Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kekalahan William



"Lanjutkan saja obrolan kalian, urusan aku nanti saja." Adam langsung pergi meninggalkan Devano dan juga Tuan Arley.


Adam seakan tak ingin mengganggu Obrolan antara Devano dan Tuan Arley. Bukan hanya itu, dia juga tak enak hati jika membicarakan hal serius di depan anak-anak.


Adam ternyata harus sabar menunggu Haidar, Alicia, Airin dan juga Anggelica untuk pergi. Karena Adam tak mungkin menyampaikan keinginannya di depan ke empat anak remaja itu.


Di saat Tuan Arley dan Devano terlihat sibuk membicarakan bisnisnya, Adisha dan Eliza sibuk membicarakan tentang kerepotannya menjadi Ibu rumah tangga.


Adam malah pergi ke dapur untuk sarapan, dia mengambil beberapa lembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat.


Maksud hati datang pagi-pagi ingin meminta tolong pada Tuan Arley, malah tak bisa. Bukan karena Tuan Arley tak mau, hanya saja Adam yang malu.


Seorang pelayan datang dan memberikan segelas susu pada Adam, dengan senang hati Adam pun menerimanya.


"Terima kasih, Bi." Ucap Adam.


"Sama-sama, Tuan Muda." Jawab Bibi.


Adam pun kembali melanjutkan sarapannya, setelah selesai Adam kembali bergabung dengan Tuan Arley dan juga Devano.


"Bagaimana, Boy?" tanya Tuan Arley.


"Apanya?" tanya Adam.


"Ck, acara lamarannya." Kata Tuan Arley.


"Lancar, dia mau menikah denganku." Kata Adam.


"Syukurlah, tidak sia-sia aku membayar Leo." Tuan Arley nampak tersenyum senang.


Begitu pula dengan Devano, dia merasa senang sekaligus terkejut saat mendengar ucapan Adam.


Karena setahunya, Adam tak pernah dekat dengan wanita manapun. Lalu, tiba-tiba saja dia mendengar Adam yang telah melamar seorang wanita.


"Selamat, Boy. Wanita mana yang telah berhasil menaklukan hatimu itu?" tanya Devano.


"Pricilia Gunandari, Om ingat?" tanya Adam.


Devano terlihat bingung ditanya nama Pricilia, pasalnya dia tak ingat apa pun tentang nama itu.


"Siapa, Boy? Jangan main tebak-tebakan, Om tak suka." Jawab Devano.


"Gadis kecil yang dulu sempat bertemu di Rumah sakit saat kelahiran Babby Al," jelas Adam.


Devano nampak mengingat ingat dengan apa yang diucapkan oleh Adam. Tak lama kemudian, dia mulai mengingat saat di mana dia melihat Adam berada di taman Rumah Sakit yang sedang berbicara serius dengan seorang anak perempuan di atas kursi roda.


Tak lama kemudian, Devano pun nampak berdecak.


"Gadis kursi roda!" ucap Devano memekik.


Eliza, Adisha dan juga keempat anak remaja yang sedang bermain pun langsung melihat ke arah Devano.


"Ada apa sih, Beb?" tanya Eliza.


Eliza langsung menghampiri devano dan dia pun duduk tepat di samping Devano, dia melihat ke arah Tuan Arley, Devano dan juga Adam secara bergantian.


Begitu pun dengan Adisha yang penasaran, dia pun langsung berdiri dan menghampiri Tuan Arley lalu duduk tepat di samping Tuan Arley.


Melihat istrinya dan juga Eliza yang terlihat penasaran, Tuan Arley pun langsung terkekeh. Dia menggenggam lengan Adisha, lalu mengecup punggung tangannya istrinya beberapa kali.


"Adam akan segera menikah, dengan wanita yang bernama Pricilia Gunandari." Jelas Tuan Arley.


Eliza dan Adisha nampak tersenyum senang, mereka tak menyangka jika Adam akan dengan cepat bertemu dengan jodohnya.


Padahal, Adam tak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun. Bahkan mereka tidak pernah mendengar Adam mengucapkan nama seorang gadis pun.


