Who Is Adam?

Who Is Adam?
Tawaran menggiurkan



Netra Adam sama sekali tak berkedip, tatapan matanya begitu terfokus pada Sisil yang sedang menyimpan kopi pesanan Adam di atas meja.


Leo hanya bisa menghela napas, saat melihat atasannya yang terlihat tidak fokus.


Padahal, hal yang ingin di sampaikan oleh Leo adalah hal yang sangat penting.


"Kopinya sudah saya siapkan, saya permisi." Sisil langsung berbalik dan keluar dari ruangannya Adam.


Sisil tak ingin berlama-lama di sana, dia takut mengganggu kegiatan Adam dan juga sekretarisnya.


Adam hanya bisa menatap punggung Sisil, yang semakin lama semakin tak terlihat dari pandangan matanya.


"Ehm, lima belas menit lagi, kita ada meeting, Tuan!" Leo sengaja meninggikan suaranya, agar perhatian Adam cepat fokus pada pekerjaannya.


Adam pun langsung menoleh ke arah Leo, menyadari kesalahannya, Adam pun langsung tersenyum canggung.


"Tadi kamua ngomong apa? saya ngga denger," ucap Adam.


Adam langsung menyapa Leo, dia sudah siap mendengarkan apa yang akan Leo katakan.


"Gimana mau denger, Tuan. Kalau fokus anda cuma sama Sisil aja," cibir Leo.


Leo berkata dengan nada rendah, sebenarnya dia takut kalau Adam akan marah. Tapi, Leo sangat mengenal Adam yang selalu ramah pada siapa pun.


Adam pun langsung terkekeh," sorry. Saya ngga fokus, saya malah perhatiin Sisil. Jadi, tadi kamu ngomong apa?"


"15 menit lagi, meeting akan segera dimulai. Anda harus bersiap sekarang juga," ucap Leo.


"Ah, saya lupa. Apa semuanya sudah siap?" tanya Adam.


Adam langsung membuka jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi.


"Sudah, Tuan." Jawab Leo.


Leo pun langsung menggulir layar ponselnya, dia mengirimkan pesan pada Mahendra yang sudah terlebih dahulu sampai di ruang meeting.


"Baiklah, kalau begitu kamu duluan masuk ke ruang meeting. Soalnya, saya mau ngopi dulu." Adam langsung mengambil kopi yang sudah dibuat oleh Sisil, lalu menyesapnya dengan perlahan.


Leo menatap atasannya, yang terlihat begitu bersemangat untuk menikmati kopi buatan Sisil.


"Jangan melihat aku seperti itu, cepatlah pergi." Adam langsung mengibaskan tangannya, lalu kembali menyesap kopi tersebut.


Melihat atasannya yang sedang menikmati kopi, Leo pun tak mau mengganggu. Dengan cepat, dia pun berjalan ke ruang meeting sesuai dengan titah Adam.


Sepeninggal Leo, Adam terus menikmati kopi buatan Sisil. Sesekali, dia berdecak senang karena menyukai kopi yang dibuat oleh Sisil.


"Enak, selalu saja terasa enak." Adam kembali menyesap kopinya, lalu bangun dan pergi ke ruang meeting.


Sampai di ruang meeting, ternyata semua orang sudah berkumpul di sana. Dengan cepat, Adam pun memulai meeting tersebut.


Karena Adam tidak ingin berlama-lama dalam mengerjakan tugasnya, setelah hampir satu jam, meeting pun selesai dilaksanakan dan Adam pun kembali ke dalam ruangannya.


*/*


Pukul setengah dua belas siang, Sisil menghangatkan masakan yang tadi pagi sudah dia masak. Hanya ikan goreng, sambel dan tumis kangkung.


Dengan senyum manisnya, Sisil menata masakan yang sudah dia panaskan di atas piring.


"Semoga saja, Tuan Adam, suka." Sisil langsung menyiapkan makan siang untuk Adam dan segera mengantarkannya.


Tak lupa, Sisil juga membawakan air putih dan jus buah untuk Adam.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk! titah Adam.


Sisil pun langsung masuk ke dalam ruangan Adam, dengan membawa makanan yang sudah dia panaskan di atas nampan.


Kemudian, dia pun menyusun makanan yang dia bawa di atas meja di dekat sofa tunggu. Adam yang melihat Sisil pun, langsung tersenyum dan kemudian dia menghentikan pekerjaannya.


