
"Sayang," panggil Bunda Lucy.
"Ya, Tante," jawab Gracia.
"Maaf jika kedatangan Tante tanpa mengabari kamu terlebih dahulu, Maksud Tante datang kemari adalah untuk melamar kamu untuk putra Tante yang tampan itu," ucap Bunda Lucy seraya menunjuk Mahendra dengan ekor matanya.
"Hah? Melamar?" tanya Gracia kaget.
"Ya, putra Tante yang tampan ini sangat menyukai kamu. Dia ingin segera menikahi kamu dan menjadikan kamu sebagai istrinya," kata Bunda Lucy.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bunda Lucy, Gracia nampak membulatkan matanya. Dia merasa tak percaya dengan apa yang saat ini dia dengar.
"Jadi, Tuan Mahendra menyukai aku?" tanya Gracia seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Ya," jawab Bunda Lucy.
Gracia benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia langsung menolehkan wajahnya dan melihat Mahendra yang berada di sampingnya.
Wajah pria itu tetap saja datar dan dingin, bagaimana mungkin dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh bunda Lucy.
Gracia nampak bergidig, kemudian dia kembali memalingkan wajahnya dan menatap bunda Lucy dengan lekat.
Dia merasa jika sore ini, menjadi waktu terkonyol yang dia rasakan.
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan secara langsung kepada Mahendra. Bukankah sekarang dia ada di samping kamu? Tanyakanlah!" kata Bunda Lucy.
"Ya ampun Tante, bagaimana aku bisa percaya jika dia menyukai aku. Wajahnya saja datar tanpa ekspresi seperti itu, mirip kaya kulkas enam belas pintu." Gracia kembali menatap wajah Mahendra.
Mahendra terlihat mencondongkan wajahnya, lalu dia pun berbisik tepat di telinga Gracia.
"Sudah kubilang, aku bukan kulkas enam belas pintu. Apakah yang sudah kita buktikan itu kurang panas?" tanya Mahendra.
Gracia terlihat memundurkan wajahnya saat mendengar pertanyaan dari Mahendra, dia jadi mengingat akan Mahendra yang tiba-tiba saja mencium bibirnya.
Jantungnya bisa berdetak dengan cepat dalam seketika, tubuhnya terasa panas dingin dan rasanya pipinya sudah merona saat mengingat betapa lembutnya saat bibir Mahendra beradu dengan bibirnya.
"Kenapa, Sayang? Wajah kamu kenapa memerah seperti itu?" tanya Ibu Naura.
Mendengar pertanyaan dari Ibu Naura, dia langsung merangkum pipinya dengan kedua tangannya. Kemudian, dia pun terlihat tersenyum kikuk.
"Ciee, malu-malu. Bilang saja mau," celetuk Leo.
"Kakak!" Gracia terlihat memelototkan matanya.
"Terima saja, Dek. Mahendra masih ori,' ngga bakal rugi. Boro-boro pernah ngerasain itu, pacaran saja tidak pernah," timpalnya lagi.
"Ya ampun," ucap Gracia.
Namun, bukan karena dia tak menyukai perempuan. Hanya saja. dia merasa belum ada yang cocok di hatinya.
Namun, setelah dia bertemu dengan Gracia.
Entah kenapa Gracia mampu menggetarkan hatinya, bahkan Gracia mampu membangunkan milikinnya yang selama ini selalu tertidur dengan sangat pulas.
"Jadi, bagaimana, Sayang? Apakah lamaran kami diterima?" tanya Mom Lucy.
Gracia masih terlihat syok, dia hanya bisa menatap semua orang yang ada di sana secara bergantian. Kemudian, dia menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
Mahendra terlihat menghela napas berat, dia tahu jika ini terlalu cepat. Hanya saja, dia merasa takut jika Gracia akan dilamar pria lain.
Tanpa Gracia duga, Mahendra langsung berjongkok tepat di hadapan Gracia. Dia mengambil kotak kecil yang berada di saku kemejanya, lalu dia pun membuka kotak kecil tersebut yang ternyata isinya adalah cincin berlian yang sangat cantik.
"Aku tahu jika ini terlalu cepat, aku ingin mengajak kamu menikah dan membina rumah tangga. Kalau kamu mau menerima aku, kita bisa berkenalan dan berpacaran setelah menikah nanti." Mahendra berkata dengan tulus.
Gracia bahkan bisa melihat ketulusan yang diucapkan oleh pria dingin itu, walaupun tak ada senyum sama sekali di bibirnya.
Gracia pun merasa kasihan terhadap Mahendra, dia pun jadi ingin memberikan kesempatan kepada pria dingin itu. Karena walau bagaimanapun juga dia bisa melihat rasa cinta yang begitu tulus di mata Mahendra.
Gracia terlihat mengulurkan tangan kirinya, lalu dia pun menggoyang-goyangkan jari manisnya. Mahendra nampak kebingungan, karena Gracia tak berkata apa pun.
Mahendra terlihat menaikkan kedua alisnya seraya menatap wajah Gracia dengan Intens.
"Maksudnya?" tanya Mahendra.
"Ck! Dasar pria tidak peka, mau memakaikan cincinnya atau aku pakai sendiri saja?" tanya Gracia.
Mendengarkan pertanyaan dari Gracia, senyum di bibir Mahendra pun langsung mengembang. Dengan cepat dia mengambil cincinnya dan memasangkannya di jari Manis Gracia.
Ruangan tersebut pun langsung ramai dengan tepuk tangan dan sorak sorai ketika Mahendra memasangkan cincin di jari manis Gracia.
Sorak-sorai di ruangan tersebut bahkan bertambah kencang, karena Mahendra tiba-tiba saja mengangkat tubuh Gracia dan menggendongnya bagaikan anak koala.
Gracia yang merasa malu langsung memukul pundak Mahendra, wajahnya sudah terlihat memerah menahan malu.
"Turunkan aku," pinta Gracia.
"Baiklah, akan aku turunkan. Tapi, katakan dulu jika kamu mau menikah denganku," pinta Mahendra.
"Baiklah, Tuan Mahendra yang tampan. Aku bersedia menikah dengan kamu, tapi... bersikaplah sedikit lebih manis," pinta Gracia.
"Akan aku coba," ucap Mahendra seraya menurunkan tubuh Gracia.