Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kembalinya Aset Berharga



"Tidak, Nyo--"


"Jangan panggil Nyonya, panggil ibu." Kata Laila tegas.


"Iya, Bu. Sisil nikah sama Mas Adam ngga terpaksa, Sisil cinta sama Mas Adam." Jawab Sisil dengan suara rendahnya.


"Lalu, kenapa kamu terlihat enggan saat mengatakan bersedia menikah dengan anak saya?" tanya Laila.


"Aku.... "


"Apa, Sayang? Kenapa?" tanya Laila.


Sisil terlihat menunduk, dia bingung harus berkata apa. Akan tetapi, dia juga harus jujur kepada wanita yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya itu.


"Aku malu, Bu. Aku merasa, Mas Adam tidak pantas bersanding dengan ku. Aku hanya orang biasa, bahkan pendidikan aku hanya sampai SMA. Aku merasa tak pantas menjadi istri untuk seorang Adam Putra Caldwell." Tutur Sisil.


Laila langsung merengkuh tubuh Sisil, dia merasa kasihan kepada Sisil. Hidupnya sudah cukup sulit selama ini, itu semua bukan karena keinginannya.


Akan tetapi, karena paman tirinya. Tuan Arley tentunya sudah menceritakan semuanya, bahkan Tuan Arley pun sudah mengalihkan semua aset Gunandari ke tangan Sisil, hanya perlu tanda tangan Sisil saja.


Menurutnya, Sisil masih lebih baik. Masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih menderita dari Sisil. Walaupun Sisil mendapatkan ketidak adilan dari Tuan William, tapi masih ada Bi Narti dan Pak Tejo yang selalu berusaha untuk membahagiakan Sisil dan melindunginya.


"Jangan merasa rendah, Nak. Semua manusia itu mempunyai derajat yang sama di mata Tuhan, lagi pula keluarga kami tak mempermasalah itu. Kami menerima kamu dengan tangan terbuka." Laila langsung memeluk Sisil dengan erat.


Sisil terlihat sangat bahagia, dia merasa sangat beruntung karena sudah bertemu dengan Adam dan keluarganya.


"Terima kasih, Ibu." Kata Sisil tulus.


"Sama-sama, Sayang. Jangan nangis lagi, kita masak." Ajak Laila.


Sisil pun langsung menganggukkan kepalanya.


*/*


Keesokan harinya....


Tuan Arley dan Adisha datang berkunjung, mereka sengaja datang karena ingin bertemu dengan Sisil. Saat mereka tiba, Sisil dan Laila terlihat sedang asik membuat pas bunga dari limbah botol plastik seperti biasanya.


Selamat pagi, Sayang." Sapa Tuan Arley.


Laila dan Sisil langsung menghentikan aktivitasnya, lalu menghampiri Tuan Arley dan mencium punggung tangan Tuan Arley dan juga Adisha.


"Kalian sedang apa?" tanya Adisha


"Sedang membuat pot bunga, Dad." Jawab Laila.


"Daddy ada kejutan buat Sisil, boleh kita masuk?" tanya Tuan Arley.


"Tentu, Dad." Jawab Laila.


Laila langsung mengajak Adisha dan Tuan Arley untuk berkumpul di dalam ruang keluarga, tak lupa Laila meminta Bibi untuk menyiapkan minuman dan juga camilan untuk mereka.


Sedangkan Sisil yang namanya di sebut oleh Tuan Arley terlihat kebingungan, dia berpikir keras dalam hatinya. Kejutan apakah yang akan diberikan Tuan Arley padanya.


"Sisil, maaf kalau aku terlalu ikut campur akan urusanmu. Bukan maksudku bertindak hal yang tidak sesuai dengan keinginanmu, aku hanya ingin mengembalikan semua aset milik mu, aset milik keluarga Gunandari yang sudah diambil oleh William."


Tuan Arley lalu meminta berkas dari tangan Adisha dan langsung memberikannya kepada Sisil, dengan ragu-ragu Sisil mengambil berkas tersebut dan membukanya dengan perlahan.


Sisil sangat kaget saat membaca berkas tersebut, karena di sana tertulis jika semua aset Gunandari sudah berpindah tangan kepada dirinya yaitu Pricilia Gunandari.


