
Sisil masih terlihat kebingungan, dia tidak tahu harus menjawab iya atau tidak. Kalau menjawab iya, sudah dapat dipastikan jika kakinya akan segera mendapatkan terapi yang artinya akan segera mendapatkan kesembuhan.
Jika berkata tidak, mau sampai kapan kakinya berada dalam keadaan seperti itu?
Tapi, yang Sisil pertanyakan saat ini. Mengapa Adam begitu baik padanya? Apa karena simpati atau ada niat lain di balik kebaikan yang Adam tawarkan?
Sisil memandang wajah Adam dengan lekat, wajah lelaki yang begitu dekat dengannya.
Sisil berusaha mencari jawaban di sana, Sisil dapat melihat jika Adam begitu bersimpati pada dirinya. Adam terlihat bersungguh-sungguh ingin menolongnya.
"Kenapa melamun terus? Jujur, aku ngga ada niatan jahat sama kamu. Kamu itu cantik, baik, masih banyak hal yang bisa kamu lakukan tanpa adanya hambatan. Jadi, aku ingin membantu kamu agar kaki kamu bisa cepat sembuh." Jelas Adam pada Sisil.
Sisil kembali menundukan wajahnya, dia sangat tersentuh dengan ucapan Adam. Hanya saja, dia takut tak bisa membalas kebaikan Adam.
"Kalau kamu diem terus, itu tandanya kamu mengiyakan tawaran aku." Adam tersenyum dengan sangat manis ke arah Sisil.
"Saya, hanya takut tidak bisa membalas budi, Tuan." Sisil mendongakkan kepalanya, dia memberanikan diri untuk menatap netra Adam.
Adam nampak terkekeh dengan ucapan Sisil, dia tidak menyangka jika Sisil masih membahas soal balas budi.
"Jangan khawatir, uang yang aku berikan tidak gratis. Bukankah kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" tanya Adam.
Sisil nampak menganggukkan kepalanya," tentu, Tuan. Saya harus memasak untuk, Tuan." Jawab Sisil.
"Good girl! Besok hari sabtu, aku jemput kamu pukul delapan. Jangan lupa masak, aku mau sarapan di rumah kamu." Adam berucap seolah tak mau di bantah.
"Baik, Tuan. Titah anda akan saya laksanakan," ucap Sisil sambil tersenyum hangat.
Adam langsung tersenyum, mendengar jawaban dari Sisil. Sisil langsung bangun, dia merapihkan bekas makan siang Adam.
"Saya pamit, Tuan. Jika ada yang anda butuhkan, jangan sungkan." Sisil pun segera melangkahkan kakinya dari dalam ruangan Adam.
Adam hanya bisa tersenyum melihat kepergian Sisil, tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa tak tega saat melihat lagi dan lagi, Sisil yang berjalan dengan menyeret kaki kirinya.
*/*
Pagi-pagi sekali Adam sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke Rumah Sisil. Dia menggunakan kemeja berwarna marun dan celana jeans panjang berwarna hitam.
Adam mematut wajahnya di depan cermin, Setelah merasa penampilannya terlihat sempurna, Adam segera keluar dari kamarnya.
Adam terlihat sangat tampan, Laila yang melihat anaknya berpenampilan rapih di hari libur pun membuatnya bertanya-tanya.
"Adam, Sayang. Kamu rapih banget, mau kemana?" tanya Laila.
Laila yang sedang menikmati secangkir teh herbal di ruang tengah pun, langsung menyimpan teh'nya ke atas meja.
Dia terus saja memperhatikan penampilan Adam, dia juga memperhatikan wajah putranya yang terlihat begitu bersemangat dan ceria.
"Adam mau nganter temen, Bu." Adam langsung duduk di samping Laila.
Laila memicingkan matanya, baru kali ini dia mendengar Adam menyebut kata 'temen'. Karena sedari dulu, Adam jarang sekali berteman.
Kecuali saat di negara adidaya, dia selalu pergi kemana-mana bersama sahabat terbaiknya Ferdinand.
"Sejak kapan kamu punya temen?" tanya Laila penasaran.
