Who Is Adam?

Who Is Adam?
Sedih



Hari pertama bekerja, membuat Adam begitu fokus dalam menyesuaikan dirinya dengan pekerjaan di tempat dia bekerja.


Walaupun itu adalah perusahaan milik Grandpanya, bukan berarti dia harus bersanatai. Tapi, tetap saja dia harus bertanggung jawab atas pekerjaannya.


Dia, begitu teliti dan berhati-hati dalam mengerjakan semua pekerjaan yang di limpah kuasakan padanya. Adam bahkan sampai tak memperhatikan waktu, sampai Leo sang sekretaris masuk ke dalam ruangan Adam.


Saat Leo masuk, Adam terlihat sedang fokus pada layar laptop di hadapannya.


"Permisi, Tuan muda. Saya hanya ingin mengingatkan, jika Ini sudah hampir pukul satu dan anda belum makan siang." Leo langsung membungkuk hormat.


Adam pun langsung melihat jam mewah yang melingkar di tangan kirinya, kemudian, Adam mengalihkan tatapannya ke arah Leo.


"Kamu benar, Leo. Tapi, aku males keluar karena masih ada yang harus aku selesaikan. Tolong pesankan aku makan siang," pinta Adam pada Leo.


Adam kembali mengalihkan tatapannya pada layar laptop dan mengerjakan pekerjaannya.


"Baik, Tuan Muda. Saya akan memesankan anda makanan, kalau begitu saya permisi." Leo pun langsung berlalu dari ruangan Adam.


Setelah kepergian Leo, Adam langsung menghentikan pekerjaannya untuk sejenak, karena dia belum melakukan shalat dzuhur.


Adam membuka jasnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Tak lama, Adam sudah kembali dengan wajah yang terlihat lebih segar dan sedikit basah.


Adam segera mengambil sajadah dan melakukan shalat, tak jauh dari meja kerjanya.


Baru saja Adam mulai melakukan shalat, pintunya sudah ada yang mengetuk. Tapi, karena Adam tak kunjung membukakan pintunya, pintu pun dengan perlahan membuka.


Nampaklah Sisil, yang membawa nampan berisi makanan, yang di pesan oleh Leo.


Sisil sempat tertegun, karena melihat Adam yang sedang menyelsaikan shalatnya. Sisil hanya terdiam di depan pintu, sambil menyangga nampan yang dia bawa dengan kedua tangannya.


Selsai dengan kewajibannya, Adam langsung menghampiri Sisil dengan senyum di wajahnya.


"Kenapa kamu berdiri di situ?" tanya Adam.


Sisil nampak keget, karena Adam langsung menegurnya.


"Maaf, Tuan. Karena saya sudah lancang, saya masuk tanpa izin. Saya kira Tuan, pingsan karena tak kunjung membuka pintu." Sisil langsung menunduk, karena tak enak hati.


Adam pun langsung terkekeh, mana mungkin dia pingsan. Dia hanya belum sempat makan siang, bukan terkena serangan penyakit berbahaya.


"Kamu itu lucu, saya hanya sedang shalat. Terima kasih, karena sudah membawakan saya makan siang. " Adam langsung mengambil nampan yang Sisil bawa, kemudian langsung menyimpannya di atas meja.


Adam mulai membuka nasi kotak yang di bawa oleh Sisil, kemudian dia mulai melahapnya. Dia melupakan Sisil yang masih setia berada di sana.


"Tuan, apa masih ada yang harus saya kerjakan?" tanya Sisil yang masih berdiri di depan pintu.


"Astagfirullah, saya lupa kalau masih ada kamu. Kalau kamu mau, kita bisa makan bersama." Ajak Adam.


Sisil langsung terlihat tak enak hati, karena Tuannya begitu baik. Sama seperti Tuan Arley, baik walaupun terlihat tegas dan berwajah dingin.


Tapi, Tuan Arley selalu perhatian terhadap para karyawannya.


"Tidak usah, Tuan. Saya sudah makan siang, kalau begitu saya permisi." Sisil bersiap untuk segera pergi dari ruangan Adam.


