Who Is Adam?

Who Is Adam?
Paginya Mahendra



Sudah hampir satu jam Mahendra menunggu kedatangan Gracia, namun istrinya tak kunjung datang menghampirinya yang sudah bersiap di atas ranjang.


Mahendra yang hanya menggunakan boxer saja langsung bangun dan turun dari atas ranjang, kemudian dia mengambil handuk dan melilitkannya di pinggang.


Dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, karena penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Gracia.


Tiba di depan kamar mandi, dia mengetuk pintunya. Namun, tak juga dibukakan oleh Gracia.


Mahendra Mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut dan ternyata tidak dikunci, dia tersenyum lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Alangkah terkejutnya Mahendra, saat dia melihat Gracia yang tengah tertidur di dalam buthup, dia tertidur sambil duduk dan memeluk kedua kakinya.


"Ya Tuhan, Sayang. Kenapa malah tidur di sini?" tanya Mahendra lirih.


Mahendra langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu dia pun menidurkannya di atas ranjang. Gracia terlihat hanya menggunakan kimono mandi saja.


Dia tersenyum, karena ternyata istrinya malah mandi. Padahal dia berpamitan untuk menggosok gigi dan cuci muka saja.


Dia tatap wajah cantik istrinya, lalu dia usap wajahnya dengan lembut. Tak lama kemudian dia mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Padahal aku pengen banget, tapi kamunya malah tidur." Mahendra menarik lembut tubuh Gracia kedalam pelukannya.


Dia mengecupi setiap inci wajah istrinya, lalu... dia mengecup bibir istrinya beberpa kali.


"Tidurlah, Sayang. Kamu pasti lelah, aku akan sabar menunggu," kata Mahendra. Tak lama kemudian, Mahendra pun ikut terlelap.


🌻🌻


Pagi telah menjelang, Gracia terlihat mengerjakan matanya. Dia tersenyum kala melihat wajah tampan Mahendra' lah yang pertama kali dia lihat.


Dia terlihat tersipu saat merasakan pelukan hangat dari suaminya tersebut, tak lama kemudian dia mengingat jika tadi malam dia begitu gugup dan tertidur di dalam buthup.


Tatapan wajah Gracia pun berubah sendu, dia merasa tak enak hati terhadap suaminya tersebut. Pasti suaminya sangat menginginkan dirinya, namun dia malah tertidur di dalam kamar mandi.


"Maaf," ucap Gracia.


Satu kecupan hangat dia daratkan di bibir suaminya, merasakan adanya sentuhan, Mahendra membuka matanya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Mahendra.


"Sudah, maaf untuk yang tadi malam," ucap Gracia.


"Tidak apa-apa, aku memakluminya." Mahendra merangkum pipi Gracia dan memberikan ciuman lembut di bibirnya.


Tak lama tangan Mahendra terlihat turun dan menarik tali kimono mandi milik Gracia dan dia langsung meremat dada istrinya.


Lenguhan manja terdengar dari bibir Gracia , namun saat dia melihat jam dinding, Gracia nampak mendorong dada Mahendra.


Terlihat sekali raut kecewa di wajah Mahendra, dia menatap istrinya dengan tatapan penuh tanya.


"Ehm, Mas. Ini sudah jam empat, kita mandi dulu terus shalat subuh. Habis itu, Mas boleh minta hak' nya, Mas." Gracia tersipu.


Mahendra tersenyum kala mendengar penuturan istrinya, dia sudah mengira jika Gracia akan menolak untuk melakukan itu bersamanya.


"Baiklah istriku, Sayang. Kita akan mandi bersama," kata Mahendra.


Mahendra langsung membopong tubuh istrinya ke kamar mandi, mereka mandi bersama. Setelah itu, mereka terlihat shalat bersama.


Bahkan mereka pun melaksanakan shalat sunah dua rakaat, hal itu sengaja mereka lakukan untuk menyambut ritual yang akan pertama kali mereka lakukan.


