
Adam sebenarnya tahu, kenapa Sisil berlindung di balik punggungnya. Hanya saja, dia tak banyak bicara. Karena tidak mungkin bukan, jika Adam harus mengajak Sisil berbicara di depan lelaki tersebut.
Saat melihat Adam dan juga Laila , lelaki yang terlihat sedang marah itu pun langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri Adam.
Dia merasa perlu bertanya pada orang yang berada di dekat apartemen milik putrinya, Mharta. Karena saat dia bertanya pada petugas yang berada di sana, tidak ada yang mengetahui keberadaan putrinya, Mharta.
Bahkan saat dia mencoba mengecek rekaman Cctv yang ada di sana, kegiatan Mharta tak terekam Cctv sama sekali.
Dia sangat heran, karena Cctv yang menghadap tepat ke arah pintu apartemen milik Mharta pun, tak berfungsi. Sialnya, hanya saat kepergian Mharta saja. Setelahnya, Cctv itu pun berfungsi kembali.
"Ehm, selamat siang, Tuan, Nyonya." Sapa lelaki paruh baya tersebut.
Lelaki paruh baya tersebut sempat melirik ke arah Sisil, namun tubuhnya yang kecil benar-benar terhalang oleh badan kekar Adam.
Adam mencoba untuk bersikap senormal mungkin pada lelaki paruh baya yang kini berada tepat di hadapannya.
"Selamat siang, Tuan. Anda siapa ya?" tanya Adam Berbasa-basi busuk.
Lelaki paruh baya itu langsung ke menyunggingkan senyuman nya ke arah Adam, kemudian dia pun bertanya dengan sangat sopan.
"Maaf, sebelumnya. Saya Wiliam, Ayahnya Mharta. Apakah anda melihat putri saya keluar dari apartemennya? Pasalnya dari kemarin dia tak bisa dihubungi, saya khawatir."
William terlihat tertunduk lesu, dia lelah karena sedari kemarin dia tidak mendapatkan kabar sama sekali dari putrinya. Walau bagaimanapun, Mharta tetaplah putrinya, dia menyayangi putrinya yang selalu melawan itu.
Laila sempat memperhatikan gerak-gerik lelaki tersebut, dia sudah paham dengan kekhawatiran yang di rasakan oleh William.
Laila juga sudah paham, pasti ini semua ulah mertuanya. Dia juga yakin, jika Mharta pasti masih berada di bawah kuasa Tuan Arley.
Padahal, tanpa mereka tahu. Kini Mharta sedang menjadi budak Bastra, siang malam Bastra selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk meminta perempuan itu memuaskan hasratnya.
Kalau Mharta tidak mau, Bastra akan menikmati tubuh Mharta dengan mengikat tangannya.
"Saya minta maaf, Tuan. Akan tetapi, saya tidak melihat kemana Mharta pergi." Jawab Adam.
William terlihat menghembuskan nafas berat." Terima kasih atas informasinya, kalau begitu saya permisi."
Adam langsung menganggukkan kepalanya," silahkan, Tuan."
William langsung pergi meninggalkan apartemen milik Mharta, dia harus mencari Mharta di tempat lain. Karena terus terang, saat ini perasaan Wiliam sedang tidak enak.
Dia begitu memikirkan keadaan putrinya, dia ingin tahu bagaimana kabar putri tercintanya. Karena walau bagaimanapun, hanya Mharta lah yang dia miliki.
Setelah kepergian William, Sisil pun menggeser letak tubuhnya. Adam langsung mengelus lembut tangan Sisil, dia berusaha untuk menenangkan Sisil.
''Jangan takut, ada aku yang akan selalu melindungimu. Lagi pula, mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah Ibu. Kamu akan aman di sana," kata Adam menenangkan.
Laila yang sedari tadi diam pun langsung mengelus lembut puncak kepala Sisil,.dia tahu jika saat ini Sisil sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Kamu dengarkan apa kata, Adam? Jangan takut, jangan berpikir yang macam-macam. Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami, maka kami akan melindungimu, menyayangimu dan mengasihimu." kata Laila.
