Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kemalangan Mahendra



Setelah kepergian Reinata, Adam dan Sisil langsung kembali ke ruangannya. Sedangkan Mahendra harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Adam, pergi menuju kota D untuk melakukan peninjauan proses pembangunan hotel di sana.


Tentu saja Mahendra ditugaskan bersama dengan Garacia, itu pun merupakan keinginan Sisil. Dia berkata kasihan jika Mahendra pergi sendirian.


Mahendra berkata tak apa pergi sendiri, namun Sisil bersikukuh. Katanya itu adalah keinginan Baby dalam perutnya, mendengar hal itu Mahendra hanya bisa menghela napas berat.


"Baiklah, Nyonya Muda." Mahendra terlihat merapikan berkas yang dibutuhkan dan segera pergi bersama dengan Gracia.


Sepanjang perjalanan menuju Kota D, Mahendra tak berkata sepatah kata pun. Sesekali Gracia terlihat menatap Mahendra, Gracia merasa jika dirinya sedang pergi bersama dengan patung bukan dengan manusia.


Karena selain tak berbicara, raut wajah Mahendra juga terlihat sangat datar. Tanpa ekpresi apa pun.


"Sebenarnya nih orang punya masalah hidup apa sih? Kenapa mukanya selalu terlihat datar?" ucap Gracia dalam hati.


Setelah melakukan 2 jam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan. Mahendra dan juga Gracia langsung disambut oleh Pak Tama mandor bangunan di sana.


"Selamat siang, Tuan Mahendra, Nona Gracia," sapa Pak Tama seraya mengulurkan tangannya.


Mahendra dan Gracia nampak tersenyum, lalu mereka pun membalas uluran tangan pak Tama.


"Mau langsung melihat proses pembangunan hotelnya, atau mau cek laporannya dulu?" tanya Pak Tama.


"Kita kelapangan dulu, Pak," jawab Mahendra.


"Baiklah, kalau begitu ikuti saya," ucap Pak Tama.


Mahendra dan Gracia pun menurut, mereka mengikuti langkah pak Tama menuju tempat pembuatan hotel tersebut.


Setengah jam lamanya Mahendra, Gracia dan juga pak Tama berkeliling. Mahendra terlihat puas dengan apa yang dia lihat, bahan-bahan yang dipakai untuk pembuatan hotel pun merupakan bahan-bahan yang berkualitas.


Pak tama juga mempekerjakan banyak pegawai sesuai dengan instruksi dari Adam, agar pembangunan hotel tersebut lebih cepat selesainya.


Setelah puas berkeliling, pak Tama mengajak Mahendra dan juga Gracia untuk masuk ke dalam bangunan kecil tempat dia mengerjakan tugas-tugasnya.


Dia pun langsung memberikan laporan tentang hasil kerjanya kepada Mahendra, dengan cepat Mahendra pun memeriksanya.


Mahendra terlihat puas, dia suka cara kerja pak Tama. Selalu bagus dan memuaskan.


Pukul empat sore Mahendra pun mengajak Gracia untuk segera pulang menuju ibu kota, saat tiba si rest area Mahendra mengajak Gracia untuk makan bersama.


Mereka makan dalam diam, tak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir Mahendra.


"Ya Tuhan, sepertinya dia bukan manusia. Tapi, robot." Gracia terus saja mengumpat dalam hatinya.


"Jangan melihatku seperti itu!" ucap Mahendra tiba-tiba.


Gracia sampai terlonjak, dia benar-benar kaget saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria kulkas tersebut.


"Siapa yang melihatmu, Tuan. Aku hanya melihat orang yang berada di sana," ucap Gracia beralasan.


"Alasan," ucap Mahendra.


Setelah selesai makan, Mahendra pun mengajak Gracia untuk segera pulang menuju ibu kota.


Namun, baru saja 10 menit melakukan perjalanan, tiba-tiba hujan pun turun. Semakin lama, hujan tersebut pun semakin lebat.


Suaranya terdengar sangat menggelegar, hal itu membuat Gracia ketakutan. Sesekali dia berteriak dan menutup telinganya.


Mahendra melambatkan laju jalannya, jalanan terlihat sepi sekali. Karena hujan turun sangat deras, Mahendra pun menepikan mobilnya.


"Loh, loh, loh. Kenapa berhenti, Tuan?" tanya Gracia.


"Hujannya lebat, aku tidak bisa melihat jalanan," jawab Mahendra.


"Ta--tapi, di sini sepi sekali. Ngga bisa nyari tempat yang rame apa?" tanya Gracia dengan nada penuh protes.


Mendengar ucapan Gracia, sontak Mahendra langsung menatap wajahnya dengan lekat.


"Ngga usah mikir macem-macem!" kata Mahendra.


"Tidak, Tu-- Gracia terlihat memeluk Mahendra-- saya takut Tuan." Pelukan Gracia terlihat begitu kencang, karena dia sangat ketakutan mendengar suara petir yang terdengar menggelegar.


Mahendra segera melarai pelukan Gracia, lalu dia mendorong tubuh Gracia.


"Ngga usah lebay, itu hanya petir," ucap Mahendra.


"Tetep aja saya takut," jawab Gracia.


"Ck!" decak Mahendra.


"Kita cari tempat berteduh saja,Tuan." Gracia terlihat membuka sabuk pengamannya.


"Mau kemana pake buka sabuk pengman segala?" tanya Mahendra.


"Kita keluar saja, Tuan. Nyari tempat untuk berteduh," ucap Gracia.


Mahendra hanya bisa memutar bola matanya, dia tak habis pikir dengan cara berpikirnya Gracia.


Ini hujan lebat pikirnya, malah mau mencari tempat berteduh. Bukannya diam di dalam mobil lebih aman, pikirnya.


baru saja Gracia hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja petir kembali menyambar.


"Aaa!" teriak Gracia lagi saat petir yang menyambar terdengar lebih kencang dari pada yang tadi.


"Ya Tuhan!" pekik Mahendra kala Gracia memeluk perut Mahendra dengan erat.


Bahkan tangan Gracia terlihat meremat kemeja Ajun, hal itu membuat Mahendra gerah dikala hujan mengguyur dengan lebat.


"Aku bilang jangan memelukku seperti itu!" ketus Mahendra.


Gracia terlihat mengurai pelukannya, kemudian dia pun meminta maaf kepada Mahendra.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja, itu semua saya lakukan karena saya sedang ketakutan," ucap Gracia.


Mahendra terlihat ingin melayangkan protesnya, namun... tiba-tiba saja petir kembali terdengar begitu menggelegar, bahkan kilat terlihat seperti membelah langit.


Gracia yang kaget pun langsung naik keatas pangkuan Mahendra dan memeluknya dengan erat.


Mahendra yang sangat kaget pun langsung mengangkat kedua tangannya, dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Gracia.