Who Is Adam?

Who Is Adam?
Kekesalan Leo



Leo terlihat begitu gelisah, dia sangat takut jika Deandra berbuat hal yang tidak-tidak kepada Cindy, istrinya.


Ingin sekali dia langsung berlari menuju kamar penginapan tersebut dan memukul Deananda, lelaki yang telah berani membawa kabur wanita yang baru saja dia resmikan menjadi istrinya.


Namun setiap kali Leo hendak bergerak, Mahendra selalu langsung menekan pundak Leo agar tidak bangun dari duduknya.


"Sial! Harus menunggu berapa lama?" tanya Leo kesal.


Mendengar pertanyaan dari Leo, Mahendra terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa begitu lucu saat melihat kegusaran di wajah sahabatnya itu.


"Ck! Sebenarnya kamu itu mengkhawatirkan keadaannya atau takut tidak bisa melakukan pembukaan segel?" tanya Mahendra to the poin.


"Cih! Pria jomblo akut sepertimu mana tahu hal seperti ini," cibir Leo.


"Aku bukan jomblo akut," kata Mahendra.


"Ya, hanya pria tidak laku," kata Leo dengan senyum mencibir.


"Terserah!" kata Mahendra seraya memperhatikan ketiga wanita seksi yang kini sudah mulai mengantarkan kopi kepada para preman tersebut.


"Bang, kopi." Ketiga perempuan seksi itu, langsung menghampiri para preman pasar tersebut.


Para preman yang sedang sibuk bermain catur pun, langsung mengalihkan pandangan mereka kepada ketiga wanita seksi tersebut.


"Neng, Abang' kan sudah minum kopi. Kok dibawain kopi lagi?" tanya preman A.


"Iya, Neng. Lagian Abang nggak mesen kopi lagi, kok dibawain kopi lagi?" tanya preman B.


Salah satu wanita seksi itu, tiba-tiba saja duduk di atas pangkuan Bos preman yang sedang bermain catur.


Lalu, dia pun mengalungkan tangannya di leher Bos preman tersebut.


"Ini spesial buat Abang, dan anak buah Abang. Diminum ya, Bang. Neng udah capek-capek bikinin kopi buat Abang dan anak buah Abang," kata wanita itu.


Bos preman yang sedari tadi hanya diam saja, langsung tersenyum mendengar ucapan dari wanita seksi itu. Lalu, dia pun menjawil dagu wanita seksi tersebut.


"Baiklah, Abang akan meminumnya. Tapi, nanti Neng bobo sama Abang ya... nanti kita main kuda-kudaan."


Bos preman itu langsung mengusap dada wanita cantik tersebut sambil menatap nakal.


"Ayo minum kopinya!" ucapnya dengan nada penuh perintah kepada anak buahnya.


Tentu saja mereka langsung menurut, para preman tersebut pun langsung mengambil kopi yang disediakan oleh ketiga wanita seksi tersebut.


"Abang juga minum, nanti Neng kasih posisi kuda nungging," kata wanita itu.


"Iya, Neng. Yang seksi ya, biar Abang semangat nunggangin kudanya," katanya.


Setelah bernegosiasi, Bos preman itu nampak meminum kopi tersebut. Para anak buahnya pun langsung meminum dan menikmati manis bercampur pahit, dari kopi hitam yang sudah disediakan oleh wanita suruhan dari Mahendra.


Melihat para preman tersebut meminum kopi yang sudah dicampurkan obat, Mahendra pun langsung tersenyum.


"Kita mulai menghitung, Sepuluh--"


Mendengar Mahendra yang mulai menghitung, Leo hanya bisa menatap wajah Mahendra dengan tatapan kebingungan. Lalu, setelah hitungan Mahendra mencapai angka satu.


BRUGH !


Mereka terlihat tersungkur setelah meminum kopi yang diberikan obat oleh Mahendra, ketiga wanita cantik itu pun langsung menghampiri Mahendra karena misinya sudah berhasil.


"Beres, Bos," katanya.


Mahendra terlihat tersenyum lalu menepuk pundak Leo.


"Sekarang giliranmu, aku sudah mengatasi para preman pasar itu," kata Mahendra.


Leo pun seakan tersadar dengan apa yang diucapkan oleh Mahendra, Leo langsung tersenyum dan berjalan dengan cepat menuju kamar penginapan yang di sewa oleh Deanandra.


Tentunya anak buah Mahendra dan juga orang yang dikirimkan oleh Tuan Arley pun langsung mengikuti langkah Leo.


Setelah tepat berada di depan kamar penginapan tersebut, tanpa menunggu lagi Leo langsung mendobrak pintunya dibantu oleh anak buah Mahendra.


BRAK!


BRUK!


DUG!


Setelah beberapa kali mendobrak pintu kamar penginapan tersebut, akhirnya pintu kamar penginapan tersebut pun nampak jebol.


Leo mendorong pintu kamar tersebut dengan kasar, nampaklah Deandra yang terlihat sedang bersiaga saat melihat Leo masuk dengan wajah penuh kekesalan.


"Ngapain elu dobrak pintunya?" satu pertanyaan yang menurut Leo sangat konyol terlontar dari bibir Deanandra.


"Sinting! Pertanyaan macam apa itu tentu saja gue mau nyelamatin bini gue dari singa lapar kaya elu." Leo berteriak penuh kekesalan.


Lalu, Leo terlihat memperhatikan Cindy yang terlihat tertidur di atas ranjang. Wajah Leo terlihat sangat marah sekali, kedua tangannya bahkan terlihat terkepal dengan sempurna.


Bagaimana tidak marah, kala dia melihat Cindy yang tertidur di atas ranjang dengan hanya menggunakan selimut saja. Sedangkan pakaian pengantinnya, terlihat sudah tergeletak di samping ranjang.


Namun, satu hal yang membuat dia merasa lega. Deanandra masih terlihat menggunakan baju lengkap, itu artinya dia belum melakukan hal lebih terhadap istrinya.


Akan tetapi, tetap saja Leo merasa marah dan juga kesal saat membayangkan Deanandra membuka pakaian pengantin dari tubuh istrinya.


Pastinya tangan kotor Deanandra menyentuh tubuh istrinya, walaupun belum sempat ke tahapan yang lebih lagi.


Leo terlihat hendak menghampiri istrinya yang tergeletak lemah di atas ranjang, namun tanpa Leo duga Deandra langsung mengambil kayu dan memukulkannya ke arah punggung Leo dengan sangat keras.


Leo langsung terjatuh seraya meringis kesakitan, anak buah Mahendra yang melihat kejadian tersebut langsung berlari menghampiri Denandra dan meringkusnya.


Leo pun mencoba untuk bangun sambil menahan rasa sakitnya, dia ingin sekali memukul wajah Deanandra sampai babak belur karena telah berani membawa kabur istrinya.


Bahkan sekarang Deandra begitu berani memukul punggungnya dengan sangat kencang, namun baru saja Leo hendak melakukannya, dia sudah melihat Deandra tergeletak pingsan di atas lantai.


"Hey! Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Leo geram.


"Ya Tuhan, Tuan. Tak perlu mengotori tangan anda untuk memukulnya, dia bukan lawan yang sebanding dengan kita. Cukup kasih obat bius yang banyak lalu kita buang ke laut," ucap salah satu Bodyguard tersebut.


"Astaga!" kesal Leo seraya memijat pelipisnya.


"Jangan dibuang ke laut, bawa saja ke kantor polisi. Biarkan dia bertanggung jawab atas kesalahannya," kata Leo.


"Tuan Leo ngga asik," ucap salah Bodyguard B.