
Adam terlihat tak percaya dengan respon yang diberikan oleh Sisil, dia melihat jika Sisil tak terlihat bahagia dengan apa yang dia ucapkan.
Dia melihat ketidak yakinkan dalam tatapan mata Sisil, nyali Adam langsung menciut. Digenggamnya tangan Sisil, diusapnya dengan lembut.
"Kamu ngga mau nikah sama aku?" tanya Adam.
"Bukannya begitu, hanya saja aku belum mengenal kamu dengan baik. Aku juga hanya wanita biasa, kamu ngga pantes bersanding dengan aku." Ucap Sisil menunduk.
Sisil memang mencintai Adam, Sisil menyukai pribadi Adam yang lembut dan perhatian. Walaupun terkadang dia terlihat dingin, aslinya selalu hangat dan bikin baper.
Hanya saja Sisil merasa tak percaya diri dengan keadaannya, kakinya saja baru sembuh karena Laila yang selalu rajin mengajaknya untuk terapi.
Belum lagi dengan keadaan ekonominya, dia merasa tak pantas bersanding dengan Adam. Sisil merasa ada dinding pembatas antara mereka berdua.
"Jawab Sil!" sentak Adam.
Sisil mengerjapkan matanya berkali-kali, dia tak menyangka jika Adam akan membentaknya. Adam yang melihat rasa takut bercampur kaget di wajah Sisil langsung merasa bersalah.
"Maaf," ucap Adam lirih.
Adam langsung menundukan wajahnya, dia tak menyangka jika respon dari Sisil tak sesuai ekspektasi. Padahal dia menyangka, Sisil akan sangat senang saat dia ajak menikah.
"Maaf, Mas. Bukannya aku ngga mau nikah sama kamu," ucap Sisil. Sisil mulai berucap, dia ingin sekali mengutarakan isi hatinya.
Adam langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Sisil, dia sungguh penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Sisil.
"Lalu?"
Tanya Adam dengan raut penasaran, dia seakan tak sabar menunggu jawaban Sisil.
"Apa tidak terlalu cepat untuk menikah? Kita bahkan belum saling mengenal dengan baik," ucap Sisil mengeluarkan isi hatinya.
"Sil, tak cukupkah penantian ku selama lima belas tahun ini? Aku hanya menunggu dirimu, menunggu waktu yang tepat untuk menemukan kamu." Jelas Adam.
Netra Sisil menatap Adam dengan lekat, dia tahu jika Adam sangat serius dengan ucapannya. Adam terlihat sangat sungguh-sungguh dalam mengungkapkan perasaannya.
"Memangnya ngga boleh ya, kalau kita pacaran dulu?" tanya Sisil.
Tidak bolehkah jika dia ingin mengenal Adam terlebih dahulu, baik dan jeleknya dia seprti apa gitu?
"Aku ngga mau pacaran, maunya langsung nikah aja." Jawab Adam cepat.
Sisil langsung tersenyum, dalam hati Sisil berpikir pasti Adam takut dosa. Makanya tak mau pacaran, maunya langsung nikah saja.
"Memangnya kenapa?" tanya Sisil.
"Pacaran itu ngga enak Sil, enakan langsung nikah saja. Biar bisa tidur bareng, kalau cuma pacaran nambah dosa iya, tidur bareng ngga bisa." Jawab Adam jujur.
Wajah Sisil langsung bersemu, dia langsung menunduk dan dia jadi bertanya-tanya dalam hati, memangnya Adam mau apa kalau mereka tidur bareng?
Adam yang melihat wajah Sisil yang nampak memerah, jadi tersenyum.
"Hayo, kamu lagi ngebayangin apa?" tanya Adam sambil mencuil hidung minimalis milik Sisil.
Sisil langsung mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap Adan.
"Ngga kok, ngga bayangin apa-apa." Jawab Sisil cepat.
Tentu saja Sisil tak mau dianggap berpikiran yang tidak-tidak, walau pada kenyataannya memang benar dia sempat berpikir... gitu deh.
"Jadi, mau kan nikah sama aku?" tanya Adam.
Sisil langsung menganggukan kepalanya, dengan malu-malu dia paun langsung berucap." Mau."
