
"Kalau saya tidak salah memperkirakan, istri anda sedang mengandung." Dokter menjelaskan, sedangkan Devano dan Eliza nampak melongo tak percaya.
"Be--benarkah, Dok?" tanya Devano terhadap.
"Menurut analisa saya, seperti itu. Jika, Tuan dan Nyonya Ingin lebih jelas lagi, silakan melakukan pemeriksaan langsung dengan Dokter kandungan." Dokter menjelaskan.
Raut wajah Elisa dan Devano, langsung berubah menjadi sangat bahagia. Bahkan, mata Elisa dan Devano sampai berkaca-kaca. Merekapun langsung berpelukan, saling menyalurkan kasih sayang satu sama lain.
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu, kami permisi dulu. Kami akan langsung melakukan pemeriksaan, di ruangan Dokter Maira." Devano berbicara dengan raut yang sangat bahagia.
Setelah mereka berpamitan, kepada Dokter yang memeriksa Eliza, Devano dan Elisa pun, langsung menemui Dokter Maira di ruangannya. Dokter Maira pun langsung melakukan serangkaian pemeriksaan.
Lima belas menit kemudian..
"Selamat, Tuan, Nyonya. Kalian akan menjadi orang tua, janin yang Nyonya Eliza kandung, sudah berusia delapan minggu." Dokter Maira menjelaskan.
"Mas.. " Eliza langsung menangis, Devano pun langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu senang, Sayang?" tanya Devano.
"Sangat," jawab Eliza.
"Mas juga," ucap Devano.
Devano dan Eliza, seakan larut dalam buayan bahagia. Mereka sangat bahagia, saat mendengar jika di rahim Eliza, kini terdapat janin yang tengah berkembang.
"Ehem, pelukannya di lanjut nanti lagi, boleh?" tanya Dokter.
"Maaf, Dok. Kami terlalu senang," ucap Eliza.
"Saya paham, tapi, ada yang mau saya bicarakan." Dokter Maira berucap dengan serius.
Eliza dan Devano pun, langsung menatap Dokter Maira dengan intens.
"Kandungan Nyonya Eliza sangat lemah, anda harus Bed Rest. Banyak makan buah dan sayur, dan juga minum vitamin serta obat penguat yang saya resepkan." Jelas Dokter Maira.
"Lalu, bagaiman dengan itu, Dok?" tanya Devano ragu.
Dokter Maira tersenyum, dia tahu dengan apa yang di khawatirkan oleh Devano.
"Anda harus bisa menahannya," Devano terlihat lesu saat mendengarnya." Tapi, jika benar-benar ingin, anda bisa melakukannya dengan pelan. Hanya boleh dilakukan, satu minggu sekali." Wajah Devano kembali berseri," dan, tak boleh mengeluarkan cairan Vanilla'nya di dalam." Dokter Maira menjelaskan.
"Iya, Dok. Tak apa, yang penting masih bisa." Ucapan Devano, langsung di sambut cubitan dari Eliza.
Melihat tingkah Eliza dan Devano, Dokter Maira hanya bisa tertawa renyah.
*/*
Seorang ibu-ibu berjalan mondar-mandir, di depan ruangan persalinan. Ibu itu terlihat bingung, apakah dia harus pulang, atau menunggu di sana?
Dia sudah hampir seharian di sana, apalagi, ini sudah malam. Tetapi, tidak ada yang menemuinya sama sekali.
"Aduh.. Kumaha ari tos kitu? Saurna di piarang ngantosan, tapi, teu aya anu nyamperkeun." Ibu itu terus saja berjalan mondar mandir.
( Aduh... Bagaimana kalau sudah begini? Katanya di suruh nunggu, tapi, ngga ada yang nyamperin. )
Sesekali, dia terlihat meremat perutnya yang terasa sakit. Dari siang, dia bahkan belum makan sama sekali.
Dia pun duduk di bangku tunggu, kemudian mencoba untuk memejamkan matanya.
"Bobo wae lah, saha nu teurang si Bapak eta teh dongkap deui." Ibu itu langsung memejamkan matanya, berusaha untuk meraih hal yang indah walau hanya dalam mimpi.
(Bobo aja ah, siapa tahu di Bapak tadi datang lagi.)
