Who Is Adam?

Who Is Adam?
Identitas Sisil



Sisil terlihat kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Adam, dia tak menyangka jika Adam akan secepat itu mengajak dia menikah.


Eh?


Tunggu dulu, apa tadi katanya mengajak Sisil untuk menikah? Yang benar saja, mana ada mengajak orang menikah dengan ucapan serius tapi ngga ada cincin atau apa pun itu yang selalu di sebut pemanis dalam sebuah hubungan.


Sisil makin kebingungan, jika mengingat akan hal itu, karena kemarin malam dia baru saja menonton film drama yang sangat romantis.


Di mana sang pria melamar wanitanya dari atas helikopter, lalu tiba-tiba saja ribuan kelopak bunga mawar langsung bertebaran turun dari udara.


Tak lama banyak orang yang membawa balon dengan tulisan WILL YOU MARRY ME?


Sisil malah teringat kan adegan itu, apa lagi saat sang pria turun dari helikopter dan langsung berjongkok di hadapan sang wanita sambil menyodorkan cincin berlian yang indah.


Sisil langsung tersenyum, saat mengingat adegan romantis itu. Sedangkan Adam, malah terlihat bingung saat melihat Sisil yang terlihat melamun sambil tersenyum.


"Sil !" panggil Adam sambil menepuk tangan Sisil dengan lembut.


"Ya, Tuan!" kaget Sisil.


Sisil sampai berjingkat karena kaget, Adam sampai tertawa dibuatnya.


"Gimana, mau kan menikah sama aku?" tanya Adam.


"Eh? tunggu dulu! kenapa Tuan bilang, sudah mencintaiku sejak lima belas tahun yang lalu?" tanya Sisil.


"Ngga usah berbasa basi lagi, Pricilia Gunandari! kamu pasti ingat akan janjiku padamu bukan!?" sentak Adam, hal itu berhasil membuat Sisil langsung menganggukan kepalanya.


Adam langsung tertawa, karena dia bisa membuat Sisil mengaku. Padahal, Adam sudah memancingnya dari kemarin dengan memperlihatkan Sweter dari Sisil.


Akan tetapi, dia Sisil masih terlihat berpura-pura. Adam pun sebenarnya kesal dibuatnya, tapi dia berusaha untuk bersabar.


"Apa janji yang aku katakan saat itu, hem?" tanya Adam.


Dengan ragu, Sisil langsung menatap netra Adam yang berwarna kebiruan. Begitu indah, selalu bisa membuatnya merasa meleleh.


"Kamu bilang, Setelah sukses nanti kamu akan datang untuk mencariku." Jawab Sisil, lalu dia kembali menunduk.


"Terus?" tanya Adam lagi.


"Kamu akan menjemputku untuk menjadikan aku sebagai ratu di rumahmu," ucap Sisil lagi.


Adam terlihat puas mendengar jawaban dari Sisil, karena secara tidak langsung Sisil mengakui bahwa dirinya adalah Pricilia Gunandari.


"Lalu, kenapa kamu pura-pura tidak kenal aku? padahal, sejak awal kita bertemu aku yakin kamu tidak akan melupakan wajahku. Karena sedari kecil aku tetap tampan, hanya saja wajahku yang tadinya imut jadi berubah menjadi sangat tampan dan menggemaskan." Ucap Adam percaya diri.


Aduh percaya banget, Mas Adam! jadi gemes deh. Eh? jangan panggil Mas Adam deng, takut ketuker sama Mas Adam, suaminya Mba inul.


"Aku tidak berpura-pura, bukankah saat kecil kamu bilang nama kamu adalah Adam Putra Pratama? tentu saja aku tidak berharap, itu kamu. Karena saat melihat papan nama yang berada di atas meja, di sana tertera Adam Putra Caldwell." Jelas Sisil.


Adam nampak berpikir, lalu Adam pun teringat jika saat kecil memang dia menyandang marga ibunya. Kemudian beberapa hari setelah Al dilahirkan, mereka pun menyandang nama Caldwell di belakang nama mereka.


"Kamu benar, aku berganti marga setelah beberapa hari keluar dari Rumah Sakit. Karena Grandpa' lah yang memintanya," jelas Adam.


Sisil pun terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali, dia sudah paham sekarang kenapa nama Adam berganti Marga.


