Who Is Adam?

Who Is Adam?
Apakah Dia Ayah Ku?



Hari ini Devano terlihat begitu bersemangat dalam bekerja, sesekali dia mengulas senyum di bibir sensual nya. Devano terlihat sudah tak sabat untuk bertemu dengan Adam, bagi nya anak kecil itu mampu menjadi penyemangat nya.


Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang, Devano pun segera bersiap untuk pergi. Tak lupa dia pun memberi tahukan pada sang asisten nya Rudy jika dia akan pergi untuk menjemput Adam, Rudy pun mengiyakan.


Sampai di sekolahan Adam ternyata sudah ada Laila yang sedang menunggu, Devano pun langsung menghampiri Laila.


"Hai Laila, "Sapa Devano.


"Eh? Kak Devan kok di sini? "


"Begini Laila, aku ingin mengubah desain ruang kerja ku. Aku dan Adam sudah sepakat akan ke kantor ku siang ini, apa boleh? "


"Boleh kak, tapi kenapa kakak tidak memberitahukan dari pagi? "


"Maaf kan aku Laila, tapi kalau kamu bersedia kamu pun bisa ikut ke kantor ku."


"Tak usah Kak, kakak saja sama Adam. Tolong jaga Adam dengan baik, "Pinta Laila.


"Pasti Laila, "Jawab Devano.


Saat sedang asik mengobrol datang lah si tampan Adam, dia pun langsung memeluk ibu nya dengan erat.


"Ibu ,Adam kangen."


Laila mengernyit heran, "Kita kan tiap hari bertemu, kenapa bilang kangen?"


"Tidak apa apa, hanya kangen saja. Oh iya Bu, Adam mau ikut Om Devan. Boleh? "


"Boleh sayang, Om Devan juga sudah izin sama Ibu."


"Terimakasih, Ibu memang yang terbaik."


Laila pun tersenyum mendengar ucapan putri nya, dia pun menitip kan Adam pada Devano. Mereka memang baru saling kenal, tapi entah kenapa Laila merasa begitu percaya pada Devano.


Akhirnya Adam dan Devano pun pergi menuju kantor Devano, sedangkan Laila pulang ke rumah nya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, semisal menawarkan secara online hasil karya putra nya Adam.


Sampai di kantor, Devano langsung mengajak Adam ke ruangan nya. Banyak para karyawan nya yang menatap heran pada bos nya itu, pasal nya Devano terkenal dingin pada wanita.


Dan tiba tiba saja dia datang dengan menggendong seorang putra yang begitu tampan, sontak mereka pun banyak yang bertanya tanya.


"Boy, mau makan apa? "Tanya Devano setelah sampai di ruang kerjanya.


"Apa saja Om yang penting enak,"Jawab Adam.


"Ya sudah ,Om keluar sebentar. Kamu tunggu di sini, jangan keluar ya.."


"Siap Om, ''Jawab Adam.


Devano pun keluar dari ruangan nya, dia akan pergi ke kantin untuk membeli makan siang nya dengan Adam. Sebenar nya dia bisa saja meminta orang untuk mengantarkan makanan nya, tapi dia ingin memilih sendiri menu yang ada di kantin saat ini.


Sedangkan Adam, kini terlihat sedang mengamati seluruh ruangan Devano. Dan saat ia melihat meja kerja Devano, mata nya tertuju pada bingkai foto yang ada di sana.


Di foto itu terlihat Devano dan seorang peria yang saling merangkul, mereka terlihat sangat dekat. Adam pun mengambil foto tersebut, lalu mengusap nya dengan lembut.


"Kenapa wajah orang ini begitu mirip dengan ku? Apa dia Ayah ku? Tapi Ibu bilang jika Ayah ku sudah meninggal, atau jangan jangan aku anak yang terlahir di luar nikah dan Ayah ku tak tahu tentang kelahiran ku? "


Adam terlihat sendu, kini pikiran nya begitu kalut. Harus kah dia menyelidiki semua ini. Tapi jika tidak, dia rasa, dia akan mati penasaran.