Sedangkan di dalam ruangan perawatan Laila, Arkana sudah mulai memejamkan matanya. Arkana sangat lelah, mengurusi Laila dan juga Babby'nya yang sedikit rewel. Karena Asi Laila, belum keluar dengan lancar.
"Mas," panggil Laila.
"Apa, Sayang?" tanya Arkana dengan mata yang masih terpejam.
Arkana langsung terlonjak kaget, seingatnya, dia menyuruh ibu itu untuk menunggunya di depan ruang persalinan Laila.
Lalu, di mana ibu itu sekarang?
"Astagfirullah, Mas, nyuruh dia untuk nunggu di ruang persalinan." Arkana langsung bangun dan keluar dari ruangan perawatan Laila.
Arkana langsung berlari, untuk mencari ibu-ibu tersebut. Langkah Arkana langsung terhenti, kala melihat seorang Ibu-ibu yang sedang tertidur sambil meremat perutnya.
"Ya tuhan, ampuni hamba." Arkana langsung duduk di samping Ibu-ibu tersebut.
"Bu," Arkana menepuk pelan pundak Ibu tersebut.
Ibu tersebut langsung mengerjapkan matanya, dia sangat kaget, karena ada yang menepuk pundaknya.
"Aya naon, Jang?" tanya Ibu tersebut.
(Ada apa, Jang?)
Arkana hanya bisa menggaruk pelipis nya yang tak gatal, dia bingung harus berkata apa, karena dia sama sekali tidak mengerti dengan bahasa Ibu tersebut.
"Aih, ari si Ujang. Di tarosna teh, kalah cicing wae. Maksudnya, naon iyeu teh?" tanya Ibu tersebut.
(Aih, si Ujang. Di tanya, malah diem aja. Maksudnya, apa coba?)
"Begini aja deh Bu, saya nggak ngerti dengan apa yang Ibu ucapkan. Tapi, saya mau mengucapkan banyak terima kasih sama ibu. Karena, ibu telah menolong istri saya, dan ini, saya ada rezeki buat ibu." Ucap Arkana sambil menyerahkan segepok uang kepada Ibu tersebut.
"Nanaonan ieu maksudna? Ngahina kitu? Menghina, di kata abi urang Miskin!" kesal ibu tersebut.
( Apa ini maksudnya, menghina gitu?)
"Eh, bukan menghina. Ini uang sebagai ucapan terima kasih saya, sama Ibu." Arkana begitu takut melihat kesalahan pahaman di mata Ibu itu.
" Tapi, saya teh ikhlas nulungan si Teteh Geulis. Uang' na buat beli susu si dede wae atuh, jangan di kasih saya." Ucap Ibu tersebut.
(Tapi, saya ikhlas nungguin di Neng Cantik. Uangnya buat beli susu bayi aja, jangan di kasih saya.)
"Saya lebih ikhlas, ngasih ini sama ibu. Terima kasih sekali lagi," ucap Arkana tulus.
"Bener tapinya, ikhlas?" tanya Ibu itu.
Arkana langsung menganggukan kepalanya, dia sangat ikhlas. Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi. Jika tidak ada ibu itu, yang datang untuk menemani Laila sampai ke Rumah Sakit.
"Saya Ikhlas," ucap Arkana.
"Ya sudah atuh, kalau begitu mah. Abdi teh ngahaturkeun nuhun, ku abdi di do'akeun si Ujang sakulawarga sing sarehat." Ucap Ibu Itu tulus.
( Ya sudah, kalau begitu. Saya berterima kasih sekali, saya do'akan, semoga kamu sama keluarga kamu sehat selalu.)
"Iya, Bu. Istri saya juga ngucapin terima kasih banyak," ucap Arkana.
"Sama-sama," jawab ibu itu.
"Ibu mau pulang? Kalau mau pulang, biar di anter sama supir saya. Ini sudah malam, tidak ada kendaraan umum." ucap Arkana.
"Kalau tidak ngarepotkuen mah, boleh atuh Jang." Ibu itu sangat bahagia, sudah dapat uang,di anter pulang juga.
+
+
+
Jangan lupa tinggalkan jejak, Buat Abang Adam. Bab berikutnya ya... kita lihat, seberapa Cemburu'Nya anak genius itu?
Jangan bosen-bosen ya, buat ikutan cerita aku...