
Seminggu sudah Laila dan Adam tinggal di rumah baru nya, selama seminggu pula mereka begitu sibuk menata rumah tersebut.
Bahkan hampir semua perabotan yang tersusun rapi di sana semua Adam yang mendesain nya sendiri, dan yang mengerjakan nya tukang yang sudah mereka pesan lewat pak Agus.
Hiasan dan juga lukisan yang terpajang cantik di setiap sudut ruangan juga adalah mahakarya Adam, anak itu benar benar cakap dalam semua yang berurusan dengan seni.
Dan selama seminggu itu pula Adam begitu sibuk menyelsaikan pesanan nya Devano, pria mapan berumur tiga puluh tahun dan sudah jadi pengusaha tersukses di ibu kota dengan status singel nya.
Adam sekarang benar benar menekuni dunia yang dia sukai, sekarang dia sudah tak memunguti barang bekas nya sendiri.
Adam akan membeli botol botol bekas dari para pemulung dengan harga yang lebih dari para pengepul , dia juga sekarang membeli sendiri kayu kayu yang berkualitas untuk mengerjakan project pesanan nya.
Siang ini Adam sudah pulang dari sekolah nya, dia sedang memastikan jika pesanan Devano sudah selsai dengan sempurna.
Setelah merasa puas dengan mahakarya nya, Adam pun mulai membuka laptop nya dan mempelajari banyak desain dari tutorial Yuyu di ruang kerja nya.
Laila benar benar mendesain ruang kerja Adam senyaman mungkin, di sana Laila juga menyiap kan meja kerja khusus buat Adam.
Dan tentu nya meja kerja khusus untuk menerima pesanan nya, laptop dan juga ponsel selalu berada di meja itu.
Adam tak pernah membawa nya keluar rumah atau ke sekolah, bagi nya urusan pekerjaan cukup di sana sana, di ruang khusus tempat nya bekerja.
"Sayang,, makan siang dulu..Ibu sudah memasak makanan kesukaan kamu, ayo?! "
Ajak Laila pada putra nya, Adam yang sedang serius berselancar dengan laptop nya pun langsung menghentikan aktivitas nya.
"Ibu masak ayam goreng sama tumis capcai?"
Laila pun tersenyum, "Iya sayang, ayo kita makan.."
Adam pun tersenyum sumringah, dia langsung mengikuti langkah Laila yang sudah keluar dari ruang kerja Adam.
Sampai di ruang makan, mata Adam langsung berbinar. Dia pun segera duduk dan mengambil piring, Adam pun dengan cepat mengisi piring nya sampai penuh dengan nasi dan lauk nya.
Baru saja Adam mau menyuap kan nasi ke dalam mulut nya, tapi Laila sudah menghentikan aktivitas nya.
"Baca do'a dulu sayang.."
Adam pun langsung nyengir kuda,"Lupa Bu,,"
Laila pun tersenyum, mereka pun akhirnya baca do'a makan bersama. Setelah membaca do'a makan, mereka pun sudah siap untuk menikmati makanan nya.
Dan kejadian yang sama pun terjadi kembali, baru saja Adam akan menyuap kan nasi ke dalam mulut nya tapi bel rumah sudah berbunyi dengan nyaring.
"Bu,,, "
Adam pun menatap wajah ibu nya dengan tatapan penuh permohonan, dia sudah sangat lapar dan rasa nya begitu enggan untuk bangun dan membuka kan pintu untuk tamu yang datang.
"Makan lah terlebih dahulu, biar Ibu yang membukakan pintu."
Adam pun nampak senang, dengan cepat dia pun mulai menyuap kan nasi kedalam mulut nya, sedangkan Laila langsung bangun dan menghampiri pintu utama.
Laila pun membuka kan pintu, dan nampak lah Devano dengan senyum manis nya.
"Selamat siang Nyonya,, "
"Selamat siang Tuan Devano, mari masuk. "
Ucap Laila mempersilahkan, Devano pun langsung masuk. Dia memperhatikan rumah Laila dengan penuh kekaguman, rumah Laila terlihat sangat indah dan nampak mengagum kan .
"Maaf Nyonya, Adam nya mana? "
"Ah, lagi makan siang Tuan."