Pukul lima, Mahendra dan Gracia sudah terlihat kembali merebahkan tubuh mereka di atas kasur pengantin mereka.


"Sudah siap?" tanya Mahendra.


"Hem," jawab Gracia.


"jangan tegang seperti itu, aku akan memberikan kamu kenikmatan. Bukan akan menyiksamu," kata Mahendra.


"Aku hanya gugup, karena ini yang pertama untukku," ucap Gracia.


"Aku tahu, sekarang bersiaplah untuk menerima serangan darinya," kata Mahendra seraya melirik miliknya yang sudah menegang.


Gracia sempat bergidig kala melihat milik Mahendra yang sudah terlihat berdiri tegak, karena memang kini mereka sedang dalam keadaan polos.


Setelah mengatakan hal itu, Mahendra langsung bangun dan mengungkung tubuh istrinya.


Dia mulai mengecupi wajah istrinya dengan lembut, menggigit cuping telinganya dan mulai menyusuri garis leher istrinya hingga dia menemukan puncak dada istrinya.


Bibirnya mulai beraksi di sana, dia mulai bermain di puncak dada istrinya dengan bibirnya dan juga tangan kanannya.


Tangan kirinya pun tak mau tinggal diam, tangan itu mulai turun mengusap perut istrinya hingga ke area inti milik istrinya.


Hal itu membuat Gracia memelentingkan tubuhnya, sensasi kenikmatan yang baru ia rasakan membuat dia merasa geli bercampur rasa... ah, sulit sekali untuk diartikan


"Sekarang ya, Sayang?" pinta Mahendra.


"Iya, Mas," jawab Gracia.


Mahendra tersenyum, dia kembali menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Sedangkan miliknya sudah mulai dia arahkan pada milik istrinya.


Dia terus saja bermain dengan bibir istrinya sambil mendorong miliknya agar bisa masuk dengan sempurna kedalam milik istrinya yang masih terasa begitu sempit.


"Emph!" suara pekikan tertahan terdengar dari bibir Gracia.


Untuk sesaat Mahendra nampak terdiam dengan miliknya yang sudah masuk dengan sempurna.


Tautan bibirnya pun dia lepaskan, dia tatap wajah istrinya dengan lekat


"Sakit?" tanya Mahendra.


"Iya, Mas. Sakit banget," jawab Gracia.


"Mau udahan aja?" tanya Mahendra dengan tatapan sendunya.


"Lanjutin aja, aku akan menahannya. Bukankah rasa sakitnya tidak akan lama?" tanya Gracia.


"Boleh, ini?" tanya Mahendra lagi.


"Ya, tapi pelan-pelan," ucap Gracia.


"Sesuai keinginan Tuan puteri," kata Mahendra.


Mahendra terlihat sangat bahagia sekali, dia pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan sangat lambat.


Dia tidak ingin menyakiti istrinya, bahkan dia terus saja memperhatikan raut wajah Gracia yang terlihat menahan sakit saat miliknya menerobos masuk secara paksa.


Namun, tak berselang lama wajah Gracia terlihat berubah. Dia terlihat begitu menikmati apa yang di lakukan oleh suaminya.


Mahendra tersenyum, lalu dia pun mulai mempercepat tempo gerakan pinggulnya. Hingga satu jam kemudian, Mahendra terlihat mengerang panjang di atas tubuh istrinya.


Dia tersenyum, lalu menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Dia terlihat begitu bahagia karena sudah mendapatkan pelepasan pertamanya.


Berbeda dengan Gracia yang terlihat lemas, karena dia sudah tiga kali mendapatkan pelepasannya.


"Terima kasih, Sayang." Satu kecupan hngat dia labuhkan di kening istrinya.


"Sama-sama," jawab Gracia.


Mahendra terlihat mencabut miliknya, lalu dia merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Gracia tersenyum, lalu dia memeluk Mahendra dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.