"Lalu, dari mana kamu tahu nama asliku?" tanya Sisil.


"Semua ada alasannya," jawab Sisil seraya menunduk.


Adam langsung tersenyum, saat melihat kegundahan di wajah Sisil. Karena Adam sudah tahu semuanya, tentunya atas jasa Mahendra.


Sang asiten kepercayaan Tuan Arley, dengan sigap mencari tahu tentang latar belakang Sisil.


"Jangan takut Sil, aku akan melindungi kamu dari kelicikan Paman tiri kamu." Jelas Adam.


Sisil langsung mendongakkan kepalanya, kemudian dia pun menatap mata Adam dengan sangat lekat. Awalnya dia merasa bingung kenapa Adam bisa tahu tentang keadaannya, tetapi saat mengingat kekuasaan keluarga Caldwell, Sisil pun jadi mengerti.


"Jangan bahas dia lagi, aku sudah tak ingin berhubungan lagi dengannya." Pinta Sisil.


"Dengan siapa?" tanya Tuan Arley yang semenjak tadi, sudah mendengarkan percakapan antara dua insan. muda tersebut.


Adam dan Sisil langsung menghampiri Tuan Arley, lalu mereka pun mencium tangan Tuan Arley dengan takzim.


" Jawab Sisil, siapa yang sedang kamu hindari? siapa paman tiri kamu yang sangat licik itu? katakan yang sebenarnya, siapa yang sedang kamu hindari?" tanya Tuan Arley dengan tegas.


"Kita duduk dulu, Grandpa." Ajak Adam.


Tuan Arley menurut, dan pada akhirnya Adam Sisil dan Tuan Arley kini sedang duduk di ruang keluarga.


"Ceritakanlah, Sisil. Jangan pernah ada yang ditutup-tutupi, karena aku tidak akan pernah suka." Titah Tuan Arley.


Sisil terlihat menunduk takut, dia meremat tangannya secara bergantian. Dia gugup, haruskah dia menceritakan masa lalunya kepada Tuan Arley?


Akan tetapi, dia tahu jika Tuan Arley adalah orang yang berkuasa, mungkin menceritakan hal ini adalah hal yang tepat kepada Tuan Arley, pikir Sisil.


Melihat Sisil yang diam saja, Tuan Arley pun menatap Adam dengan tajam. Tatapan matanya seolah berkata 'Ceritakanlah pada Grandpa, apa yang sebenarnya terjadi?'


Namun, Adam merasa tidak berhak untuk menceritakan hal itu. Karena itu, adalah privasi dari Sisil sendiri. Adam pun menunjuk Sisil dengan dagunya.


Tuan Arley terlihat mendesah pasrah, melihat kelakuan Sisil.


"Ceritakanlah!" ucap Tuan Arley tegas.


"Begini, Master. Sebenarnya saat aku kecil, aku di bawa pergi ke tanah jawa oleh Bi Nanti dan Pak Paijo. Mereka takut jika aku akan di bunuh oleh paman tiriku, karena ternyata Bi Narti pernah mendengar jika paman tiriku pernah merencanakan akan membunuh keluargaku." Jelas Sisil.


"Maksud kamu, ada yang menyabotase kecelakaan mobil yang di alami keluarga Gunandari?" tanya Tuan Arley.


Sisil menganggukkan kepalanya," ya, Master."


"Ck, pantas saja kecelakaan yang dialami Anggara sangat terasa janggal. Tak lama setelah itu, anak perempuan mereka satu-satunya di kabarkan hilang." Gumam Tuan Arley .


Sisil yang mendengar nama almarhum Ayahnya disebut, langsung menatap Tuan Arley dengan penuh tanda tanya.


"Apakah Master, mengenal Ayah saya?" tanya Sisil.


Tuan Arley pun langsung tersenyum," tentu saja aku mengenalnya, karena dia adalah salah satu rekan bisnisku. Akan tetapi, setahuku seluruh hartanya kini sudah beralih kepada adik tirinya." Jelas Tuan Arley.


Seakan sadar dengan apa yang telah diucapkannya, mata Tuan Arley pun membulat sempurna, lalu dia menatap Sisil dengan tatapan Iba.


"Ja--jangan bilang, kalau paman tiri Ayah kamu adalah Wiliam Dianada Khalastra!" ucap Tuan Arley sambil menatap Sisil dengan intens.