Who Is Adam?

Who Is Adam?
Burung Terbang



Air muka Tuan Arley kini berubah suram, dia merasa kesal di sebut grandpa oleh seorang Adam. Pasal nya, pria paruh baya itu selalu merasa diri nya masih gagah dan,, muda.


Kini Tuan Arley pun duduk sambil menggeser geser layar tab nya, Fernandez dan Nona Abigail pun ikut dudu di samping Tuan Arley.


Mereka bertiga di beri waktu setengah jam untuk memberikan penilaian pribadi terhadap seluruh peserta, setelah setengah jam berlalu mereka pun di beri waktu kembali selama setengah jam untuk berdiskusi tentang siapa lima puluh orang yang berhak maju ke tahap ke dua.


Satu jam tahap penjurian telah selsai, Fernandez pun bangun dari kursi nya dan memberikan selembar catatan pada Abrail.


Dengan senang hati Abrail pun menerima satu lembar kertas yang di berikan Fernandez pada nya, Abrail pun langsung naik ke atas panggung dan mulai mengumumkan hasil nya.


"Ehm, baiklah semua nya. Setelah satu jam para juri berdelibrasi, akhirnya kita akan masuk ke tahap yang ke dua, yaitu tahap lima puluh besar."


Para peserta yang ada di sana dan juga para wali pendamping yang hadir pun langsung bertepuk tangan, terlihat dengan jelas raut wajah dari tiap peserta yang mengikuti lomba.


Wajah mereka nampak tegang dan harap harap cemas, bahkan ada beberapa dari mereka yang sampai berkali kali mengusap kening nya yang berkeringat.


Heran memang, padahal ruangan itu ber- Ac. Di tambah lagi dengan cuaca yang begitu dingin, tapi karna sebuah ketegangan yang luar biasa mampu membuat mereka terlihat begitu kepanasan.


Apa lagi saat Abrail membuka mulut nya dan menyebutkan satu persatu peserta yang lolos ke babak ke dua, membuat wajah para peserta banyak perubahan.


Ada yang begitu ceria, ada yang terlihat sedih, ada yang tertawa, ada yang melompat kegirangan, ada yang menangis, ada yang marah marah tak terima karna kalah di awal, ada juga yang wajah nya datar tanpa ekspresi dan ada juga yang kecewa lalu jatuh pingsan.


Suasana pun mulai riuh, bahkan beberapa petugas keamanan yang telah berjaga pun langsung maju dan membantu peserta yang pingsan dan membawa nya ke klinik kesehatan kantor.


Sedangkan yang marah marah dan mengamuk, langsung di aman kan dan entah mereka di bawa kemana.


Adam yang baru pertama kali mengikuti lomba tingkat dunia hanya bisa menggeleng kan kepala nya, ternyata pikiran yang tertekan mampu merubah sikap semua orang pikir. nya.


Tak lama Tuan Arley pun bangun dan naik ke atas panggung, dia pun mengambil mic dari tangan Abrail.


"Selamat siang semua nya, saya ucap kan selamat untuk lima puluh orang peserta yang masuk ke tahap selanjut nya. Dan untuk yang kalah, saya harap kalian jangan kecewa, apa lagi sampai melakukan hal di luar nalar .Terimakasih, "Ucap Tuan Arley.


Tuan Arley pun mengembalikan mic ke tangan Abrail, dia pun kembali menyerukan suara nya.


"Baiklah semua nya, saya harap kalian bisa tenang dan konsentrasi kembali. Karna sepuluh menit lagi lomba tahap ke dua akan kembali di mulai, saya harap dalam waktu satu jam ke depan kalian bisa membuat desain interior yang sangat bagus, modrn dan terlihat lebih unik. Saya juga merasa kagum dengan peserta kali ini, karna ada peserta yang berusia masih sangat kecil."


Abrail mengeringkan mata nya ke arah Adam, Adam pun langsung tersenyum sambil mengulurkan tangan kanan nya dan melipat jari telunjuk dan jempol. nya membuat lambang cinta untuk Abrail.


Wajah Abrail terlihat merona, sedangkan Adam langsung menggelengkan kepala nya.


"Baiklah, lomba akan di mulai dalam hitungan ke tiga. Satu,,, dua ,,tiga,,, "Abrail berkomando. "


Dan para peserta pun langsung berkutat kembali dengan laptop mereka, mereka begitu serius dalam berlomba.


Tangan mereka begitu lincah dalam membuat desain, mata mereka bergerak ke kanan dan ke kiri dan tentu nya banyak di antara mereka yang beberapa kali. mengelap kening dan leher nya yang terlihat basah.