Akhirnya Adam pun memutuskan kan akan menyelidiki semua nya sendiri, dan pasti nya dia akan memulai nya dari Devano.


Saat Adam sedang berpikir keras, datanglah Devano dengan seorang OG yang membawa nampan besar berisi kan makanan.


Adam pun tersenyum senang, dia langsung duduk anteng di sofa sambil menunggu OG itu menata makanan nya di atas meja.


"Makan yang banyak Boy, karna habis ini Om akan meminta mu untuk bekerja keras."


"Siap Om, "Jawab Adam.


"Makan nya lahap bener, "Ucap Devano.


"Habis nya makanan nya enak Om, tapi tetap saja tak ada makanan yang seenak masakan Ibu ku."


"Kamu benar Boy, masakan Ibu mu sangat enak."


"Oh iya Om, apa aku boleh bertanya? "


"Tentu, tanyakan lah apa yang ingin kamu tahu."


"Kalau aku boleh tahu, foto siapa itu Om?"Tunjuk Adam pada bingkai foto di atas meja Devano.


"Itu foto Om dengan adik angkat Om, dia begitu tampan bukan. Bahkan Om rasa dia begitu mirip dengan mu, makanya Om selalu ingin dekat dengan mu."


"Apa kah dia sudah menikah?"


"Belum Boy, kalau saja dia sudah menikah. Aku pasti akan menganggap jika kau adalah putra nya, karna di lihat dari sisi mana pun kamu sangat mirip dengan nya."


"Om, apa Adam boleh minta sesuatu sama Om?"


"Mintalah, dengan senang hati Om akan mengabul kan nya."


"Bulan depan Om akan pulang kan? "Devano pun mengangguk. "Tolong bujuk Ibu agar mau ikut kesana, karna aku ingin berkunjung ke makan Ayah ku.Bisa kan Om? "


"Tapi bagaimana dengan sekolah mu? "


"Bulan depan aku libur semester Om, tolong ya Om.."Ucap Adam memelas, Devano pun jadi merasa tak tega.


"Baiklah, Om akan berusaha. Tapi kenapa makam Ayah mu ada di kota kelahiran Om?"


"Karna Ibu juga asli orang sana, Ibu hanya merantau di sini."


"Benar kah? Waah,, Om baru tahu kalau kita satu kota kelahiran, Om janji akan berusaha membujuk ibu mu."


"Om sangat baik, "Ucap Adam seraya bangun dan memeluk Devano.


"Boy, kamu membuat ku sedih. "


"Maaf Om,"Ucap Adam.


"Sudah lah, apa kamu sudah mendapat kan ide untuk mendesain ruangan ku sehingga tampak tak membosankan? "


"Tentu Om, desain nya akan jadi minggu depan. Om tenang saja, "Jawab Adam.


"Ya sudah, sekarang kamu duduk santai saja. Om mau kerja sebentar, "Titah Devano.


"Baiklah, aku akan jadi anak yang baik. "


Devano pun tersenyum, dia langsung duduk di kursi kebesaran nya dan membuka berkas yang sedari tadi menunggu untuk di kerjakan.


Sedangkan Adam nampak duduk anteng sambil berpikir keras, setelah Adam melihat foto kebersamaan Devano dengan adik angkat nya,Adam merasa sangat yakin jika itu adalah Ayah nya.


Tapi jika memang itu benar, kenapa Ibu nya selalu bilang kalau Ayah nya sudah meninggal. Adam pun jadi berpikir jika ibu nya menyimpan sebuah kebohongan, dan Adam harus menyelidiki nya.


Selsai dengan pekerjaan nya, Devan pun langsung mengantar Adam pulang. Tak lupa dia juga merayu Laila untuk ikut bersama nya untuk pulang kampung, tapi Laila terlihat begitu enggan.


Laila pun berkata, jika dia akan memikirkan dulu tentang tawaran Devan. Devan pun setuju, tapi dalam hati nya sungguh dia berharap jika Laila bisa pulang bersama dengan nya.


+


+


+


TBC