
Baru saja Mahendra hendak masuk ke dalam ruangannya, terdengar suara Gracia yang memanggil-manggil namanya.
"Tuan!" panggil Gracia.
"Ya." Mahendra berbalik dan langsung menatap wajah Gracia.
"Ini flashdisk yang kemarin," ucap Gracia.
Gracia mengulurkan tangannya, lalu Mahendra pun langsung menerima flashdisk tersebut.
"Terima kasih," ucap Mahendra.
"Sama-sama," jawab Gracia.
Baru saja Gracia melangkahkan kakinya untuk pergi, tapi Mahendra sudah memanggilnya kembali.
"Tunggu dulu!" kata Mahendra.
Gracia langsung membalikkan badannya, lalu menatap Mahendra dengan penuh tanya.
"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Gracia.
Mahendra terlihat menghampiri Gracia dan mencondongkan tubuhnya, Gracia sampai memundurkan wajahnya karena wajah Mahendra terasa begitu dekat dengannya.
Namun, dengan cepat Mahendra menahan bahu Gracia. Dia pun. lalu berbisik tepat di telinga Gracia.
"Dasar bocah, tukang ngadu!" umpatnya dengan suara tertahan.
Mendengar ucapan Mahendra, Gracia terlihat mendelik sebal. Siapa juga pikirnya yang tukang ngadu? Dia hanya menjawab pertanyaan Leo saja saat menanyakan kepergiannya kemarin bersama dengan Mahendra.
"Aku bukan tukang ngadu, aku hanya menjawab pertanyaan Kak Leo saja," Jawab Gracia.
"Sama saja, dasar bocah!"
Setelah mengatakan hal itu, Mahendra langsung masuk ke dalam ruangannya. Begitu pun dengan Gracia, dia langsung masuk ke dalam ruangannya sambil menghentakkan kakinya.
"Menyebalkan, dasar kanebo kering! Kulkas enambelas pintu! Nyebelin!" Gracia terus saja menggerutu, dia begitu kesal terhadap kelakuan Mahendra.
Leo yang melihat tingkah adik sepupunya tersebut terlihat keheranan, dia tak pernah melihat Gracia sekesal itu.
"Kamu kenapa sih?" tanya Leo.
"Aku sedang kesal Kak, sama si Tuhan Mahendra." Gracia terlihat menghempaskan tubuhnya ke kata sofa.
Leo terlihat bangun lalu menghampiri Gracia, kemudian dia pun duduk tepat di samping Gracia.
"Memangnya ada apa dengan Bang Mahendra? Kok bisa sih dia membuat orang kesal? Padahal dia sangat jarang bicara, memangnya apa yang dia lakukan terhadap kamu?" tanya Leo penasaran.
"Dia berkata jika aku bocah tukang ngadu, nyebelin ih!" keluh Gracia.
Sebenarnya Leo ingin sekali menertawakan adik sepupunya tersebut, namun dia merasa tak tega. Dia pun berusaha untuk menenangkan hati adik sepupunya tersebut.
"Sudahlah, jangan dimasukin ke dalam hati. Sekarang lebih baik kamu bekerja," kata Leo.
"Baiklah," ucap Gracia dengan berat hati.
Dia pun memulai pekerjaannya yang sudah menunggu untuk dikerjakan, begitu pun dengan Leo.
*/*
Pukul 11 siang Reinata nampak datang ke perusahaan Caldwell, dia Dia terlihat sangat cantik dengan dress di atas lutut tanpa lengan.
Dia memang selalu terlihat seksi dan juga cantik, karena selalu rajin melakukan perawatan. Namun sayangnya bertolak belakang dengan sifatnya yang judes.
Reinata terlihat membawa paper bag di tangan kanannya, dia terlihat ingin masuk kedalam ruangan Adam.
"Maaf, Nona. Nona tidak diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan Tuan Adam," ucap Mahendra.
"Kenapa tidak boleh? Aku hanya akan mengantarkan makan siang untuk dirinya dan aku juga ingin membahas kerja sama antara diriku dengannya," protes Reinata.