Tuan Arly tersenyum melihat kebingungan di mata Sisil, Tuan Arley juga sangat paham. Karena Sisil tidak pernah menuntut haknya agar kembali kepada dirinya.


"William sudah mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya, sekarang dia sudah di penjara dan bahkan dia akan menghabiskan seumur hidupnya di penjara. karena dia pun telah terbukti melakukan perencanaan pembunuhan kedua orang tua kamu." Jelas Tuan Arley.


Sisil terlihat tidak percaya, matanya terlihat membulat dengan sempurna. Bahkan, bibirnya pun terlihat terbuka dengan lebar.


"Ja--jadi mereka beneran udah bikin kedua orang tua aku meninggal?" tanya Sisil dengan bibir yang sudah bergetar.


" Iya, Sisil. Sayangnya semuanya memang seperti itu, karena memang William sangat membenci Anggara sejak dia kecil, karena dia merasa diperlakukan tidak adil oleh Kakek kamu." Jelas Tuan Arley.


Dia sangat mengenal Anggara, karena sempat menjalin kerja sama saat merintis usahanya di Jakarta.


" Lalu, bagaimana dengan Kak Mharta? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Sisil penuh dengan rasa khawatir.


Tuan arles sempat menggelengkan kepalanya melihat Sisil yang tidak ada rasa kesal sama sekali terhadap paman dan sepupunya tersebut. Padahal, William sudah membunuh kedua orang tuanya.


Bahkan Martha sempat memberikan obat perangsang terhadap Adam yang mengakibatkan hal yang fatal bagi Adam. Adam bahkan hampir kehilangan nyawa gara-gara perbuatan Marta.


Akan tetapi, Sisil terlihat dengan mudah bisa memaafkan mereka. Padahal, hidup Sisil bisa menderita memang karena ulah dari paman dan sepupunya tersebut.


"Mharta aman, Sayang. Sebentar lagi dia akan menikah dengan salah satu anak buah, Grandpa." Jelas Tuan Arley.


Tuan Arley sempat tertawa, saat mengingat Mharta yang ternyata dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan Bastra si bujang lapuk, Bodyguard kesayangannya.


Ternyata tak hanya badannya yang kekar, tetapi dia juga sangat pandai memanjakan Mharta di atas tempat tidur. Sehingga Mharta langsung bertekuk lutut pada Bastra.


" Benarkah?" tanya Sisil.


Ternyata dengan mudahnya Mharta bisa memutuskan untuk menikah, pikirnya.


"Hem, sepertinya setelah kamu menikah. Kita akan ke tempat Bastra untuk menghadiri acara pernikahan mereka." Kata Tuan Arley.


"Terima kasih untuk semuanya, Grandpa." Ucap Sisil tulus.


"Ya, sekarang tandatangani berkasnya. Simpan dengan baik," titah Tuan Arley.


Sisil pun menurut, setelah Tuan Arley memberikan bolpoin kepada Sisil. Sisil pun langsung membubuhkan tanda tangannya di dalam berkas pengalihan kepemilikan aset Gunandari tersebut.


Setelah selesai, Sisil pun kembali bertanya kepada tuan Arley.


"Lalu, siapa yang akan mengurus perusahaan milik Ayah. Aku sama sekali tidak ahli dalam bidang itu." Ucap jujur Sisil.


"Tenang saja, Sayang. Untuk saat ini, ada orang kepercayaan Grandpa yang mengurusnya. Kalau ada hal yang perlu di tandatangani, mereka pasti akan ke sini." Jelas Tuan Arley.


"Baiklah, aku paham." Jawab Sisil.


"Bagus, mulai sekarang kamu jangan pernah bersedih lagi. Ada kami yang kini sudah menjadi bagian dari diri kamu," ucap Tuan Arley.


"Terima kasih, kalian semua selalu baik terhadapku." Kata Sisil.


Sisil lalu memeluk Laila, Adisha dan Tuan Arley secara bergantian. Rasa bahagia dan rasa haru bercampur jadi satu. Dia merasa senang sekaligus bangga, karena Tuhan tak serta merta begitu saja memberikan kesusahan dalam menjalani harinya.


Karena ternyata, kini hidupnya terasa jauh lebih baik setelah jalan penderitaan panjang yang sempat dia lalui.


"Oh iya, Sayang. Apa kamu benar-benar tulus mencintai cucu ku?" tanya Tuan Arley.