
Setelah lamarannya diterima, Mahendra terlihat senang bukan main. Dia menjalani harinya dengan lebih ceria, dia bahkan membuktikan ucapannya.
Dia selalu berusaha untuk bersikap manis di depan Gracia, dia bahkan mulai perhatian kepada calon istrinya tersebut.
Namun, tetap saja jika mereka tidak sedang berduaan Mahendra akan bersikap dingin dan jarang berbicara. Mahendra akan bersikap hangat dan juga manis ketika dia berduaan saja dengan Gracia.
Terkadang Gracia merasa kesal, namun entah kenapa dia tidak bisa marah kepada calon suaminya tersebut. Karena Mahendra benar-benar akan bersikap manis dan berusaha untuk memanjakan Gracia ketika mereka sedang berduaan.
"Tuan, be--"
"Jangan panggil, Tuan. Panggil Sayang," pinta Mahendra.
"Baiklah, Sayangku. Besok kita harus ke butik untuk fitting baju," ucap Gracia mengingatkan.
"Ya, aku ingat." Mahendra mengangkat tubuh Gracia dan mendudukannya di atas pangkuannya.
"Sayang, malu," kata Gracia.
"Cium dulu, baru aku lepaskan kamu," kata Mahendra.
Mahendra memeluk erat pinggang Gracia.
"Ya ampun, Tuan tampan yang dingin ini kenapa pikirannya sangat messum sekali?" kata Gracia.
Dia membingkai wajah calon suaminya dengan jari telunjuknya, Mahendra tersenyum lalu menangkap tangan Gracia.
"Hanya padamu," kata Mahendra.
Tanpa aba-aba dia langsung menakutkan bibirnya pada Gracia, sehingga pergulatan bibir di siang hari pun tak bisa dihindari.
Mereka saling mencari manisnya madu di dalam setiap cecapan yang mereka lakukan, Mahendra terlihat mencium bibir Jessica dengan sangat lembut.
Kedua tangannya bahkan mengelus punggung Gracia dengan penuh kasih, berbeda dengan Gracia, dia terlihat menjambak rambut Mahendra dengan sedikit kasar dan tak lama kemudian Gracia nampak mendorong dada Mahendra. Hal itu membuat ciuman mereka terlepas.
"Kenapa?" tanya Mahendra kecewa.
Gracia tidak menjawab, dia langsung turun dari pangkuan Mahendra dan menatap milik Mahendra yang terlihat sudah mengembang di balik sarangnya.
Mahendra terkekeh, kemudian dia pun mengusap bibir Gracia dengan lembut.
"Maaf, aku sudah tidak sabar ingin segera memperistri kamu," ucap Mahendra.
"Bersabarlah, karena tiga hari lagi kita akan menikah," ucap Gracia.
"Ehm, apa aku menganggu?" tanya Adam yang kini sudah berada di ambang pintu.
"Tidak, Tuan. Ada apa?" tanya Mahendra dengan sigap.
"Aku harus meeting di luar, menggantikan Nini Adisha. Bisakah kamu menemaniku?" tanya Adam.
"Tentu, Tuan. Dengan senang hati," jawab Mahendra.
"Saya pinjam dulu, calon suaminya," kata Adam.
Gracia nampak terkekeh, lalu dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Iya, Tuan," jawab Gracia.
Mahendra terlihat menghampiri Gracia, lalu dia mengecup kening calon istrinya. Lalu, dia berlalu sambil mensejajari langkah Adam.
Adam hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ternyata pria dingin seperti Mahendra akan berubah hangat dan manis ketika bersama dengan wanita yang dicintainya.
💘💘💘
Tiga hari kemudian.
Pernikahan telah dilaksanakan, acara resepsi pun telah usai. Pasangan pengantin baru Gracia dan juga Mahendra sudah masuk kedalam kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh Leo.
Mahendra nampak tidak sabar untuk segera menjadikan Gracia sebagai miliknya seutuhnya, dia dengan sigap langsung membantu Gracia melepaskan gaun pengantinnya dan membantu Gracia membuka rasanya di atas kepalanya.
Kini Gracia hanya menggunakan dalamann saja, Mahendra yang tak sabar langsung memeluk Gracia dari belakang seraya meremat dada istrinya.
Bibirnya bahkan terlihat mengecupi dan menggigit kecil leher jenjang istrinya.
"Sayang, kok kamu kaya Vampire gini sih?" tanya Gracia.
"Hem, aku sudah tak sabar ingin menghisap setiap inci tubuh kamu," kata Mahendra.
"Mana ada yang seperti itu?" protes Gracia.
"Ada," jawab Mahendra.
Mahendra langsung mengangkat tubuh Gracia dan menggendongnya bak anak koala, kaki Gracia nampak melingkar di pinggang Mahendra.
Kedua tangan Gracia juga nampak mengalung di leher Mahendra, dia tersenyum karena merasa lucu dengan apa yang kini mereka lakukan.
"Aku ingin mandi, aku mau saat malam pertama kita, aku terlihat cantik dan wangi," kata Gracia.
"Kamu selalu cantik dan juga wangi," kata Mahendra seraya menghempaskan tubuh Gracia ke atas tempat tidur.
"Sayang, aku mau mandi." Gracia terlihat memelas.
"No, aku sudah tidak tahan." Mahendra terlihat membuka kancing kemejanya satu-persatu.
"Sayang, setidaknya izinkan aku untuk cuci muka dan gosok gigi," pinta Gracia.
"Baiklah, jangan lama." Mahendra menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Gracia nampak bangun dan segera turun dari tempat tidur, dengan cepat dia masuk kedalam kamar mandi agar Mahendra tak menyusulnya.