"Yes!" ucap Adam seraya memeluk Sisil.
Sisil terlihat diam saja tanpa berniat membalas pelukan Adam, yang pasti hatinya sangat bahagia. Karena selama ini dia merasa tak berharga, hidupnya sudah hancur semenjak kepergian kedua orang tuanya.
Sisil merasa hidupnya tak berguna, apa lagi dengan kondisi kakinya. Tapi apa ini, dengan mudahnya Adam yang nota bene adalah pengusaha muda nan kaya raya malah mengajaknya menikah dengan mudah.
"Ehm," suara deheman Arkana membuat Adam segera melepaskan pelukannya.
Adam dan Sisil terlihat salah tingkah, karena ternyata Laila, Al dan juga Arkana sudah berada di sana.
Dia bukan tak tahu, hanya saja dia ingin mendengar sendiri apa yang akan di ucapkan oleh Adam.
"Bu, Yah. Adam mau nikahin Sisil, boleh ya?" tanya Adam.
Arkana dan Laila langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Adam.
"Tentu saja boleh, Memangnya siapa yang melarang?" tanya Laila.
Adam terlihat sangat senang dengan jawaban dari bibir Laila, dengan cepat Adam bangun dan memeluk Laila.
"Terima kasih, Bu. Adam mau nikahin Sisil minggu depan, hari minggu di hotel XY." Kata Adam.
Laila dan Arkana hanya bisa tersenyum mendengar penuturan putranya, mereka tahu jika Adam memang sudah terlihat tak sabar ingin segera menikahi Sisil.
Lalila dan Arkana tentu saja setuju, lagi pula lebih cepat menikah lebih baik. Jangan sampai masa lalu kelam Laila akan menurun pada anaknya.
Terlalu bebas dalam pacaran sehingga hamil di luar nikah, Laila tak mau anaknya seperti itu. Walaupun Adam dan Al adalah lelaki, tetap saja kalau mereka khilaf bisa menghamili anak perempuan.
Laila tak ingin itu terjadi, cukup dirinya saja yang berlumur lumpur dosa.
"Apa? Minggu depan? Kenapa cepat sekali?" tanya Sisil kaget.
Arkana terlihat menepuk pundak Sisil, "lebih cepat lebih baik."
Sisil menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, dia tak menyangka jika di usianya yang baru dua puluh tahun akan segera melepas masa lajangnya.
"Jangan mengeluh, lebih cepat lebih baik. Dari pada keburu di seruduk sebelum halal, Bang Adam kan kelihatan banget ngebetnya." Seru Al.
"Al!" tegur Arkana.
"Sorry, Yah. Bang Adam ngga pernah pacaran, sekalinya kenal perempuan langsung mentok." Al langsung lari setelah berucap, karena dia melihat wajah Adam yang terlihat kesal.
"Bu... Al'nya iseng." Adu Adam.
Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar keluhan Adam, padahal dia sudah besar pikirnya. Masih saja aduan.
"Sudah jangan ditanggepin, fiting bajunya kapan?" tanya Laila.
"Lusa, di butik langganan Grandpa." Jawab Adam.
"Hem, berarti semuanya sudah siap dong, ya?" tanya Arkana.
"Sudah," jawab Adam.
"Baiklah, sekarang para pria silahkan keluar dari dapur. Dua wanita cantik ini akan memasak untuk kita makan siang." Ucap Laila.
Adam dan Arkana pun menurut, mereka pun segera berlalu dari dapur. Sedangkan Sisil dan Laila langsung sibuk dengan tugas mereka.
Di sela kegiatan mereka memasak, Laila bertanya pada Sisil.
"Kamu ngga terpaksa kan menikah dengan anak saya?" tanya Laila
"Tidak, Nyo--"
"Jangan panggil Nyonya, panggil ibu." Kata Laila tegas.
"Iya, Bu. Sisil nikah sama Mas Adam ngga terpaksa, Sisil cinta sama Mas Adam." Jawab Sisil dengan suara rendahnya.
"Lalu, kenapa kamu terlihat enggan saat mengatakan bersedia menikah dengan anak saya?" tanya Laila.
"Aku.... "
+
+
+
Ya amplop ditodong calon mertua, aku jadi takut jawabnya.