Adam pun langsung terkekeh melihat kecurigaan di wajah Ibunya.
"Sejak masuk kerja di kantor Grandpa, Bu." Adam langsung memeluk Laila dan menyandarkan kepalanya di bahu Ibu'nya.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Laila lagi.
Adam mendongakan kepalanya, dia menatap Laila lalu tersenyum dengan sangat manis.
"Dia perempuan, Bu. Umurnya kayaknya di bawah Adam sekitar satu atau dua tahun, kakinya sakit. Kalau jalan kayak keseret gitu, Adam kasihan." Adam berbicara tanpa menutupi apa pun pada Laila.
"Apa pekerjaannya?"
"Dia seorang OB, Bu. Anak yatim piatu, Adam kalau ngelihat dia suka ngga tega." Adam mengeratkan pelukannya pada Laila.
"Jangan memeluk Ibu terlalu kencang, sesak." Keluh Laila.
Adam segera melonggarkan pelukannya," maaf, Bu. Tapi boleh kan Adam membantu dia?"
"Boleh, Sayang. Boleh, Ibu ngga pernah larang kamu untuk berbuat baik. Selama niat kamu baik, Ibu akan mendukung kamu." Laila mengusap pundak Adam dengan Sayang.
"Modus itu, Bu. Kak Adam lagi suka sama cewek, tapi bilangnya kasihan." Al yang baru saja datang langsung duduk di samping Adam.
"Al!" pekik Laila.
Adam langsung menatap tajam ke arah adiknya, Karena dia merasa tulus tanpa kata Modus yang Al lontarkan.
"Sorry, Bu. Tapi, biasanya kalau cowok udah bermaksud membantu dengan embel-embel kata kasihan, biasanya itu hanya alasan saja. Dia suka, tapi nggak berani berucap." Al menyambar teh herbal milik Laila.
"Al, itu punya Ibu." Laila langsung mengambil kembali tah herbal miliknya.
Al yang tersenyum, lalu dia menatap ke arah Adam.
"Kalau Kaka suka, buruan keja. Nanti, kalau dia di embat orang baru nyaho." Al langsung lari setelah menggoda Kakaknya.
Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Al, sedangkan Laila langsung mengelus punggung tangan Adam.
"Sepertinya, kamu memang harus segera berkenalan dengan wanita, Sayang. Ibu ngga masalah dia mau orang kaya atau miskin. Yang penting baik dan tentunya kamu merasa cocok dengannya." Laila berusaha untuk menasehati putranya.
Adam yang tak mau banyak bicara pun, langsung menganggukan kepalanya.
"Iya, Bu. Kalau begitu, Adam pergi dulu." Adam langsung mengecup kening Laila dan pergi menuju kediaman Sisil.
Sampai di depan rumah Sisil, Adam langsung mengetuk pintu rumahnya. Tak lama Sisil pun membuka pintunya, dia nampak cantik pagi ini.
Jika biasanya Adam melihat Sisil dengan baju seragamnya, kini Adam melihat Sisil menggunakan kaos berwarna marun dengan celana jeans panjang berwarna hitam.
Rambutnya yang panjang terlihat di kuncir kuda seperti biasanya.
"Hai," sapa Adam.
"Tuan, ini baru jam tujuh." Protes Sisil.
"Masa sih?" tanya Adam.
"Ya ampun, Tuan. Ini jam tangan melingkar cantik di tangan anda, masa Tuan ngga lihat jam." Sisil memegang tangan kiri Adam sambil melihat jam mewah di tangannya.
Adam langsung terkekeh," mungkin karena aku terlalu bersemangat untuk bertemu dengan kamu. Jadinya, aku tak sempet untuk melihat jam."
"Untung saja, saya sudah selesai memasak. Tuan, duduklah dulu. Biar saya ambilkan sarapan untuk anda," kata Sisil.
Adam menurut, dia duduk dan menunggu Sisil yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
+
+
+
Selamat pagi, selamat beraktifitas. Semoga kian sehat selalu dan tak bosen-bosen buat baca karya receh Author.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓 Sekebon toge untuk Kaleyan semua.