Dia bangun dari kursi kebesarannya dan langsung menghampiri Sisil.


"Cuma ini, Tuan. Ngga apa-apa kan?" tanya Sisil.


Dia takut Adam tak akan suka, dengan masakan sederhana yang sudah dia masak.


Adam langsung duduk di sofa, lalu memperhatikan menu makan siang yang Sisil masak. Sisil terlihat cemas, sedangkan Adam langsung tersenyum.


"Kamu tuh kaya Ibu, suka masak makanan khas Indonesia." Adam mulai mengendok nasi dan memasukannya ke dalam mulutnya.


Denga raut wajah penuh harap, Sisil melihat wajah Adam.


"Bagaiaman, Tuan. Apakah enak?" tanya Sisil hati-hati.


"Enak, aku suka. Mulai besok belajarlah memasak makanan lain, dengan senang hati aku akan mencobanya." Adam kembali menikmati masakan Sisil.


"Syukurlah kalau enak, saya permisi dulu kalau begitu." Sisil mulai melangkahkan kakinya, dia hendak keluar dari ruangan Adam.


"Tunggu!" Sisil langsung mengentikan langkahnya.


Adam langsung bangun dan mengajak Sisil untuk duduk di salah satu sofa tunggu, dia menggenggam tangan Sisil dan memandangnya dengan lekat.


Sisil terlihat salah tingkah, karena tak biasanya ada seorang pria yang menatapnya seperti itu. Selama ini, banyak pria yang mendekatinya.


Akan tetapi, hanya untuk menghinanya. Mengatakan jika dirinya adalah wanita cacat. Tapi, Sisil tak pernah sedih. Sisil menikmati apa pun, yang sudah di takdirkan oleh sang pencipta padanya.


"Tunggu sebentar, kemarin temanku memberitahukan bahwa tak jauh dari sini ada tempat terapi pengobatan untuk kaki kamu." Adam hanya beralasan, menggunakan kata teman.


Karena memang, Adam tak begitu suka bermain bersama banyak teman. Adam lebih sering menyendiri, mengerjakan semua pekerjaannya.


Sebelum tidur, Adam meminta Mahendra untuk mencarikan tempat terapi. Ternyata, tak jauh dari kantor ada Klinik yang menyediakan jasa terapi untuk tulang patah dan sejenisnya.


Adam pun berdecak senang, mendengar penuturan dari Mahendra. Adam pun kini begitu semangat untuk mengajak Sisil untuk melakukan terapi.


Menurut Adam, Sayang sekali jika Sisil harus bekerja dalam kaki yang terlihat sudah untuk di gerakan. Karena itu, akan memperlambat pekerjaannya.


"Tapi, Tuan. Saya tidak punya uang," ucap Sisil seraya menunduk lemah.


"Jangan khawatirkan soal biaya, aku akan membiayai semuanya." Adam mengelus lembut punggung tangan Sisil.


"Tapi--"


"Ngga ada tapi-tapian, sebagai upahnya. Kamu harus memasak kapan pun aku meminta," ucap Adam.


"Kapanpun?" tanya Sisil.


"Ya, mulai minggu depan, aku akan pindah ke apartemen milikku. Aku harap, kamu mau tinggal bersama ku." Sisil langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Adam.


"Jangan, Tuan! Kita bukan mahram, tak boleh tinggal satu atap!" tegas Sisil.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu datang pagi-pagi untuk memasak, kita berangkat ke kantor bersama lalu pulang bareng untuk memasak makan malam untuk aku. Bisa?" tanya Adam.


"Tapi, Setelah memasak untuk makan malam, aku boleh pulang kan?" tanya Sisil.


"Tentu, mau?" tanya Adam lagi.


Sisil terlihat berpikir dengan keras, dia tahu jika biaya terapi untuk penyembuhan kakinya sangat mahal. Bahkan Sisil pernah bertanya, jika melakukan terapi di Rumah Sakit membutuhkan biaya sekitar dua puluh lima juta.


Untuk Adam mungkin uang dua puluh lima juta itu tak ada artinya, tapi untuk Sisil, itu sangat besar.


"Jangan terlalu banyak berpikir, mau atau tidak?" tanya Adam lagi.


+


+


+


Sudah hari senin ya geng,,, jangan lupa kasih Vote'nya ya, terima kasih..