hanya bisa duduk sambil menatap OB yang tadi menabraknya dengan tatapan kesal.
"Maafkan saya, Nona." Dia terlihat ketakutan sambil menunduk.
"Sudah ku bilang jangan memakai rok," kata Mahendra yang ternyata sudah berada di belakang Gracia.
Mahendra terlihat membuka jasnya, dia pun mengikatkan jas tersebut di pinggang Gracia. Setelah itu, dia langsung pergi melangkahkan kakinya menuju ruangannya.