Who Is Adam?

Who Is Adam?
Lamaran Tidak Terduga



Jika di ruang perawatan Sisil sedang ramai karena mereka begitu bahagia menyambut kedatangan anggota keluarga baru, berbeda dengan di kantor.


Mahendra dan Sisil nampak begitu sibuk, karena hanya mereka berdua yang kini menghandle semua pekerjaan yang ada di sana.


Tentu semua itu terjadi karena semua keluarga Callweld ingin berkumpul bersama di Rumah Sakit, mereka tak ingin ketinggalan untuk melihat cicit perdana dari keturunan Callweld.


Cukup lama Gracia dan juga Mahendra terdiam, hampir tak ada obrolan diantara mereka, karena mereka benar-benar sibuk.


Sore hari pun telah menjelang, mereka berdua sudah bersiap untuk pulang. Saat Gracia hendak keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba saja Mahendra menarik tangan Gracia dan menyudutkan tubuh Gracia ke tembok.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Gracia nampak kaget. Dia pun berusaha untuk lepas dari kungkungan tubuh Mahendra.


Namun sayangnya, Mahendra malah menangkap kedua tangan Sisil dan mengunci pergerakannya.


"Tuan, mau apa?" tanya Gracia.


"Aku hanya ingin berkata, jika tawaranku yang tadi pagi benar adanya," ucap Mahendra.


"Tawaran yang mana?" tanya Gracia bingung.


"Tawaran untuk menikah," jawab Mahendra dengan tatapan datarnya.


Mendengar ucapan Mahendra, Gracia pun nampak tertawa. Kemudian dia berkata.


"Sebenarnya Tuan Ini kenapa, sih? Tuan suka beneran ya sama aku?" tanya Gracia.


Mahendra nampak menundukkan kepalanya, kemudian dia pun berbisik tepat di telinga Gracia.


"Yah, aku suka sama kamu. Aku... aku mencintai kamu," jawab Mahendra jujur.


Mendapat jawaban seperti itu dari Mahendra, Gracia nampak bingung untuk berkata apa lagi. Dia terlihat syok, saat lelaki yang selalu dia anggap kulkas 16 pintu itu menyatakan cintanya terhadap dirinya.


"Kenapa diam? Aku menyukaimu, aku mencintaimu. Aku ingin kita menikah, apakah kamu mau menjadi istriku?" tanya Mahendra.


Gracia terlihat kesal sekali, karena menurutnya Mahendra tidak ada romantis-romantisnya.


"Mana ada orang yang mengajak wanita menikah dengan muka datar seperti itu? Tuan, tidak bisakah Tuan bersikap hangat dan manis? Mana ada orang mengajak perempuan menikah tapi kaya orang ngga niat gitu," ucap Gracia.


"Aku memang sudah seperti ini dari sananya, memangnya aku harus bagaimana?" tanya Mahendra.


"Bersikaplah yang romantis," kata Gracia.


"Aku akan belajar romantis, kalau kamu mau menikah sama aku," kata Mahendra.


"Ya Tuhan!" keluh Gracia.


Gracia terlihat mencoba melepaskan diri dari Mahendra, setelah itu dia pun langsung berlari keluar dari ruangan tersebut.


Namun, dengan sigap Mahendra langsung mengangkat tubuh Gracia dan membawanya ke dalam mobilnya.


Gracia sempat memberontak, namun Mahendra tak melepaskan wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.


"Iiiih! Tuan nyebelin!" Gracia langsung membuang mukanya.


Dia sangat kesal, karena saat dia hendak keluar dari mobil Mahendra, ternyata Mahendra lebih dulu mengunci mobil tersebut.


"Diam dan menurutlah, aku sudah bilang jika aku mencintai kamu. Aku tidak akan melukai wanita yang aku cintai," ucap Mahendra.


Gracia seolah tak mendengar ucapan Mahendra, dia memalingkan wajahnya dan melihat ke arah luar jendela.


Melihat Gracia yang terdiam, Mahendra pun tersenyum lalu dia melajukan mobilnya menuju kediaman Gracia.


Tiba di kediaman Gracia, Mahendra langsung memarkirkan mobilnya. Saat Gracia turun, dia terlihat kaget, karena di sana sudah ada 3 mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.


"Kenapa di rumah sangat ramai?" tanya Gracia lirih.


Dia seperti mendengar suara orang tertawa di dalam rumahnya, Gracia lalu menatap Mahendra. Mahendra hanya menggedikkan kedua bahunya, lalu dia merangkul Gracia dan mengajak Gracia untuk segera masuk ke dalam rumahnya.


"Sebenarnya yang punya rumah siapa sih?" ucap Gracia lirih.


Mahendra hanya tersenyum mendengar ucapan dari Gracia, dia tahu jika saat ini Gracia sedang bingung.


Tiba di dalam rumah, Gracia melihat jika di sana sudah ada Leo, Cindy, mom Maura, bunda Lucy dan juga Ibunya, Naura.


Dia sangat bingung, apa lagi saat bunda Lucy melihatnya, dia langsung bangun dan memeluk Gracia dengan sangat erat.


"Duduk dulu, Sayang. Bunda mau bicara," kata Bunda Lucy.


Gracia menurut, dia pun lalu duduk di atas sofa yang masih kosong. Kemudian, Mahendra pun menyusul duduk tepat di samping Gracia.


Dia sempat melayangkan protesnya, namun Mahendra berkata.


"Sudah tidak ada sofa kosong lagi," ucapnya.


Gracia pun mengedarkan pandangannya dan ternyata apa yang diucapkan oleh Mahendra pun benar adanya.


"Sayang," panggil Bunda Lucy.


"Ya, Tante," jawab Gracia.


"Maaf jika kedatangan Tante tanpa mengabari kamu terlebih dahulu, Maksud Tante datang kemari adalah untuk melamar kamu untuk putra Tante yang tampan itu," ucap Bunda Lucy seraya menunjuk Mahendra dengan ekor matanya.


"Hah? Melamar?" tanya Gracia kaget.