Who Is Adam?

Who Is Adam?
Keras Kepalanya Reinata



Dua hari kemudian, Mahendra dan juga Gracia sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan milik Reinata. Karena mereka harus membicarakan masalah pekerjaan yang sebentar lagi akan dilaksanakan.


Sebenarnya Adam bukan ingin menghindari Reinata, hanya saja dia juga harus melaksanakan meeting pagi ini. Tentu saja Leo lah yang bertugas untuk mempresentasikan ide-ide yang sudah tercetus dan sudah medapatkan persetujuan dari Adam.


Jadi, mereka bertempat pun berbagi tugas, agar pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Namun, baru saja Mahendra dan juga Gracia hendak masuk ke dalam mobil untuk pergi ke perusahaan milik Reinata.


Ternyata Reinata sudah sampai di sana, dia terlihat membawa semua berkas yang diperlukan dan menghampiri Mahendra beserta dengan Gracia.


"Loh, Nona kok kemari? Bukankah sudah saya katakan jika pembahasan kerjasama kita akan dilaksanakan di perusahaan milik Nona," kata Mahendra.


"Ck! Aku maunya kita meeting di sini saja, lagi pula aku sudah datang. Masa aku harus pulang lagi!" ucap kesal Reinata.


Mendengar ucapan Reinata, Gracia dan juga Mahendra terlihat begitu kesal. Kalau saja dia bukan teman dari atasan mereka, sudah pasti Mahendra atau pun Gracia sudah membentak wanita tersebut.


"Ya ampun, Nona. Kenapa anda begitu memaksa? Tuan Adam sebentar lagi akan meeting bersama dengan perusahaan asing, tidak ada tempat meeting lagi. Jadi, bagaimana kalau kita kembali saja ke perusahaan anda?" tanya Gracia.


Reinata nampak berpikir, dia merasa jika Adam sengaja menghindari dirinya. Makanya dia menyuruh Mahendra dan juga Gracia untuk meeting di perusahaan miliknya.


"Aku tak percaya jika Adam sedang ada meeting," kata Reinata.


Setelah mengatakan hal itu, Reinata langsung masuk ke dalam perusahaan Caldwell. Dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Adam, Mahendra dan juga Gracia hanya bisa mengikuti langkah Reinata sambil menggerutu di dalam hatinya.


Sampai di depan ruangan Adam, dia langsung mengetuk pintu tersebut. Namun tak ada jawaban, Reinata pun dengan lancang langsung masuk ke dalam ruangan Adam.


Namun sayangnya, Adam tak ada di ruangan tersebut. Ruangan tersebut terlihat kosong.


"Di mana Tuan kalian?" tanya Reinata.


Wajah Reinata terlihat sangat kesal sekali, saat mengetahui Adam tidak ada di dalam ruangannya.


"Bukannya sudah aku katakan, jika Tuan Adam sedang ada meeting bersama perusahaan asing," ucap Gracia.


"Aku tidak percaya pada kalian, di mana tempat meetingnya?" tanya Reinata memaksa.


"Ya ampun, Nona ini benar-benar keras kepala!" dengan terpaksa Gracia pun menunjukkan ruang meeting yang yang ada di lantai tersebut.


Reinata dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ruang meeting tersebut, dia pun langsung mendorong pintu ruang meeting tersebut.


Semua orang yang ada di sana nampak memalingkan wajahnya ke arah Reinata, Renata pun terlihat sangat malu karena ternyata yang di ucapkan oleh Mahendra dan juga Gracia adalah benar.


Adam terlihat menatap Reinata dengan tatapan tajamnya, dia tak suka jika Reinata masuk tanpa permisi ke ruangan meeting tersebut.


"Maaf, saya salah ruangan. Maaf, saya salah masuk ruangan," ucap Reinata kikuk.


Beruntung orang-orang yang ada di ruangan tersebut tidak ada yang marah kepada Reinata, mereka mengangguk lalu tersenyum.


Reinata terlihat menutup ruangan meeting tersebut, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia terlihat sangat malu sekali, namun saat melihat Mahendra dan juga Gracia, dia terlihat menegakkan tubuhnya lalu memasang wajah datar.


"Ayo kita pergi ke perusahaanku, aku tunggu di sana," ucap Reinata seraya berjalan dengan cepat.


Gracia dan Mahendra saling tatap, lalu merekapun menggedikkan kedua bahu mereka, lalu mereka terlihat mengikuti langkah Reinata.


Sampai di perusahaan miliknya, Reinata langsung mengajak Mahendra dan juga Gracia menuju ruang meeting.


Selama meeting berlangsung, wajah Reinata terlihat ditekuk, sesekali mahendra saling pandang dengan Gracia.


Mereka pun jadi bingung dibuatnya, karena Reinata terlihat tidak konsentrasi. Bahkan dia terlihat lebih banyak memperhatikan ponselnya, entah apa yang sedang Reinata lakukan saat itu.


Namun Mahendra dan juga Gracia seakan tak peduli, setelah 1 jam meeting pun berakhir. Gracia dan juga Mahendra pun memutuskan untuk segera kembali ke perusahaan Caldwell, sedangkan Reinata terlihat terus menggerutu.


Padahal dia sungguh sangat berharap bisa bersuaan bersama dengan Adam, namun sayangnya keinginannya hanyalah angan belaka.


Saat di perjalanan menuju perusahaan Caldwell, Gracia yang merasa lucu akan tingkah Reinata pun langsung mengutarakan pendapatnya.


"Eh, Tuan. Kamu memeperhatikan tidak, Nona Reinata itu sangat terobsesi pada Tuan Adam. Dia seperti wanita yang tidak punya harga diri, tahu Tuan Adam sudah punya istri. Masih saja genit," kata Gracia.


Mahendra terlihat menoleh ke arah Gracia, kemudian dia pun fokus kembali untuk menyetir.


"Dasar bocah! Ngga usah komentarin orang lain, urus saja diri kamu sendiri," kata Mahendra.


"Ya ampun, aku ini bukan bocah, Tuan. Gini-gini aku sudah bisa bikin bocah," kata Gracia.


Mendengar ucapan Gracia, Mahendra pun langsung memberhentikan mobilnya. Mahendra lalu melepaskan sabuk pengamannya dan dia pun mencondongkan tubuhnya ke arah Gracia.


Sontak Gracia langsung memundurkan tubuhnya, dia sangat takut melihat wajah Mahendra yang terlihat sangat dekat.


"Katanya sudah bisa bikin bocah, baru dideketin saja sudah takut." Kembali Mahendra memasang sabuk pengamannya, lalu melajukan mobilnya menuju perusahaan Caldwell.


Gracia terlihat mencebik kesal, lalu dia pun menyilangkan kedua tangannya di depan dada.