Terlihat sekali jika mereka memang sedang berpikir dengan keras, bahkan ada beberapa dari mereka yang terus menerus mengelap tangan mereka yang nampak berkeringat.


Sedangkan Adam si anak Genius itu malah terlihat sangat tenang, tatapan mata nya begitu fokus dan sesekali senyum membingkai indah di bibir nya.


Justru yang terlihat sangat tegang adalah Tuan Arley, tatapan mata nya tak lepas dari Adam. Sedangkan Laila terlihat begitu khawatir dan memeluk lengan Arkana dengan erat,sedangkan yang di tatap malah diam dan fokus dengan apa yang dia kerjakan.


Satu jam waktu yang di tentukan pun telah habis, Abrail pun langsung bangun dan berdiri di atas panggung. Abrail pun langsung menginstruksikan pada seluruh peserta agar menyudahi pekerjaan mereka.


Para peserta pun langsung mengangkat tangan mereka tanda patuh, dan itu arti nya mau selsai atau tidak pekerjaan mereka, mereka harus sudah siap dengan penilaian yang akan mereka terima.


"Baiklah, terimakasih karna kalian sudah sangat gigih dalam berlomba. Maka dari itu saya persilahkan Tuan Arley, Tuan Fernandez dan Nona Abigail untuk melakukan penilaian kembali ."


Tuan Arley ,Fernandez dan Nona Abigail pun langsung berdiri dan maju ke arah peserta. Mereka pun langsung memberikan penilaian pada para peserta, para peserta yang sedang di nilai pun terlihat begitu gugup.


Sedangkan Adam nampak tertawa tawa kecil dan sesekali melihat ke arah Fernandez, Tuan Arley pun merasa terganggu dan dengan cepat menghampiri nya.


"Hey Boy, What are you doing?"


"Sorry grandpa, apa kah asisten anda sudah sangat tua hingga dia begitu pikun? "


"What?! "Kesal Tuan Arley dan Fernandez bersamaan.


Adam pun makin tertawa melihat kekesalan di wajah mereka berdua, sedangkan Fernandez langsung menatap nya dengan tajam.


"Uncle, Kemarilah.."Ucap Adam seraya memaju mundur kan jari telunjuk nya.


Fernandez pun langsung menghampiri Adam,"Ada apa anak kecil? "Fernandez berkata dengan jutek .


"Uncle terlalu tinggi, berjongkok lah."Pinta Adam.


Fernandez yang memiliki tinggi seratus delapan puluh lima cm pun menurut ,dia langsung berjongkok dan Adam pun langsung membisikan sesuatu tepat di telinga Fernandez.


Setelah mendengar bisikan Adam, Fernandez langsung melihat ke arah resleting celana nya. Dan benar saja apa yang di katakan Adam, jendela nya telah terbuka dan nampak lah dalaman berwarna pink yang di pakai nya .


Sontak Fernandez pun langsung menutup area depan nya dengan ke dua telapak tangan nya dan berlari kebelakang, semua yang ada di sana pun langsung tertawa. Tuan Arley pun nampak menahan tawa, sedngakan Nona Abigail nampak tersipu.


Semua orang yang ada di sana bukan tak menyadari kecerobohan asisten Fernandez, tapi mereka seakan malu untuk mengatakan jika jendela yang menampakan dalaman berwarna pink itu telah terbuka lebar sedari tadi.


Ruangan yang sedari tadi nampak tegang berubah riuh seketika, mereka seakan lupa jika mereka sedang mempertaruhkan kejeniusan mereka.


"Boy,, !!"Kesal Tuan Arley.


"Sorry grandpa, aku hanya tak tega jika nanti burung nya akan terbang karna dia lupa menutup jendelanya."Jawab Adam.


Tuan Arley pun langsung tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya , ternyata selain jenius dan pandai dalam berbicara, Adam tetap lah anak kecil yang bisa kapan saja bertingkah konyol dan menggemas kan.


Sedangkan Laila dan Arkana nampak tersenyum melihat ke dua nya yang selalu terlihat berdebat, Arkana bukan tak menyadari gen Adam yang menurun dari mana. Dia hanya belum siap saja dengan apa yang akan terjadi ke depan nya, bahkan Arkana pun sangat menyadari jika gelar M. ars yang di sandang nya juga pasti turun dari pria yang kini ada di depan nya itu.


+


+


+


Remekeun sama Like, Vote, komentar, dan saran nya ya.. Kalau ada kesalahan boleh di kritik, karna daya memang pemula. Harus banyak belajar, agar bisa lebih baik lagi.


TBC