
Sisil yang sedang bermain di alam mimpinya, langsung terbangun. Tubuhnya seakan meremang, bahkan aliran listrik seakan menyengat tubuhnya. Saat Adam terus saja bermain di setiap inci tubuhnya.
"Mas," panggil Sisil yang sudah mulai tak tahan.
"Mas boleh kan, Sayang?" tanya Adam, Sisil hanya bisa mengangguk patuh.
Mendapatkan anggukan dari istrinya, membuat Adam bersemangat. Bahkan setelah melakukan pemanasan, Adam langsung memasukan miliknya ke dalam kelembutan milik istrinya tanpa aba-aba.
Hal itu membuat Sisil berjenggit, dia sangat kaget dengan ulah suaminya itu. Adam yang sudah di selimuti kabut gairah langsung memompa tubuh istrinya dengan tempo cepat.
Membuat Sisil harus memejamkan matanya dengan kuat, karena rasa sakit di area intinya. Tangan Sisil bahkan mencengkram tangan kekar Adam dengan kuat, hingga kuku Sisil ikut menancap dan meninggalkan bekas luka di sana.
Air mata Sisil bahkan mengalir dari pelupuknya, karena sakit yang teramat di area intinya. Sisil ingin sekali memukul Adam, akan tetapi dia takut mengecewakan suaminya.
Tiba di menit kesepuluh, Adam sudah merasa tak tahan. Miliknya terasa sangat ngilu hingga dengan cepat memuntahkan cairan putih lengket yang sangat kental.
Sisil sempat kaget dibuatnya, karena dia tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang terasa hangat masuk ke dalam miliknya yang langsung menembus ke dalam rahimnya.
"Maaf," ucap Adam seraya mengecupi wajah Sisil.
Hal itu membuat Sisil sanagt kesal, baru juga anget, pikirnya. Suaminya sudah tumbang, belum juga ada rasa panas-panasnya. Apa lagi memgeluarkan peluh, uh... sungguh Sisil sangat kesal.
Kalau mengingat suaminya yang terlihat terburu-buru, Sisil makin kesal dibuatnya. Sisil pikir Adam akan melakukannya dengan lembut dan dalam jangka waktu yang lama, apa lagi saat Sisil melirik milik Adam yang berukuran jumbo.
Sisil kira, dia akan benar-benar mendapatkan kepuasan yang sangat luar biasa. Nyatanya, hanya sepuluh menit saja.
Adam langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya, Sisil langsung berbalik dan memunggungi Adam.
"Sayang... maaf. Mas'nya terlalu terburu-buru, Mas ngga sabar. Kamu kan tahu ini pertama buat Mas, Mas'nya keenakan. Punya kamunya enak banget, " ucap Adam beralasan.
Adam mengusap pundak Sisil yang terlihat masih polos, dia merasa sangat bersalah karena di kala pertama melakukannya. Dia malah mementingkan egonya, dia terlalu terburu-buru.
Hal itu membuat Sisil tak merasakan enaknya malam pertama, pasti baru rasa sakit saja yang dia rasakan saat ini dan juga rasa... dongkol.
"Ayang..." panggil Adam seraya mengusap lembut tangan Sisil.
Bukannya menjawab, Sisil malah menggedikan bahunya. Rasanya dia sangat sebal terhadap suaminya itu.
"Ayang... maaf." Adam berucap dengan nada penuh penyesalan.
Sisil seolah tak perduli, dia malah menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya. Adam terlihat pasrah, lalu dia melihat miliknya yang terlihat terkulai lemas.
"Masya Allah, malam pertama sudah bikin dia kecewa." Adam langsung mengecupi wajah Sisil di balik selimut, lalu bangun dan mengambil handuk untuk menutupi area pribadinya.
Adam kembali mengambil ponselnya, lalu dia mengirimkan pasan chat pada Abigail.
Adam
"By... gue mu nanya." Isi pesan singkat Adam.
Tak perlu waktu menunggu lama, Abigail langsung membalas pesan chat dari Adam.
Abigail
"Apaan lagi, sih? Belum setengah jam elu telpon gue, sekarang udah kirim pesan lagi." Keluh Abigail.
