
Raut bahagia terlihat jelas di wajah Tuan Arley dan juga Adisha, mereka begitu senang saat mengetahui kehamilan Adisha.
Tuan Arley bahkan banyak bertanya kepada Dokter Maira, karena ini adalah pengalaman pertamanya mendampingi seorang istri yang sedang hamil.
"Dok, apa' kah kami masih boleh melakukan hubungan suami istri?" tanya Tuan Arley.
Dokter Maira langsung tersenyum, sedangkan Adisha, langsung menyikut perut Tuan Arley. Dia merasa malu, dengan apa yang ditanyakan oleh suaminya itu.
"Boleh, Tuan. Yang penting harus pelan dan jangan terlalu sering," jawab Dokter Maira.
"Tapi, Dok. Kenapa saya tidak pernah merasakan yang namanya mual atau muntah? Tetapi, saya, merasa kalau diri saya biasa-biasa saja. Tidak seperti sedang mengandung, itu kenapa ya Dok, apakah itu berbahaya?" tanya Adisha penasaran.
"Gejala yang terjadi kepada ibu hamil memang beda-beda, Nyonya. Ada yang mual dan muntah, ada yang biasa saja, ada yang doyan makan dan ada yang lemas karena tidak masuk makanan sama sekali." jawab Dokter Maira.
"Syukurlah, Dok. Saya lega mendengarnya," ucap Adisha.
Setelah melakukan serangkaian ,pemeriksaan, dan juga mendapatkan banyak saran, Dokter Maira pun memberikan resep vitamin dan obat yang harus ditebus oleh Adisha, di apotek.
Setelah selesai, mereka pun langsung keluar dari ruangan Dokter Maira. Eliza dan Devano langsung menghampiri mereka berdua, mereka penasaran.
"Bagaimana, Tan?" tanya Eliza.
Tanpa banyak bicara, Adisha langsung menunjukkan foto USG yang baru saja di print oleh Dokter Maira. Wajah Eliza pun langsung berubah, dia sangat senang dan langsung memeluk Adisha dengan erat.
"Selamat, ya, Tante. Akhirnya, kalian akan mendapatkan momongan." Eliza mengelus lembut, punggung Adisha.
"Selamat ya, Om. Aku turut senang, ucap Devano seraya mengulurkan tangannya.
Tuan Arley, dengan senang hati langsung menerima uluran tangan Devano. Dia tersenyum dengan sangat lebar, dia sangat senang. Dia bahagia, karena Tuhan masih memberikan kesempatan padanya.
Memberikan kesempatan untuk menjadi seorang Ayah kembali, Tuan Arley pun jadi berpikir, mungkin inilah waktunya untuk Tuan Arley memperbaiki dirinya.
Berusaha untuk menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak'nya, tidak seperti dulu saat Nyonya Alina tengah hamil Arkana, bahkan Tuan Arley pun tak tahu.
Eliza melerai pelukannya, kemudian dia mengajak Devano untuk memeriksakan keadaan rahimnya. Dia juga ingin segera berkonsultasi, dengan Dokter Maira.
Sedangkan Tuan Arley dan juga Adisha, langsung memutuskan untuk pergi kerumah Arkana. Mereka ingin memberitahukan kabar bahagia ini, kepada anak dan cucunya.
Sama seperti Adisha dan Tuan Arley, Eliza dan Devano juga langsung di persilahkan oleh suster Rani, untuk duduk tepat di depan Dokter Maira.
"Ada yang perlu di saya bantu?" tanya Dokter Maira.
"Iya, Dok. kami sudah tiga bulan menikah. Tapi, istri saya belum ada tanda-tanda hamil. Kira-kira, Apq yang harus kami lakukan?" yang Devano.
"Sebenarnya, tiga bulan itu usia pernikahan yang baru sebentar. Tapi, kalau kalian ingin tahu dengan pasti. Tuan dan Nyonya, bisa melakukan pemeriksaan kesehatan." ucap Dokter Maira.