"Tunggu!" Kata Adam.


Sisil pun langsung menatap Adam, dia penasaran dengan apa yang di inginkan oleh Tuannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Sisil.


Sisil memperhatikan wajah Adam yang terlihat tampan dan juga baik.


"Tolong buatkan saya kopi, seperti yang tadi pagi." Pinta Adam yang langsung melanjutkan kembali makan siangnya.


"Jangan, Tuan. Anda tidak boleh meminum kopi lagi," ucap Sisil tanpa sadar.


Adam langsung menghentikan kunyahannya, lalu, Adam pun langsung menatap Sisil dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Adam penasaran.


Sisil terlihat bingung untuk menjelaskan, dia hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Kenapa Saya tidak boleh minum kopi lagi?" tanya Adam sekali lagi.


"Itu, Tuan. Anu, anda kan telat makan siangnya. Tidak baik kalau langsung minum kopi, takutnya malah sakit perut." Jawab Sisil Asal.


Adam langsung terdiam, dia mengingat saat pertama membuka perusahaan miliknya. Dia sampai lupa makan siang dan hanya sempat minum kopi saja, perut Adam langsung melilit dan sampai harus bolak-balik kamar mandi.


Adam juga ingat, jika dia telat makan dan langsung meminum kopi, kejadiannya akan sama seperti itu.


"Ah, kamu benar. Saya suka sakit perut, kalau minum kopi saat telat makan." Adam terlihat kembali melanjutkan makan siangnya.


"Kalau begitu, saya buatkan teh Herbal saja. Apa Tuan, mau?" tanya Sisil.


Adam kembali melihat ke arah Sisil, untuk sesaat Adam menautkan pandangannya. Wajah Sisil terlihat cantik dan manis, tapi, saat Adam melihat kaki kiri Sisil.


Adam merasa perihatin, kenapa bisa sampai seperti itu, pikirnya.


"Jangan khawatirkan kaki saya, Tuan. Saya masih bisa bekerja dengan baik," cetus Sisil.


Adam langsung kaget mendengar ucapan Sisil, Adam jadi merasa bersalah karena sudah memandangi kaki kiri Sisil.


"Maaf, saya tidak bermaksud un--"


"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa mendapatkan tatapan iba dari banyak orang." Sisil pun langsung menunduk.


"Eh, maaf. Kalau kamu tersinggung, tapi aku tidak berniat apa-apa." Kata Adam penuh sesal.


"Saya sangat paham, kalau begitu, saya permisi dulu." Sisil langsung keluar dari dalam ruangan Adam.


Adam masih duduk terpaku, dia merasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan Sisil.


"Ya tuhan... Maaf, karena aku membuat seorang gadis cantik merasa tak nyaman." Ucap Adam lirih.


Adam melanjutkan kembali makan siangnya, baru saja Adam menyelsaikan makan siangnya, pintunya sudah di ketuk kembali.


Adam pun jadi berpikir, itu pasti Sisil, pikirnya.


"Masuk!" titah Adam.


Saat pintu terbuka, ternyata Leo yang datang. Adam sedikit kecewa, karena Sisil lah yang dia harapkan saat ini.


"Ini teh'nya, Tuan. Sisil yang membuatkan, saya hanya kebetulan ke pantry saja." Leo langsung meletakan secangkir teh d atas meja.


"Terima kasih, Leo." Adam langsung mengambil teh yang di buat oleh Sisil, lalu menyesapnya dengan perlahan.


"Sama-sama, Tuan. Saya permisi," ucap Leo.


Adam pun menganggukan kepalanya, Leo pun langsung berlalu dari ruangan Adam.


"Teh'nya enak, aku suka. Dia memang gadis yang pintar, kopinya enak, teh'nya enak. Aku jadi penasaran dengan rasa masakannya," Adam pun langsung terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Berbeda dengan Adam yang terlihat sedang tersenyum, Sisil terlihat sedang bersedih. Dia sedang memandang kaki kirinya, airmatanya luruh begitu saja.


"Aku ingin normal, tapi biaya terapinya sangat mahal." Ucap Sisil lirih.