
Kini, di rumah Arkana terlihat sangat ramai. Bukan tanpa alasan, ini karena Laila yang telah mengandung. Jadi semua anggota keluarga, memutuskan untuk berkumpul di rumah Arkana untuk makan bersama.
Bermaksud untuk mengucap syukur atas kebaikan yang tuhan berikan, memberikan kabar bahagia lewat akan bertambahnya anggota baru.
Mereka merasa harus merayakan kabar bahagia ini, walaupun keadaan Laila tidak benar-benar baik. Tapi mereka tetap bersyukur, karena Laila hanya mendapatkan beberapa luka di bagian tangan dan kakinya saja.
Mereka juga sangat bersyukur, karena bayi yang berada di kandungan Laila, berkembang dengan sangat baik dan sehat.
Nyonya Alina, Adisha dan juga seorang asisten rumah tangga bertugas untuk memasak berbagai macam masakan untuk makan siang mereka.
Sedangkan para pria, bertugas untuk memotong buah-buahan. Karena Laila ingin dibuatkan rujak buah, Laila juga ingin dibuatkan sop buah.
Wanita itu benar-benar ingin memakan banyak buah, bahkan Laila meminta dibuatkan salad buah kepada Eliza.
Demi wanita yang sedang hamil muda itu, semua orang rela mengerjakan titah dari Laila. Bahkan Arkana, sudah berjanji akan menuruti apa pun permintaan Laila.
Hal ini sengaja dia lakukan untuk menebus semua kesalahan yang dia lakukan di masa lalu, Arkana merasa sangat bersalah karena di kehamilan pertama Laila, Arkana tak berada di samping Laila.
Bahkan Arkana sudah bisa menebak, jika pada kehamilan pertamanya, Laila pasti sangat menderita. Arkana sendiri bisa merasakan, betapa menderitanya saat mengalami mual dan muntah.
Hanya karena mencium bau yang menurut orang normal, biasa saja. Tapi menurut wanita hamil, itu membuatnya sangat mual dan memyebabkan ingin sekali muntah.
Walaupun terasa menyiksa, tapi Arkana merasa bersyukur. Karena bisa menggantikan Laila, dalam mengalami mual dan muntah saat di pagi hari.
Arkana sangat yakin, jika Laila dulu pasti lebih menderita. Menghadapi masa kehamilannya sendirian, tanpa adanya dukungan dari orang terdekat atau pun orang terkasih.
Yang ada, hanya hujatan dan cibiran yang pasti di terima oleh Laila. Mengandung dalam keadaan tanpa suami, itu pasti sangat menyedihkan.
Di saat yang lain sedang sibuk, Laila malah duduk anteng di ruang keluarga sambil menonton tv. Wanita itu, sengaja di biarkan untuk beristirahat.
Mereka takut, jika Laila masih syok karena kejadian tadi pagi yang menimpanya.
Saat Laila sedang asyik duduk sambil menonton TV, Arkana pun datang menghampirinya. Dia duduk di samping Laila, sambil memeluk wanita itu dan mengelus lembut puncak kepala Laila.
"Apa kamu senang, Sayang?" tanya Arkana.
"Sangat, terimakasih." ucap Laila tulus.
"Aku yang harusnya berterimakasih, karena kamu adalah wanita kuat yang selalu membuat aku bahagia. Aku juga minta maaf, karena waktu kamu mengandung Adam, aku tak bisa menemani kamu, Sayang." ucap Arkana.
" Tidak apa-apa, Sayang. Itu adalah masa lalu, hal pahit yang harus dilupakan. Kini kita harus fokus ke masa depan, menata kehidupan yang baru agar mempunyai kehidupan yang lebih baik lagi." ucap Laila.
Arkana pun tersenyum, Dia sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Karena saking senangnya, Arkana pun mengecup bibir Laila beberapa kali.
Devano yang melihat kelakuan adiknya pun, langsung menghampirinya. Devano langsung memiting leher Arkana, membuat Arkana mengaduh kesakitan.
"Aduh,, Bang..." rengek Arkana.
"Kamu tuh ya, di saat orang-orang pada sibuk membuat makanan enak buat Laila, kamu malah asik bermesraan. Kalah dah pengantin baru," ucap Devano.