"Maaf, tapi sungguh anda tidak diperbolehkan untuk masuk." Mendengar ucapan Mahendra, Renata terlihat sangat kesal. Dia berusaha untuk masuk kedalam ruangan Adam, namun Mahendra terus saja menghalangi tubuh Reinata.
Tubuh Mahendra yang 2 kali lipat lebih besar dari dirinya, benar-benar menghalangi niatan Reinata untuk menerobos masuk ke dalam ruangan Adam.
"Kau menyebalkan!" kesal Reinata.
"Anda lebih menyebalkan," jawab Mahendra.
"Ya Tuhan, kenapa Adam bisa mempekerjakan manusia seperti dirimu?" keluh Reinata dengan wajah memerah menahan amarah.
"Karena aku bisa diandalkan," Jawab Mahendra.
"Ish! Dia makin menyebalkan," gerutu Reinata.
"Maaf, Nona. Dilarang membuat keributan, silakan anda keluar. Untuk pembahasan soal kerjasama, bukankah saya sudah menelpon anda jika 2 hari lagi kita akan mengadakan pertemuan?" tanya Mahendra.
"Iya, aku tahu. Tapi, Aku hanya ingin bertemu dengan Adam dan makan siang bersama dengan dirinya," ucap Reinata beralasan.
"Ya ampun, jika aku melihat wajahmu. Umurmu pasti lebih tua dari Gracia, mungkin saja usia mu sudah dia puluh lima tahun. Tapi kelakuan kamu lebih kekanak-kanakan darinya!" ketus Mahendra.
Gracia yang baru saja keluar dari ruangannya, langsung menghampiri Mahendra dan juga Reinata karena mendengar namanya disebut-sebut.
"Kenapa namaku disebut-sebut?" tanya Gracia.
"Tidak ada apa-apa," jawab Mahendra.
Setelah mendapat jawaban dari Mahendra, Gracia lalu melihat ke arah Reinata yang terlihat sedang menahan kesal.
"Nona Kenapa ada di sini? Bukannya dua hari lagi kita baru ada pertemuan?" tanya Gracia.
Gracia sengaja menanyakan hal itu, karena memang Gracia lah yang ditugaskan bersama dengan Mahendra untuk melakukan meeting 2 hari kedepan bersama dengan Reinata.
Mendengar suara ribut-ribut di depan ruangannya, Adam nampak keluar. Dia terlihat menatap Reinata, Gracia dan juga Mahendra secara bergantian.
"Ada apa ini?" tanya Adam.
"Oh Adam, akhirnya kamu keluar juga. Aku hanya ingin mengajakmu untuk makan siang, aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu," kata Reinata seraya mengangkat paper bag yang dia bawa.
Adam tersenyum, lalu dia mengambil paper bag tersebut dari tangan Reinata.
"Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku akan makan bersama dengan istriku. Dia sudah menungguku," kata Adam.
Mendengar ucapan Adam, Reinata terlihat mendengus sebal.
"Jadi makanan yang sudah aku buatkan untukmu akan kau makan bersama dengan istrimu?" tanya Reinata tak suka.
"Tentu saja tidak, karena istriku sudah memasakan masakan yang spesial untukku. Jadi, makanan ini untukmu saja," ucap Adam seraya memberikan paper bag tersebut kepada Mahendra.
Mahendra terlihat tersenyum senang, karena siang ini dia mendapatkan makanan gratis yang terlihat sangat enak.
"Kau tega sekali, Adam!" seru Reinata.
"Maaf, aku tak ada waktu lagi. Karena istriku sudah menunggu," kata Adam.
Tanpa banyak bicara lagi, Adam langsung meninggalkan Reinata. Reinata terlihat begitu kesal, dengan cepat ia menyambar paper bag yang berada di tangan Mahendra.
Lalu, dia pergi meninggalkan Mahendra begitu saja bersama dengan Gracia. Gracia dan Mahendra saling tatap, kemudian mereka pun tertawa dengan terbahak.
Leo yang menyaksikan hal itu dari ruangannya hanya bisa menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia melihat Mahendra tertawa dengan sangat lepas.