
Melihat Mharta yang sangat tersiksa karena pengaruh obat perangsang tersebut, membuat Arkana dan Tuan Arley berdecak senang.
Mharta sudah seperti penari erotis yang di sediakan di sebuah club di dalam ruang khusus, dia masih saja meliukan tubuhnya sambil meracau.
"Tolong aku, panas! Bawa aku dari sini, aku ingin melakukannya. Aku sudah tak kuat, cepat kita lakukan!" racau Mharta.
Melihat Mharta yang semakin tersiksa karena ulah obat perangsang tersebut, membuat Tuan Arley dan Arkana makin berdecak senang.
Mereka merasa puas karena sudah bisa membalaskan rasa sakit yang Adam derita, bahkan kalau perlu, Tuan Arley masih ingin memberikan pelajaran pada Mharta.
Akan tetapi, Arkana melarangnya. Dia malah mengingat ketiga putri Devano, Alicia, Airin dan juga Anggelica.
Devano memang mempunyai tiga putri yang cantik, dia sengaja tak menjeda kehamilan Eliza. Dia berharap akan mendapatkan seorang putra. Akan tetapi, setelah dua kali melahirkan Eliza tetap melahirkan anak perempuan.
Akhirnya, Devano pun menyerah. Apa lagi istrinya melahirkan dengan cara operasi caesar, dia merasa tak tega jika harus melihat perut istrinya dilakukan pembedahan lagi.
"Jadi, kamu akan mengampuninya?" tanya Tuan Arley.
Dia tak menyangka jika Arkana, malah berhenti begitu saja. Karena menurutnya, masih harus ada lagi seasen berikutnya untuk acara hukuman si rubah kecil
"Tidak juga, Dad. Maksudku, kalau mau di lanjut, nanti saja. Biarkan dia beristirahat dulu," ucap Arkana.
"Baiklah, kalai begitu kita pulang saja." Tuan Arley langsung menghampiri Bastra dan Idan.
Kedua orang kepercayaan Tuan Arley itu pun, langsung menghampirinya seraya membungkuk hormat.
"Ada apa Master?" tanya mereka bersamaan.
"Aku menitipkan Mharta pada kalian, ingat! jangan sampai mati, aku masih ingin memberikan pelajaran padanya!" tegas Tuan Arley.
"Siap Master!" jawab keduanya.
Tuan Arley dan juga Arkana langsung melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari sana, mereka sudah lelah dan ingin segera kembali ke rumah masing-masing.
Tapi, baru saja mereka melangkah, Bastra sudah memanggil Tuan Arley.
""Master! sorry mengganggu, apakah wanita itu boleh aku pakai?" tanya Bastra hati-hati.
Ternyata Bastra yang melihat liukan tubuh Mharta merasa tergoda, bahkan miliknya sudah sangat menegang karena melihat Mharta yang sedari tadi merintih, meracau dan sesekali mende.sah.
Tuan Arley pun langsung terkekeh," sepertinya dia memang terlihat sangat menginginkannya. Jika dia mau, lakukan saja. Tapi, jangan sampai mati."
pembalasan tahap kedua telah di mulai, itulah yang tersirat di dalam pikiran Tuan Arley. Walaupun Mharta menginginkannya, tapi pasti dia akan sangat menyesal karena berhubungan badan dengan orang yang tak dia kenal.
Apa pagi, tanpa di bayar. Karena selama ini, dia selalu di beri pasilitas mewah jika sudah memberikan kepuasan pada langganannya.
Seringai licik pun nampak terserat di bibir Bastra, pria itu benar-benar sudah tak tahan ingin segera menyatukan tubuhnya dengan Mharta.
Apa lagi Mharta sedang berada di bawah kuasa obat perangsang, pasti dia bisa memimpin permainan dengan kasar, juga melakukannya dalam tempo yang lama.
"Tankyu, Master." Jawab Bastra.
"Your well come," jawab Tuan Arley seraya berlalu.
Selepas kepergian Tuan Arley dan juga Arkana, Bastra langsung membuka ikatan Mharta. Dengan tak sabar, Mharta langsung memeluk Bastra dengan posesif, lalu berjinjit dan mengecupi rahang tegas milik Bastra.
Bastra langsung terkekeh, sedangkan Idan yang memang masih bujang dan sudah mempunyai seorang kekasih, malah bergidig dibuatnya.
