Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bertemu



Mahendra melangkahkan kakinya dengan cepat, dia ingin segera keluar dari perusahaan milik Tuan Zayn.


Rasanya dia sudah tidak nyaman berada di sana, apa lagi saat melihat tatapan nakal dari Tuan Zayn.


Seperti biasanya, Gracia akan mengekori langkah Mahendra dengan tergesa. Karena dia harus berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan pria tinggi besar yang ada di hadapannya.


"Ck! Tuan, jalannya jangan cepet-cepet. Cape!" keluh Gracia.


Mahendra tak menjawab, namun dia menuruti keinginan Gracia. Dia memelankan langkahnya, melihat akan hal itu, Gracia langsung tersenyum.


Tiba di parkiran, Mahendra langsung membukakan pintu untuk Gracia. Melihat akan apa yang dilakukan oleh Mahendra, Gracia nampak tersenyum.


Dia merasa sangat senang akan perlakuan dari Mahendra, walaupun wajah Mahendra terlihat datar.


"Terima kasih," kata Gracia.


"Hem," jawab Mahendra.


Setelah mengatakan hal itu, Gracia pun langsung duduk di bangku samping kemudi. Tak lama kemudian, Mahendra pun menyusul masuk dan duduk di balik kemudi.


Tak lama kemudian, Mahendra memasang sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya.


Baru saja sebentar Mahendra melajukan mobilnya, tiba-tiba saja Mahendra membelokkan mobilnya ke arah Resto yang tak jauh dari perusahaan milik Tuan Zayn.


Gracia terlihat berkerut kening, bukankah Mahendra berkata jika mereka sudah ditunggu oleh Tuan Adam karena ada hal yang harus segera dilakukan?


Lalu, kenapa malah berbelok ke arah Resto? Kenapa tidak segera pergi ke kantor? Bagaimana kalau nanti Tuan Adam akan marah?


"Turun," ucap Mahendra dengan nada penuh perintah.


Gracia menurut, dia pun turun dari mobil Mahendra dan mengekori langkah Mahendra untuk masuk ke dalam Resto tersebut.


Tiba di dalam Resto, Mahendra terlihat menghampiri sebuah meja. Di sana terlihat ada seorang perempuan paruh baya yang terlihat tersenyum hangat saat melihat Mahendra.


"Selamat sore, Sayang." Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu langsung memeluk Mahendra.


"Sore, Bunda. Maaf tidak bisa menjemput," sesal Mahendra.


"Tidak apa, sekarang duduklah. Bunda sudah lapar," kata wanita paruh baya tersebut.


Pandangan wanita paruh baya tersebut, beralih menatap Gracia. Lalu, dia pun tersenyum hangat kepada Gracia.


"Kamu cantik sekali, Nak. Sudah berapa lama berhubungan dengan anak Tante?" tanya wanita paruh baya itu.


Dia langsung menatap Mahendra seolah meminta jawaban atas apa yang ditanyakan oleh wanita paruh baya yang ada di hadapannya tersebut.


Mahendra hanya terdiam sambil menggedikkan kedua bahunya, hal itu sontak membuat Gracia kesal. Bahkan tanpa sadar dia langsung memukul lengan Mahendra.


"Uuuh, kalian manis sekali." Wanita paruh baya itu tersenyum hangat.


"Tante salah paham, kami--''


"Duduklah! Jangan membuat Bunda kelaparan," ucap Mahendra pelan tapi penuh dengan penekanan.


"Iya," jawab Gracia.


Gracia terlihat menghentakkan kakinya, lalu kemudian dia pun duduk tepat di samping Mahendra.


"Maafkan anak Bunda, dia memang selalu bersikap dingin. Tapi aslinya dia penyayang.


Gracia hanya tersenyum canggung mendengar penuturan dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.


"Makanlah, Bunda sudah memsankan makanan kesukaan kamu," kata Bunda Lucy.


"Terima kasih, Bun," kata Mahendra.


Tanpa basa-basi, Mahendra langsung melahap makanan yang ada di hadapannya. Berbeda dengan Gracia yang hanya diam saja.


Dia terlihat bingung, apakah harus ikut makan atau bagaimana. Melihat Gracia yang hanya diam saja, bunda Lucy langsung berkata.


"Maaf, tadi Bunda langsung memesan makanan kesukaan Mahendra. Kalau kamu tidak menyukainya, biar Bunda pesankan makanan yang lain," ucap Bunda Lucy.


Gracia terlihat menatap makanan yang ada di hadapannya, ada tumis udang asam manis, tumis kerang saus tiram, cumi goreng crispy dan ada juga kepiting saus Padang.


Gracia baru tersadar, jika ternyata Mahendra sangat menyukai makanan laut.


"Tidak usah, Tante. Aku suka kok," jawab Gracia.


Walaupun suasana terlihat begitu canggung, namun Gracia tetap berusaha untuk memasukkan makanan yang sudah terhidang ke dalam mulutnya.


Rasanya, makanan tersebut begitu susah sekali untuk bisa masuk ke dalam kerongkongannya.


Sesekali Gracia terlihat menatap Mahendra, sayangnya Mahendra terlihat seolah tak perduli.


'Dasar kulkas enam belas pintu! Maksudnya apa sih jebak aku kaya gini? Nyebelin!' batin Gracia.