"Apa sih, Bang?! Lepasin ah, Sakit." keluh Arkana.
Devano melepaskan tangannya, kemudian dia duduk di samping Arkana. Sedangkan Arkana malah sengaja memanas-manasi Devano, dia mencium bibir Laila di depan Devano.
Devano langsung terlihat kesal, Devano mengedarkan pandangannya. Dia melihat Eliza, yang sedang mengelap tangannya di ruang makan.
"Yang, sini sebentar." teriak Devano.
Mendengar teriakan Devano, Eliza langsung menghampiri suaminya.
"Ada apa, Mas?" tanya Eliza.
"Mas, malu ih.." ucap Eliza.
"Jangan malu, kita juga bermesraan. Jangan kalah sama pengantin basi," ucap Devano.
Devano mengeratkan pelukannya, sedangkan Arkana malah terkikik geli melihat tingkah Abangnya.
"Udah ah, kita ke ruang makan saja. Aku lihat semuanya sudah mulai rapih," ajak Laila.
Laila dan Arkana langsung berdiri, mereka hendak ke ruang makan. Mereka ingin bergabung dengan yang lainnya.
Sedangkan Devano, malah asik menciumi wajah istrinya. Eliza terlihat malu, padahal ini di rumah orang lain, pikir Eliza. Tapi, Devano seakan tak tahu malu.
"Mas, udahan. Malu, Papah liatin kita." Eliza berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya, tapi seakan susah.
"Biarin aja, Sayang." Devano mengelus lembut, perut rata Eliza.
"Apa benih ku sudah mulai tumbuh?" tanya Devano.
"Mas, ngaco. Kita baru menikah satu minggu, mana mungkin langsung bumbu?!" kesal Eliza.
Devano nampak terkekeh, kemudian dia pun berbisik tepat di telinga istrinya.
"Kalau begitu, aku harus bekerja keras. Mulai nanti malam, aku maunya malam dia kali. Terus, bangun tidur juga dua kali." ucapan Devano langsung di sambut pukulan, dari tangan Eliza.
"Jangan macem-macem ya,,, nanti aku bisa pingsan." ucap Eliza.
"Mana ada orang di kasih enak malah pingsan, yang ada... Kamu malah sibuk mende*sah." ucap Devano.
Eliza terlihat kesal, dia berusaha untuk bangun dari pangkuan Devano. Tapi, Devano malah mengeratkan pelukannya. Bahkan bibir Devano, sudah hampir beradu dengan bibir istrinya.
"Om sama Aunty sedang apa?" suara Adam, langsung membuat Devano dan Eliza terkejut.
Eliza langsung bangun dari pangkuan Devano, Dia terlihat begitu malu karena suaminya tidak tahu tempat mengajak dia untuk bermesraan. Dan yang membuat Eliza tambah malu, Kelakuan suaminya itu, di lihat oleh Adam.
Untung Adam datang lebih cepat, kalau terlambat sedikit saja. Adam pasti melihat saat Devano dan Eliza berciuman.
"Boy, sudah pulang." tanya Devano kelagapan.
"Sudah, kok tumben rame banget?" tanya Adam.
"Kamu tahu tidak, Boy? Ada kabar yang pasti akan membuat kamu sangat senang," ucap Devano.
"Apa, Om?" tanya Adam antusias.
"Tanya Ibu, berita bahagia itu, datangnya dari ibu Laila." ucap Devano.
"Benarkah?" tanya Adam.
"Yes, Boy." jawab Devano.
Karena penasaran, Adam langsung berlari menuju ruang makan. Di sana terlihat sangat ramai, Adam pun langsung memeluk ibunya yang sedang berdiri di samping Tuan Seno.
" Ada apa, Sayang? Kenapa pulang-pulang langsung memeluk ibu?" tanya Laila.
" Kata Om Devano, Ibu punya kabar gembira. Kabar apa Bu? Adam penasaran, bilangin Adam Bu." Adam begitu penasaran, dia bahkan sampai menarik-narik tangan Laila.
Laila langsung berjongkok, dia mensejajarkan tinggi badannya dengan Adam. Kemudian, dia pun mengecupi wajah Adam dengan sayang.
"Ibu, hamil. Adam senang?" tanya Laila.