
"Maaf, Tuan muda," security yang ada di sana nampak membungkuk hormat.
"Ada apa?" tanya Adam.
"Supir anda kena serangan jantung, sekarang beliau sudah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit," jelasnya.
"Astagfirullah," ucap Adam seraya mengelus dada. Adam lalu menatap Leo, "bagaimana?" tanya Adam.
"Biarkan dia dirawat sampai sembuh, Tuan. Nanti kalau dia sudah sembuh, minta diantarkan sama supir kantor," ucap Leo.
"Lalu, bagaimana dengan kita?" tanya Adam.
"Saya siap mengemudi," ucap Leo.
"Baiklah, Leo. Aku percaya padamu, tapi kita harus makan siang dulu. Terus shalat dzuhur," kata Adam.
"Boleh, Tuan. Di sebrang kantor ada Resto baru, makanannya enak-enak. Kita bisa makan siang di sana, Tuan." Leo menunjukan Resto yang katanya menyediakan makanan yang enak itu.
"Ya, kita makan di sana saja," ucap Adam.
Adam, Leo dan Gracia pun hendak melangkahkan kakinya menuju Resto yang akan mereka kunjungi, tapi sebelum mereka pergi, Leo pun berpesan kepada security yang ada di sana untuk memberikan perawatan terbaik pada supir Adam.
"Berikan yang terbaik ya, Pak. Untuk perawatan Pak sopir," pesan Leo.
"Siap, Tuan," ucap Security tersebut.
"Siapa yang akan berjaga di sana?" tanya Leo.
"Saya, Tuan. Karena jam kerja saya sudah mau habis," ucap security tersebut.
Adam tiba-tiba saja merogoh sakunya dan mengambil dompet yang ada di saku tersebut, kemudian dia mengambil beberapa lembar uang 100.000 dan memberikannya kepada security tersebut.
"Ini untuk bekal Bapak saat menunggu di Rumah Sakit," ucap Adam.
"Tapi, Tuan. Ini terlalu berlebihan," kata security tersebut.
"Ambilah," ucap Adam penuh perintah.
"Baik, Tuan," sahutnya.
Setelah urusan mengenai Sopir Adam selesai, Adam, Leo dan Gracia pun langsung melangkahkan kakinya menuju Resto yang hendak mereka kunjungi.
Sampai di Resto tersebut, Adam, Leo dan juga Gracia langsung memesan makanan dan memakannya dengan sangat lahap.
Ternyata bekerja dengan keras itu membutuhkan asupan gizi yang banyak. setelah selesai makan, mereka pun langsung melaksanakan salat dzuhur di mushala yang tak jauh dari Resto tersebut.
Setelah selesai salat dzuhur dan juga makan siang, Adam, Leo dan juga Gracia langsung kembali ke kota Jakarta.
Tak lupa Adam pun membelikan oleh-oleh untuk keluarganya saat berhenti di rest area, saat melihat Gracia, Adam pun seolah mengerti.
Dia pun membelikan beberapa snack oleh-oleh untuk Gracia, karena dia masih ingat saat Gracia bercerita tentang ibunya pada Leo.
Gracia terlihat sangat senang, dia beberapa kali mengucapkan terima kasih kepada Adam.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih, ibu saya pasti senang," ucap Gracia.
"Sama-sama," ucap Adam.
Setelah membeli oleh-oleh, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Pukul 4 sore mereka pun tiba di Jakarta, tentu saja yang terlebih dahulu diantar adalah Adam.
"Saya turun, kamu antarkan Gracia sampai di rumahnya. Jangan diapa-apain," pesan Adam.
Wajah Leo terlihat ditekuk saat mendengar ucapan dari Adam, padahal dirinya hanya seorang pecinta wanita bukan seorang lelaki yang suka memanfaatkan situasi, pikirnya.
Tiba di depan gang, Gracia pun meminta Leo untuk menurunkan dirinya di sana.
"Di sini saja, Tuan." Gracia sudah bersiap hendak turun.
"No, ini sudah mau hujan. Aku antar sampai depan rumah," ucap Leo memaksa.
"Tapi, Tuan. Nanti pas parkir keluarnya akan sedikit susah," jawab Gracia.
