Who Is Adam?

Who Is Adam?
Mharta



Selepas mengantarkan Sisil, Adam langsung berniat untuk pergi ke apartemen miliknya. Dia ingin beristirahat sejenak di sana, karena kalau dia pulang ke rumah, sudah bisa dipastikan jika Al pasti akan mengganggu hari liburnya.


Selama perjalanan menuju apartemen, Adam terus saja memikirkan Sisil. Entah kenapa, cerita Sisil terasa sama dengan Pricilia Gunandari. Gadis kecil, yang membuat Adam nyaman walupun hanya satu kali bertemu.


Tapi, bila Pricilia dan Sisil orang yang sama, kenapa Sisil berkata jika ibunya beri meninggal dua bulan yang lalu?


Adam pun menjadi pusing dibuatnya.


"Ya ampun, kenapa Sisil terasa memenuhi isi kepala ku? Apa aku harus bertanya langsung pada Sisil yang?" tanya Adam lirih.


Tanpa terasa Adam pun sudah sampai di tempat tujuan, sampai di depan loby apartemen, Adam langsung turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada security yang berada di sana.


Adam merasa sangat lelah, dia bangun terlalu pagi. Saat ini dia sudah ingin memejamkan matanya, dan merebahkan tubuh lelahnya.


Setegah berlari, Adam melangkahkan kakinya. Dia sudah tak sabar, untuk segera sampai di dalam apartemennya.


Saat sedang berjalan menuju lift, tanpa sengaja Adam menabrak seorang wanita cantik yang sedang kerepotan dengan barang belanjaan miliknya.


BRUGH!!


"Aaww!" wanita cantik itu nampak memekik kesakitan, karena dia langsung jatuh terduduk.


Bahkan barang belanjaan yang dia bawa pun langsung berserakan di lantai, Adam pun dengan cepat meminta maaf dan membantu wanita cantik itu.


"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ucap Adam penuh sesal.


Adam segera mengulurkan tangannya, wanita cantik itu mendongakan kepalanya. Saat melihat wajah tampan Adam, dia malah terlihat diam sabil menatap wajah Adam tanpa berkedip.


Adam merasa heran dengan respon wanita itu, dia bahkan mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajah wanita cantik itu.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Adam panik, dia tak menyangka jika wanita yang sudah dia tabrak malah diam saja sambil memandang wajahnya.


"Ah, iya. Itu, anu. Kaki ku terasa sakit, bisakah kamu membantu aku?" pinta wanita itu.


Wanita itu, sengaja beralasan. Agar Adam mau mengantarkannya ke dalam apartemen miliknya.


"Boleh, boleh." Adam pun langsung membantu wanita itu untuk berdiri.


Wanita cantik itu pun langsung menyeringai, karena telah berhasil memperdaya Adam.


"Em, itu. Bagaimana dengan belanjaan aku?" tanya wanita itu lagi.


"Biar aku meminta tolong pada security di sini, anda tinggal di lantai berapa?" tanya Adam.


Adam mengedarkan pandangannya, dia mencari seorang security untuk membantunya.


"Lantai tiga, no. 76." Jawab wanita itu.


"Wah, kebetulan sekali. Kita tinggal di lantai yang sama," sahut Adam.


"Ngomong-ngomong, Nama ku Mharta. Siapa nama kamu, tampan?" tanya Mharta.


"Adam," jawab Adam.


Adam kemudian memanggil seorang security dan memintanya untuk membenahi barang belanjaan milik Mharta dan memintanya untuk membawanya ke apartemen milik Mharta.


Ta lupa, Adam juga memberikan uang tips pada security tersebut.


Setelah itu, Adam memapah Mharta. Dengan sabar, Adam mengantarkan Mharta sampai ke apartemen miliknya.


"Terima kasih, Adam." Ucap Mharta sambil mengerling nakal.


"Ya ampun, ternyata dia gadia nakal. Sepertiny aku harus berhati-hati, jangan sampai mengalami hal yang tidak baik." Gumam Adam dalam hati.


Adam pun segera berlalu meninggalkan Mharta, menuju apartemen miliknya yang hanya berjarak tiga pintu dari apartemen milik Mharta.


