Who Is Adam?

Who Is Adam?
Berita Baik Vs Berita Buruk



Laila dan Arkana nampak saling pandang, mereka tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Dokter muda yang sedang duduk manis di hadapan mereka.


Dokter dengan nama yang mendunia itu terlihat tersenyum manis ke arah Arkana dan Laila, membuat Arkana makin bertanya-tanya.


Yang sakit Arkana, dan yang muntah-muntah juga Arkana. Lalu, apa hubungannya dengan datang bulan?


"Maaf, Dokter. Saya tidak paham, bisa dijelaskan." pinta Laila.


"Begini, Nyonya. Keadaan suami anda baik, semuanya baik. Menurut diagnosa saya, suami anda terkena syndrom simpatik." ucap Dokter Udin.


"Apa itu, Dok?" tanya Arkana penasaran.


"Kalau diagnosa saya benar, Nyonya Laila sedang mengandung. Makanya saya bertanya, kapan anda terakhir datang bulan?" tanya Dokter Udin.


Laila nampak berpikir, begitupun dengan Arkana. Selama tiga bulan menikah dengan Laila, Arkana belum pernah melihat istrinya datang bulan.


"Seingat saya, selama tiga bulan menikah, istri saya tidak pernah datang bulan, Dok." ucap Arkana.


"Cocok!!" ucap Dokter Udin lantang.


Arkana dan Laila, sampai terlonjak kaget dengan ucapan Dokter Udin. Dokter Udin pun langsung tersenyum, saat menyadari jika dia berbicara terlalu lantang.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Saya langsung hubungi Dokter kandungan saja kalau begitu, jadi kalian bisa langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa menunggu." ucap Dokter Udin.


"Boleh, Dok. Saya ingin segera memastikan, apakah benar saya hamil?" ucap Laila.


Dokter Udin pun tersenyum, sejurus kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter Mawar. Karena dialah Dokter kandungan yang berada di rumah sakit tersebut.


"Silahkan langsung ke ruangan Dokter Mawar," ucap Dokter Udin.


"Terima kasih, Dok. Kalau begitu, kami permisi." ucap Arkana.


Arkana Dan Laila pun hendak pergi, tapi baru saja Arkana mau membuka pintu, Laila kembali berbalik dan menghampiri Dokter Udin.


Dokter Udin nampak mengernyitkan dahinya, dia merasa heran. Kenapa Laila menghampirinya kembali?


''Ada apa, Nyonya?" tanya Dokter Udin.


" Maaf Dok, kalau boleh saya tahu ruangan Dokter Mawarnya, di sebelah mana ya?" tanya Laila.


"Di sebelah kanan ruangan saya, Nyonya." Jawab Dokter Udin.


"Ooh," ucap Laila.


Laila pun segera keluar dari ruangan Dokter Udin, Dia segera menggandeng tangan Arkana, kemudian mereka masuk ke dalam ruangan yang ada di sebelah kanan ruangan Dokter Udin.


Dokter Mawar yang sudah dihubungi oleh Dokter Udin pun, langsung mengajak Laila untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.


Di mulai dari tes urin, cek kesehatan dan denyut nadi, hingga USG. Saat melakukan USG, Dokter Mawar pun langsung menjelaakan keadaan janin yang berada di dalam rahim Laila.


"Nyonya, hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu. Nyonya dan Tuan bisa melihat di layar, berat bayinya sekitar dua gram, panjangnya sudah mencapai dua koma tujuh gram.


Laila dan Arkana memperhatikan bentuk janin berbentuk huruf C di layar kaca, matanya sudah mulai terlihat.


Laila terlihat sangat senang, berbeda dengan Arkana. Mata Arkana tiba-tiba terlihat berair, dia bukan tak senang. Justru dia sangat senang, karena di kehamilan Laila yang kedua dia bisa menyaksikan bentuk calon anaknya.


Rasa mual yang dari pagi begitu menyiksa, kini membuat Arkana merasa bangga. Karena mungkin, ini lah rasa yang dulu Laila rasakan.


Arkana langsung memeluk Laila, dan menghujani wajah Laila dengan ciuman. Arkana juga terlihat mengecup bibir Laila, beberapa kali.


"Terimakasih, Sayang. Mas, bahagia. Tuhan seakan tahu, jika di kehamilan kamu kali ini, akulah yang harus menggantikan rasa mual dan lemas yang pernah kamu rasa." ucap Arkana.


Laila merasa terharu mendengar ucapan Arkana, Laila pun langsung membalas pelukan Arkana dengan erat.


"Ehm," Dokter Mawar merasa serba salah dengan kemesraan dua insan yang ada di hadapannya.


Arkana Dan Laila pun langsung melerai pelukannya, Kemudian mereka pun tersenyum malu kepada Dokter Mawar.


"Maaf ya, Dok. Kami terlalu senang," ucap Arkana.


"Tidak apa-apa," ucap Dokter Mawar.


Setelah menyelesaikan pemeriksaan kandungan, Laila dan Arkana pun segera pergi dari rumah sakit tersebut. Saat dalam perjalanan pulang, Laila merasa sangat menginginkan rujak buah yang dijual oleh pedagang dorong di pinggir jalan.


Arkana pun menuruti keinginan Laila, mereka berhenti di pinggir jalan karena ingin membeli rujak buah yang Laila inginkan.


"Rujak buahnya dua bungkus ya pak, yang satu pedas, yang satunya sedang saja." ucap Laila seraya menyerahkan uang seratus ribu.


"Siap, Neng. Tapi, ini uangnya kebanyakan." kata Kang buah.


"Tak apa, kembalinya buat, Bapak." ucap Laila.


Kang buah pun berdecak senang," Makasih Neng."


"Sama-sama," ucap Laila.


Saat melihat Kang rujak mengiris buah mangga, air liur Laila seakan hendak menetes. Rasanya, Laila ingin segera mencicipi rujak buah tersebut.


"Mas, tolong beliin air mineral. Yang satu bungkusnya, pengen aku makan di sini. Takut pedes, sedia air dulu." ucap Laila.


"Iya, Sayang. Tunggu ya," kata Arkana.


Arkana langsung pergi menuju warung kecil yang ada di sebrang jalan, untuk membeli air mineral. Sedangkan Laila terlihat asik memperhatikan Kang buah, yang sedang mengiris berbagai macam buah.


Tanpa Laila duga, tiba-tiba saja, ada sepeda motor yang berhenti tepat di dekat Laila. Seorang pria dan wanita, mereka sama-sama memakai masker dan juga topi.


Laila sempat memperhatikan wajah mereka, sejurus kemudian perempuan yang berada di boncengan langsung merebut tas selempang yang sedang di pakai oleh Laila.


Perempuan itu, tak turun dari atas motor. Sehingga membuat tubuh Laila ikut terbawa saat sang pria menyalakan mesin motornya.


Tubuh Laila ikut terseret, mau tak mau Laila pun berlari karena takut jatuh.


"Tarik yang kencang tasnya, jangan sampai perempuan itu menghambat aksi kita." ucap si pria.


Laila, yang merasa kenal dengan suara tersebut langsung berteriak.


"Jhoy.... !!!!" teriak Laila.


Kedua orang yang ada di atas motor itu pun terlihat sangat kaget, perempuan itu langsung melepaskan tas Laila. Sedangkan si pria, langsung tancap gas dan melajukan sepeda motornya dengan kencang.


Tubuh Laila terjerembab hingga jatuh ke atas aspal, Arkana berteriak histeris saat melihat istrinya. Dengan Cepat dia berlari dan meraih tubuh istrinya.


"Laila!!!! "