"Waah, kebetulan sekali. Aku sangat lapar, dari pagi belum sempat sarapan. Boleh numpang makan kah?"
Laila nampak bingung, dia hanya pandai memasak makanan rumahan. Laila takut jika Devano tak suka dengan masakan nya, apa lagi jika mengingat mereka saat bertemu di ajak ke restoran mewah.
"Maaf tuan, tapi saya hanya masak makanan ala rumahan "
Ucap Laila seraya menunduk, Devano pun nampak tersenyum.
"Tak apa, aku juga suka makanan rumahan."
Devano pun mengangguk kan kepalanya, dia sangat senang karna Laila itu selain cantik juga sangat ramah. Devano mengekori langkah Laila, saat sampai di ruang makan Devano langsung melihat Adam yang terlihat sedang makan dengan lahap nya.
"Boy, apa Om boleh gabung? "
"Eh, ada Om Devan .Boleh Om, sini makan nya dekat Adam saja.."
Devano pun menurut, dia duduk di samping Adam ,dengan cepat Devano mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi beserta lauk nya.
"Emmm,, ini sangat enak. Aku bisa nambah ini, masakan kamu enak banget."
Ucap Devano dengan mulut penuh dengan makanan, Laila pun tersenyum. Laila pun duduk dan mulai menikmati makanan nya, sesekali dia memperhatikan Devano yang makan dengan lahap nya.
Laila jadi berpikir, apa kah Devano begitu sibuk sampai tak sempat makan dari pagi?
Laila begitu asik dengan lamunan nya, sampai sampai dia tak sadar jika Adam dan Devano terlihat sudah menghabiskan semua makanan nya.
"Bu,,, "
Panggil Adam, Laila pun langsung memalingkan wajah nya ke arah putra nya.
"Ada apa sayang? "
"Kami sudah selsai makan dan akan langsung ke ruang kerja ku, apa Ibu mau ikut?"
"Pergilah dengan Om Devan terlebih dahulu, nanti Ibu nyusul. Mau di bawain apa? "
"Aku mau es lemon Nyonya, kayak nya panas seperti ini akan sangat segar."
Jawab Devano, Adam pun langsung tertawa. Dia tak menyangka jika Om Devano akan menjawab dengan sangat lantang karna Adam tahu jika Laila bertanya pada nya.
"Kenapa kamu tertawa? Apa Om terlihat lucu? "
"Om sangat lucu, Adam suka."Ucap Adam, pandangan nya pun mengarah pada ibu nya."Bu,tolong bawain es lemon dua ya.Aku dan Om Devan ke ruangan ku dulu."Pamit Adam, Laila pun tersenyum.
Adam dan Devano pun langsung melangkah kan kaki mereka ke ruang kerja Adam, saat memasuki ruangan Adam, Devano langsung berdecak kagum.
"Woow,, ini sangat luar biasa..Kamu benar benar berbakat sayang, Om jadi penggemar berat kamu mulai saat ini."
"Om jangan berlebihan, ayo aku tunjukan pesanan Om."
Devano pun mengikuti langkah Adam, saat Adam menunjukan hasil karya nya, Devano langsung menutup mulut nya tak percaya.
"Ini beneran kamu yang buat? "
"Iya dong Om, Om suka? "
"Sangat suka sayang, Ayah kamu pasti orang yang sangat luar biasa sehingga mempunyai keturunan anak yang begitu jenius seperti kamu."
Adam pun langsung tertunduk lesu,"Sayang nya aku tidak pernah bisa lagi bertemu dengan Ayah ku,,"
"Maaf Boy, apa Ayah mu sudah meninggal?"
"Hemm,, kata Ibu seperti itu. Dan makam. nya sangat jauh, jadi aku belum pernah ke makam nya sama sekali."
Devano nampak sedih melihat raut sedih di mata Adam, dia pun memeluk Adam dan mencium puncak kepala nya.
"Jangan menangis, anggap lah Om ini Ayah kamu."
Adam pun langsung tersenyum,"Om sangat baik, Adam makin suka sama Om."
Adam dan Devano nampak saling memeluk, mereka sudah seperti Ayah dan Anak.
+
+
+
TBC