"Mau ngga, Dan?" tanya Bastra.
"Ogah, Bang. Buat elu aja, gue mendingan ama pacar gua aja. Geli gue lihat dia, kaya belatung nangka." Setelah berucap, Idan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan Bastra, langsung membawa Mharta ke dalam kamar tempat Bastra biasa beristirahat. Bastra langsung membuka bajunya dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tipis, yang ada di sana.
Tanpa perlu menunggu waktu lama, Mharta langsung melucuti bajunya sendiri dan naik ke atas tubuh Bastra. Wanita itu benar-benar liar, tapi hal itu membuat Bastra berdecak senang.
Sedangkan di dalam apartemen, Sisil terlihat begitu khawatir melihat keadaan Adam. Karena kini ada malah demam, dengan telaten Sisil mengompres Adam.
Sedangkan Laila sibuk membuat bubur untuk Adam, sambil memasak untuk makan malam.
Saat semua masakan Laila telah matang, Arkana dan juga Al datang menghampiri Laila. Mereka sudah bersiap untuk makan malam bersama.
Sedangkan Taun Arley, memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya. Dia sudah rindu dengan istri dan juga putranya Haidar.
"Bagaimana keadaan Adam?" tanya Arkana.
"Dia demam, sekarang lagi di kompres sama Sisil. Ini ibu buatkan bubur, biar dia makan terus minum obat." Laila mengambilkan Nasi beserta lauknya untuk Arkana.
"Memangnya, Abang kenapa, Bu?" tanya Al.
Untuk sesaat, Arkana dan Laila pun saling pandang. Kemudian, mereka pun tersenyum kepada Al.
"Abang kamu sakit, demam." Laila dengan cepat menyahuti.
Laila dan Arkana tak mungkin mengatakan kepada Al, jika Adam sakit karena pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh Mharta. Al masih kecil, menurut mereka Al belum sepatutnya tahu dengan kejadian yang menimpa Adam.
Al hanya cukup tahu saja, jika Adam sedang sakit demam.
"Padahal seingatku, tadi pagi dia baik-baik saja. Kenapa sekarang bisa sakit?" tanya Al, sambil memenuhi piring kosong miliknya dengan nasi dan lauk pauk yang sudah dia pilih.
"Sudah, tak perlu kamu memikirkan Abang kamu. Sekarang, makan saja yang banyak sama Ayah. Ibu mau masuk dulu ke dalam kamar Abang kamu."
Laila pun pergi dengan membawa 1 mangkok bubur dan segelas air putih, untuk Adam. Tak lupa, Laila juga menyiapkan obat yang sudah diberikan oleh Dokter Bian.
Saat Laila masuk ke dalam kamar Adam, Laila melihat Sisil yang sedang memijat tangan Adam. Laila pun tersenyum, lalu menghampiri Sisil dan duduk di samping Adam.
"Bagaimana keadaannya?" tanya aja Laila seraya mengecek panas tubuh Adam dengan punggung tangannya.
"Sudah lebih baik, panasnya sudah normal. terus, Tuan Adam juga sudah mulai tenang." Jawab Sisil apa adanya.
"Syukurlah, aku sangat menghawatirkan keadaan putra ku ini. Terima kasih, karena kamu sudah mau membantu saya." Laila mengusap pundak Sisil dengan lembut.
"Sama-sama Nyonya," ucap Sisil.
Laila menggoyangkan tangan Adam, dia harus bangun, makan dan juga minum obat.
"Adam, Sayang. Bangun, Nak. Makan dulu, terus minum obatnya." Laila berusaha untuk membangunkan putranya.
Tak lama Adam pun terlihat membuka matanya, dia melihat ke arah Laila dan juga Sisil. Kemudian dia pun tersenyum dengan manis, walaupun wajahnya masih terlihat pucat. Tapi tak mengurangi kadar ketampanannya.
Laila dan Sisil langsung membantu Adam agar bisa duduk dengan nyaman, Setelah itu Laila pun mulai mengendok bubur dan hendak menyuapi putranya.
"Bu, boleh ngga kalau Adam di suapi oleh Sisil?" tanya Adam dengan suara lemahnya.
"Hah?!" kaget Sisil.
Sedangkan Laila malah tersenyum, lalu menyerahkan mangkok buburnya ke tangan Sisil.
...****************...
Jangan lupa Like sama Vote'nya..