Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bersikap Aneh



Hari Senin pun telah tiba, Gracia nampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia terlihat memakai celana bahan panjang berwarna hitam, dipadupadankan dengan kemeja panjang garis-garis berwarna hitam putih.


Setelah selesai berpakaian, Gracia pun duduk di depan meja rias. Dia hendak mematut dirinya di depan cermin.


Gracia nampak memoles wajahnya dengan make up tipis, kemudian bibirnya pun dia pakaian lipstik berwarna merah muda.


Tak lupa rambutnya dia Ikat tinggi-tinggi, karena dia memang suka dengan gayanya yang seperti itu.


"Cantik," ucapnya seraya tersenyum saat melihat pantulan wajahnya di cermin.


Gracia lalu berdiri, kemudian dia memindai penampilannya dari atas sampai bawah. Kemudian, sebuah senyuman tersungging dari bibirnya.


"Ternyata si kulkas bener, aku merasa lebih cantik kalau make baju tertutup kaya gini. Lebih aman juga kalau jatuh kaya kemarin," kata Gracia lirih.


Gracia nampak memandang kedua telapak tangannya yang masih terlihat luka, jika digerakkan tangannya masih terasa sakit.


"Ya Tuhan, semoga saja aku sudah bisa mengetik." Gracia menghembuskan napas kasar.


Tak lama kemudian, Gracia pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Tiba di ruang makan, dia menyapa ibunya yang sedang menata makanan di atas meja. Kemudian Gracia langsung duduk dan mereka pun sarapan bersama.


"Aku sudah selesai, Bu," kata Gracia.


"Ya, tangan kamu bagaimana, Sayang?" tanya Ibu Naura.


"Masih sakit, Bu. Kayaknya berangkat kerjanya mau naik angkot aja, kalau bawa motor takut belum kuat tangannya," jawab Gracia.


"Ibu setuju, hati-hati naik angkotnya." Ibu Naura nampak merapikan bekas sarapan pagi mereka.


"Iya, Bu. Aku berangkat dulu, assalamualaikum," pamit Gracia.


Setelah mengucapkan salam, Graci pun nampak keluar dari rumahnya. Kemudian, dia pun melangkahkan kakinya menuju jalan besar.


Dia ingin menunggu angkutan umum di sana, karena dia belum bisa membawa motornya sendiri.


Saat sedang asyik menunggu angkutan umum, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depannya.


Gracia nampak memperhatikan mobil tersebut, dia pun tersenyum kecut saat tahu jika mobil tersebut milik Mahendra.


Tak lama kemudian, kaca mobilnya terlihat diturunkan. Nampaklah wajah Mahendra yang sedang duduk di balik kemudi.


"Masuklah!" kata Mahendra tanpa menatap Gracia.


Dia mengajaknya untuk masuk, namun tak melihat dirinya sama sekali. Gracia malah memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain.


Melihat Gracia yang tak kunjung masuk, Mahendra langsung turun dari mobilnya. Tanpa Gracia duga, Mahendra langsung mengangkat tubuh Gracia dan mendudukkannya di dalam mobilnya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Gracia terlihat kesal sekali. Antara marah dan malu yang dia rasakan saat ini.


Setelah melihat Gracia duduk dengan benar, Mahendra langsung menutup pintu mobilnya. Kemudian, dia pun segera masuk dan duduk di balik kemudi.


Dia memakai sabuk pengamannya dan segera menyalakan mobilnya, namun saat Mahendra hendak melajukan mobilnya, Gracia nampak memukul-mukul lengan Mahendra.


"Iiiih! Tuan itu nyebelin! Masa main angkat-angkat aja, memangnya aku apaan?" tanya Gracia.


Mahendra langsung menangkap tangan Gracia, menatapnya sebentar lalu dia pun segera mengambil salep dan mengoleskannya ke tangan Gracia.


"Jangan mukilin aku, nanti tangan kamu tambah sakit," kata Mahendra.


Setelah mengatakan hal itu, Mahendra nampak memakaikan Gracia sabuk pengamannya. Kemudian, dia pun melajukan mobilnya menuju perusahaan Callweld.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, mereka hanya terdiam. Mahendra terlihat fokus mengemudi, sedangkan Gracia terlihat fokus dengan pikirannya sendiri.


Sesekali dia melirik kearah Mahendra yang tetap saja berwajah dingin dan datar, namun dia merasa jika Mahendra sangatlah perhatian di balik wajah dinginnya itu.


Tiba di perusahaan Callweld, Mahendra langsung turun dengan cepat, kemudian dia pun membukakan pintu mobil untuk Gracia.


Untuk sesaat Gracia nampak tertegun, karena Mahendra tak pernah melakukan hal itu. Namun, beberapa detik kemudian dia pun segera turun dari mobil Mahendra.


Kemudian Gracia terlihat membungkukkan tubuhnya.


"Terima kasih, Tuan. Atas tumpangannya," ucap Gracia.


Setelah mengatakan hal itu, Gracia langsung berjalan mendahului Mahendra. Rasanya, dia tak ingin berjalan bersama dengan pria dingin tersebut.


Apa lagi saat para karyawan lainnya yang melihat akan hal itu, mereka terlihat mulai berbisik-bisik tetangga.


Melihat kepergian Gracia yang terlihat tergesa-gesa, Mahendra hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, Mahendra terlihat kaget karena tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.


"Ehm, kalau suka katakan saja. Nanti kebutu dilamar lelaki lain, nyesel kamu." Tuan Arley nampak merangkul Adisha dan segera berlalu.


Mahendra hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan dari Tuan Arley, kemudian dia pun langsung berjalan menuju ruangannya.