Sisil langsung menganggukkan kepalanya," terima kasih. Kalau saja tidak ada kalian, aku tidak tahu kedepannya aku akan menjadi apa." ucap Sisil.
Sisil sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan Adam, bahkan Adam dengan mudahnya mengklaim jika Sisil adalah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Ya, walaupun Sisil belum berkata 'iya'. Akan tetapi hatinya sudah terpaut akan kebaikan Adam, pengertian Adam dan semua yang ada pada diri Adam.
"Jangan sungkan, Sayang." Kata Laila.
"Iya, Bu." Kata Laila.
"Ayo kita pulang, aku sudah lelah." Ajak Adam.
Adam, Laila dan juga Sisil pun langsung pergi ke rumah Laila. Saat tiba di sana, Sisil sangat senang karena melihat banyak Ibu-ibu yang sedang mengolah limbah plastik.
Ada yang membuat pas bunga, ada yang membuat mainan dan banyak lagi yang lainnya.
"Mereka hebat ya, Bu." Sisil menatap kagum sekumpulan Ibu-ibu di sana.
"Hem, itu semua berkat Adam." Kata Laila.
Sisil langsung menatap wajah Adam, dia seolah bertanya akan apa yang diucapkan oleh Laila.
"Saat aku kecil, aku mencari rezeky dengan mengolah bahan limbah. Dari situlah, banyak orang yang mengenalku." Adam mencoba menjelaskan pada Sisil.
Sisil bisa melihat jika di mata Adam tersimpan luka, tapi juga sebuah rasa bangga. Adam memang tak pernah berkeluh kesah, Karen takut menyakiti ibunya.
Akan tetapi, Sisil pun bisa melihat dengan jelas jika Adam pernah merasa terhina dan juga tertekan. Bukan karena harta, tapi karena sesuatu yang dia tak punya.
Akan tetapi, Sisil tak bisa menebak apa. Adam yang mengerti akan arti tatapan Sisil pun, langsung bersuara.
"Aku baru bertemu ayahku, saat aku berusia hampir enam tahun." Jelas Adam.
"Oh," kata Sisil.
Sisil pun akhirnya mengerti, jika ia merasa tak sempurna karena tak ada seorang ayah yang membimbingnya sedari kecil.
Akan tetapi, Adam masih beruntung menurutnya. Karena setelahnya, Adam tak kekurangan kasih sayang.
"Masuk dulu, Sayang. Biar Ibu tunjukan kamar kamu," ajak Laila.
Sisil menurut, dia langsung mengikuti langkah Laila yang masuk ke dalam rumahnya. Laila sengaja mengajak Sisil ke kamar tamu yang letaknya tak jauh dari kamar Laila, agar dia bisa mengawasinya.
"Masuk, Sil. Ibu harap, kamu suka tinggal di sini. Ibu sudah pesen baju untuk kamu, nanti sore ada yang akan. mengantarnya ke sini." Laila menuntun Sisil agar masuk ke dalam kamar tersebut.
Sisil mengedarkan pandangannya, kamarnya terlihat sangat besar. Sisil jadi mengingat kamarnya saat tinggal di kediaman Gunandari. Tanpa terasa, air matanya langsung meleleh.
Laila terlihat panik, dengan cepat dia memeluk Sisil dan mengelus lembut punggungnya. Bukannya terdiam, Sisil malah makin terisak sambil memeluk Laila dengan erat.
Laila dan Adam saling pandang, mereka kebingungan melihat Sisil yang terus saja menangis. Akan tetapi, Adam dan Laila seakan mengerti. Mereka membiarkan Sisil untuk mengeluarkan sesaknya yang ada di dalam dadanya. Setelah terlihat lebih tenang, Laila pun lalu bertanya kepada Sisil.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada yang membuat kamu tidak nyaman?" tanya Laila.
Sisil menggelengkan kepalanya dengan cepat," tidak seperti itu, Bu. Sisil hanya teringat saat masih ada Ayah dan Bunda.