"Ya, Nini. Adam akan segera menikah, justru Adam ke sini mau meminta bantuan, Grandpa." Kata Adam seraya tertunduk malu.


"Ck, kamu itu ti--"


Ucapan Tuan Arley tiba-tiba saja berhenti, karena dia mendengar di depan rumahnya ada suara orang yang seperti sedang mengamuk.


Tuan Arley pun bersama Devano dan juga adam langsung bangun, mereka ingin melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.


Adisha dan Eliza awalnya ingin ikut melihat, akan tetapi Tuan Arley menyuruh Eliza dan Adisha untuk menjaga anak-anak, jangan sampai ada anak-anak yang melihat keributan di luar.


Adisha dan Eliza pun akhirnya mengerti, bahkan dikata dua kali, keempat anak remaja yang sedang ada di ruang keluarga pun nampak mengerti.


Mereka langsung diam dan duduk, seperti instruksi dari Tuan Arley.


Tuan Arley, Devano dan juga Adam langsung berjalan keluar rumah, ternyata di sana ada william yang sedang mengamuk karena ditahan oleh para Bodyguard dari Tuan Arley.


Tuan Arley mengisyaratkan kepada para Bodyguardnya, untuk melepaskan william. Mereka pun menurut dan dengan cepat mereka melepaskan William.


Wajah William terlihat sangat merah, dia terlihat begitu emosi. Dia berjalan dengan cepat dan hendak melayangkan pukulan nya ke wajah Tuan Arley.


Akan tetapi, tangan besar Bodyguard Tuan Arley langsung memelintir tangan William. William terlihat meringis kesakitan, dia memandang Bodyguard tersebut dengan tatapan penuh amarah.


"Lepaskan, sialan!" teriaknya memekikan telinga.


Tuan Arley terlihat sangat tenang, karena dia sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti William.


"Apa yang kau inginkan William?" tanya Tuan Arley setenang mungkin.


"Dasar bedebah, gue tahu elu si tua bangka yang datang ke perusahaan keluarga Orlin untuk mencabut investasinya secara sepihak kan? Dasar pecundang, bisanya main belakang! Bedebah sialan!" caci maki keluar dari mulut William.


Bukannya marah, Tuan Arley malah tergelak.


"Tentu, main belakang memang paling enak. Istri ku saja sampai ketagihan, eh... lupa, kamu kan tidak punya istri. Istri kamu mati karena tak kuat dengan keegoisan kamu." Tuan Arley langsung menggelengkan kepalanya.


William terlihat sangat kesal, dia pun maju beberapa langkah untuk mendekatkan dirinya kepada Tuan Arley.


Ingin sekali rasanya dia menghajar Tuan Arley sampai babak belur, sayangnya tangannya masih saja ditahan oleh Bodyguardnya Tuan Arley.


"Katakan, kenapa elu main curang. Minggu lalu perusahaan gue pailit, sekarang perusahaan gue bangkrut. Kenapa elu lakuin ini sama gue? Bangsad!" teriak William.


"Aku hanya ingin mengembalikannya pada yang berhak," ujar Tuan Arley.


"Hanya gue yang berhak, bukan elu tua bangka bajingan!" makinya lagi.


Tuan Arley nampak terkekeh," bukan saya juga bukan kamu, William. Pricilia Gunandari yang berhak atas aset yang ditinggalakn oleh Anggara dan juga Merrisa." Kata Tuan Arley telak.


William nampak melongo mendengar ucapan Tuan Arley, mengapa dia mengungkit nama anak yang selama ini dia cari?


Mengapa Tuan Arley, seakan tahu di mana Pricilia? Padahal dia sudah mencari Pricilia kemana pun, tapi tak kunjung ketemu.


Bahkan dia sudah menyewa detektif ternama, tapi tak juga menemukan anak itu.


+


+


+


Jangan lupa tinggalkan jejak, di like ya sayang-sayangnya akoh. Semoga kalian sehat selalu.


Terima kasih buat kalian yang selalu mau mengingatkan adanya tyfo, ngasih koment positif yang membawa semangat dan selalu setia membaca karya Author pemula kaya saya.