Mharta terus saja memperhatikan Adam, sampai Adam masuk ke dalam apartemen miliknya. Kemudian dia tersenyum, saat tahu di mana apartemen milik Adam.


Setelah masuk, Adam langsung merebahkan tubuhnya. Dia merasa sangat lelah, karena saat dia baru pulang ke Indonesia. Adam sudah dilimpahi tanggung jawab yang besar oleh Tuan Arley.


Adam tak berani menolak, karena menurutnya, titah sang Grandpa memanglah harus diutamakan.


Setelah semua kelelahan yang dia jalanan. Menurut Adam, Inilah saat yang tepat untuk Adam beristirahat. Adam langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur big size miliknya.


Adam pun sudah mulai memejamkan matanya, tapi, suara Adzan membuatnya kembali membuka mata. Adam langsung duduk sambil mengusap wajahnya.


"Ah, sepertinya aku harus shalat dulu." Adam langsung bangun dan masuk ke kamar mandi.


Adam pun langsung melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, dia langsung membuka kemejanya dan melemparkannya secara asal.


Adam kembali merebahkan tubuh lelahnya, dengan hanya menggunakan kaos dalam saja.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Adam baru saja masuk ke alam mimpinya. Tapi, suara ketukan pintu membuat Adam tersadar dari alam mimpinya.


Adam langsung membuka mata dan mengusap wajahnya dengan kasar, dia begitu kesal karena waktu istirahatnya terasa terganggu.


"Ck, siapa sih yang ganggu? Ibu ngga mungkin ganggu, Al juga ngga tahu aku ke sini!" Dengan langkah kesal Adam membuka pintunya.


Dahi Adam nampak mengernyit heran, saat melihat Mharta yang kini tengah berdiri dengan senyum manisnya.


"Ganggu ya? Maaf, aku cuma mau ngajakin kamu makan siang." Mharta berucap dengan nada yang di buat sesedih mungkin.


Sejujurnya Adam sangat kesal terhadap Mharta, tapi sebisa mungkin dia mengontrol emosinya.


"Tentu, kamu sangat mengganggu. Karena aku sedang tidur," jawab Adam jujur.


Mharta langsung memperhatikan wajah Adam, dia bisa melihat rambut Adam terlihat acak-acakan, tapi tetap terlihat tampan. Membuat Mharta makin tergoda dibuatnya.


Yang lebih membuat Mharta tergoda, Adam hanya menggunakan kaos dalam saja. Sehingga Mharta bisa dengan jelas melihat bentuk tubuh atletis milik Adam.


Bahkan otot tangannya pun terlihat menggoda, rasanya Mharta ingin mengelus setiap lekuk tubuh Adam.


Melihat Mharta yang terasa menyusuri seluruh tubuhnya, membuat Adam mengalihkan pandangannya.


Adam pun memperhatikan penampilannya, di baru sadar jika dia hanya menggunakan kaos dalam saja. Adam merasa tak nyaman, apa lagi saat melihat Mharta yang menatapnya dengan tatapan lapar.


"Maaf, kalau tidak ada keperluan. Saya mau tidur kembali," ucap Adam.


Adam hendak berbalik, dia ingin segera tidur kembali.


"Eh, jangan tidur dulu. Aku hanya ingin mengajak kamu untuk makan siang," ucap Mharta dengan wajah memelas.


Dia tak rela, jika pria tampan di depannya pergi begitu saja.


"Terima kasih, atas ajakannya. Tapi, aku sangat mengantuk." Adam langsung masuk dan menutup pintunya Tanoa menunggu jawaban dari Mharta.


Dia tak ingin berlama-lama bersama dengan Mharta, karena tak nyaman dengan tatapan mata Mharta yang seakan menembus lapisan terdalam kulitnya.


Mharta terlihat sangat kecewa, padahal, dia hanya ingin mengakrabkan diri pada Adam. Siapa tahu, mereka bisa dekat dan berakhir di atas ranjang, pikirnya.


Dengan wajah kecewanya, Mharta langsung kembali ke apartemen miliknya.


Sedangkan Adam, langsung kembali merebahkan tubuh lelahnya. Hingga akhirnya dia pun bisa tertidur kembali dan terbuai dalam mimpi indahnya.