Adam
"Cara biar gue bisa kuat di ranjang gimana?" tanya Adam tanpa basa-basi.
Abigail
"Elu gila, nanya ama gue. Gue masih lajang, jangan nanya yang aneh-aneh." Kesal Abigail.
Adam
Abigail
"Setahu gue, mainnya jangan buru-buru. Cari titik kelemahan bini elu, pikirin dulu kepuasan pasangan. Baru elu nyari kepuasan elu sendiri, jangan main muntah-muntah aja. Bini elu bisa enek," jelas Abigail logis.
Adam
"Gue bakal coba, tapi kalau punya gue ngga bangun lagi gimana?" tanya Adam polos.
Abigail
"Ya Tuhan..." Abigail menepuk jidatnya walaupun Adam tak melihatnya, "mungkin elu kaget saat melihat reaksi kecewa dari wajah bini elu." Abigail langsung terkikik geli.
Abigail pun langsung bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi, pada lelaki yang sangat ia puja dulu.
Adam terlalu terburu-buru, hingga dengan cepat keluar dan membuat isttinya marah. Parahnya, dia sangat takut melihat kemarahan di wajah istrinya, membuat milik Adam sulit untuk bangkit kembali.
Abigail yang ingin tertawa, langsung memutuskan sambungan teleponnya. Hal itu membuat Adam berdecak sebal, karena dia masih ingin curhat dengan Abigail.
"Menyebalkan sekali!" keluh Adam, dia menyingkap handuknya melihat miliknya yang terkulai lemas. " Besok-besok harus sabar, jangan terburu-buru. Baru sekali ngerasain yang sempit langsung merasa kejepit, susah buat ngedaliin, jadi kena masalah kan?"
Adam langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia lebih memilih untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia masuk ke dalam selimut yang di pakai istrinya, lalu memeluk Sisil dengan erat.
"Maaf..." ucap Adam sebelum memjamkan matanya.
*/*
Malam yang terasa mencekam untuk Adam kini telah berakhir, sinar mentari sudah mulai menyapa. Menghangatkan tubuh Adam yang memang langsung terkena sinar matahari dari balik jendela.
Adam mengerjapkan matanya, dia memicingkan matanya saat matanya terasa silau akan sinar sang surya.
Adam melirik jam di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Pantas saja pikirnya, sinar matahari sudah terasa menghangatkan tubuhnya.
"Gue kesiangan, gue bahkan ngga shalat subuh." Keluh Adam.
Adam mengedarkan pandangannya, dia mencari sosok wanita yang kemarin dia nikahi. Sayangnya tak ada di sana, dengan cepat Adam bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak ada pula sosok wanita yang membuatnya merasa sangat resah.
Adam pun memutuskan untuk segera mandi, setelah itu Adam langsung memakai baju santai dia mengambil ponselnya.
Dia mencoba menghubungi Sisil, sayangnya ponselnya tertinggal di atas nakas. Adam pun langsung menghubungi Laila, karena keluarganya memang masih berada di hotel tersebut.
Setelah menelepon Laila, Adam pun bisa bernafas dengan lega. Karena ternyata, Sisil sedang berada bersama dengan keluarganya.
Sisil sedang menikmati sarapan paginya bersama keluarga besarnya, Adam pun dengan cepat langsung turun dari kamar hotelnya menuju Resto yang berada di lantai 3.
Saat tiba di lantai tiga, Adam bisa melihat Sisil yang sedang berbicara dengan Alicia. Mereka terlihat tertawa dengan lepas, Adam segera menghampiri istrinya lalu mengecup kening Sisil dengan mesra.
"Pagi, Sayang." Sapa Adam, "pagi semua." Sapa Adam pada semua anggota keluarganya.
"Pagi..." jawab Laila.
"Bagaimana?" tanya Tuan Arley.
Mendapatkan pertanyaan dari Tuan Arley, Adam langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Tuan Arley langsung mengernyit heran, pasalnya saat melihat Sisil, dia melihat raut tak suka. Saat melihat Adam, malah terlihat seperti orang yang sangat bersalah.
+
+
+
Hai Hai Hai,,, jangan lupa mampir ke karya Othor yang baru ya..