"Jangan membantah, ini adalah perintah dari Tuan Adam. Aku harus mengantarkanmu sampai ke rumahmu dengan selamat," jawab Leo santai.
Gracia pun tak bisa membantah, akhirnya dia pun menuruti apa yang diucapkan oleh Leo.
Sampai di depan rumahnya, Gracia pun meminta Leo untuk memberhentikan mobilnya. Leo sempat memperhatikan rumah yang ditunjuk oleh Gracia, terlihat kecil tapi sangat nyaman untuk ditinggali.
Di depan rumahnya pun terdapat bunga-bunga yang secara sengaja ditanam, sangat indah dan terlihat penuh warna.
"Terima kasih, Tuan. Maaf saya tidak bisa mengajak anda untuk mampir," kata Gracia.
" Ya, tidak apa-apa," Jawab Leo.
Setelah Gracia turun, Leo tidak langsung pulang. Dia memperhatikan Gracia yang terlihat berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia ingin memastikan jika Gracia masuk ke dalam rumahnya dengan selamat.
Setelah Gracia masuk kedalam rumahnya, Leo pun langsung menghidupkan mesin mobilnya. Dia hendak memarkirkan mobilnya karena dia pun ingin segera pulang dan beristirahat.
Dia merasa sangat lelah, namun baru saja mobilnya terparkir dengan sempurna. Tiba-tiba saja dia mendengar Gracia yang berteriak histeris, Leo pun jadi panik.
Dia langsung turun dari mobilnya dan berlari menuju rumah Gracia, saat Leo membuka pintunya dia melihat Gracia yang sedang menangis sambil mendekap erat tubuh ibunya.
Leo yang panik dengan cepat langsung mengangkat tubuh ibu Gracia dan langsung menggendongnya, mau tak mau Gracia pun langsung mengikuti Leo.
Tak lupa dia mengunci pintunya sebelum masuk ke dalam mobil yang Leo bawa. Tanpa banyak bicara dan bertanya apapun kepada Gracia, Leo yang panik langsung melajukan mobilnya dengan cepat ke Rumah Sakit terdekat.
Sampai Rumah Sakit terdekat, tanpa ragu Leo pun langsung menggendong tubuh ibu Gracia yang terlihat sangat kurus, wajah ibunya Gracia pun nampak memprihatinkan, tapi masih terlihat cantik.
"Sus, tolong ibu saya," teriak Leo.
Gracia sempat tertegun saat mendengar ucapan Leo, namun dengan cepat dia menyadarkan dirinya dan membantu Suster yang datang untuk mendorong ibunya menuju ruang IGD.
Setelah Suster masuk ke dalam ruang IGD, Leo dan Gracia nampak menunggu di bangku tunggu.
"Sabar ya, aku yakin pasti ibu kamu akan cepat sembuh." Setelah mengatakan hal itu, Leo nampak melamun.
"Iya," jawab Gracia.
Gracia memang merasa sedih karena ibunya masuk ke Rumah Sakit, namun melihat tingkah Leo yang terasa aneh saat setelah menggendong ibunya, Gracia pun jadi bertanya-tanya.
Ada apa dengan Leo? Namun dia tak berani bertanya langsung kepada Leo, saat Leo terlihat sedang asik dengan lamunannya. Tiba-tiba saja ponsel yang berada di saku celananya pun berdering dengan sangat nyaring.
Leo pun langsung tersentak kaget, namun dengan cepat dia mengambil ponselnya. Senyum Leo langsung mengembang, kala di layar ponselnya memperlihatkan nama wanita yang sangat dia sayangi.
"Yes, Mom," jawab Leo.
"Kenapa belum pulang? Apa kamu belum sampai?" tanya Mommy Maura.
"Sudah, Mom. Tapi, ibunya temen aku lagi sakit. Jadi aku mengantarkannya dulu ke Rumah Sakit," jawab Leo.
"Oh, good. Sejak kapan kamu perduli terhadap orang lain? Biasanya kamu hanya perduli terhadap koleksi cewek-cewek kamu itu," ucap Mommy Maura.
"Ck, Mom!" pekik Leo.