"Lakukan, Dok. Kami ingin segera menimang baby, kalau perlu, kami ingin melakukan program hamil." ucap Devano.
"Baiklah, kalau begitu, kita akan melakukan pemeriksaan terhadap Tuan dan Nyonya." ucap Dokter Maira.
Akhirnya Devano dan Eliza pun melakukan serangkaian pemeriksaan, mereka melakukan apapun yang diperintahkan oleh Dokter Maira.
Hingga yang terakhir, Eliza, diminta untuk melakukan USG oleh Dokter Maira. Eliza, pun langsung merebahkan tubuhnya, dengan cekatan suster Rani membantu mengoleskan Gel pada perutnya Elsa.
" Semua pemeriksaan sudah selesai, silakan Tuan dan Nyonya untuk duduk kembali." titah Dokter Maira.
Devano dan Eliza pun langsung duduk di tempat semula, begitupun dengan Dokter Maira. Sebelum Dokter Maira berbicara, dia terlihat menghela napas panjang.
Hal itu membuat Eliza dan Devano, makin khawatir. Mereka takut, ada hal yang tidak mereka inginkan yang akan terjadi.
"Bagaimana, Dok?" tanya Eliza.
"Ada kita di dalam rahim anda, Nyonya. Jika anda, ingin hamil. Anda harus melakukan operasi pengangkatan kista terlebih dahulu," jelas Dokter Maira.
Wajah Eliza dan Devano menjadi suram, mereka menjadi takut jika mereka tidak akan mempunyai keturunan.
" Apakah itu berbahaya, Dok?" tanya Devano.
Dokter Maira pun langsung tersenyum, dia berusaha untuk menenangkan kedua pasangan tersebut.
"Tidak, Tuan. Tapi, secepatnya istri anda harus melakukan pengangkatan kista." Dokter Maira berucap sambil tersenyum.
"Lakukan apa pun untuk istri saya, Dok. Asalkan tidak membahayakan," ucap Devano.
"Tentu saja tidak, kami. akan berusaha melakukan yang terbaik untuk istri anda." Dokter Maira memandang wajah Eliza yang terlihat sangat gusar.
Setelah melakukan konsultasi dengan Dokter Maira, akhirnya Eliza dan Devano pun memutuskan untuk pulang. Devano pun sudah berbicara dengan Dokter Maira, jika Eliza minggu depan sudah bisa melakukan pengangkatan kista di dalam rahimnya.
Eliza dan juga Devano pulang dalam keadaan lesu, sepanjang perjalanan pulang mereka nampak terdiam.
Tetapi Devano sangat tahu, jika istrinya lebih terluka dari dirinya. Devano pun berusaha menenangkan hati Eliza, diapun menarik tubuh Elisa ke dalam dekapannya.
Memberikan kecupan-kecupan hangat di kening nya, agar Eliza tidak terlarut di dalam kesedihannya.
Berbeda dengan Eliza dan Devano, berbeda juga dengan Tuan Arley dan juga Adisha. Tuan Arley dan juga Adisha, benar-benar merasa sangat bahagia.
Kini, mereka sedang berkumpul bersama Arkana, Laila dan juga Adam. Seharusnya Adam memang masih berada di sekolahan, tetapi karena adanya rapat para guru, akhirnya pukul 9 pagi Adam sudah berada di rumah.
Alhasil, dia pun langsung mengetahui jika Nini' nya sedang mengandung.
Adam langsung meloncat-loncat kegirangan, Adam berpikir jika Ibu'nya nanti mempunyai anak. Maka anak' nya Laila akan bermain dengan anak dari Nini' nya.
Sedangkan kasih sayang Arkana dan juga Laila, tidak akan berpindah untuk adiknya, tapi tetap untuk dirinya.
"Apa kamu senang, Mas?" tanya Laila.
"Senang, Sayang. Akhirnya, Daddy pun bisa mendapatkan kebahagiaan yang melimpah." Arkana memeluk Laila, lalu melabuhkan kecupan hangat di kening istrinya.
"Lalu, bagaiman kamu memanggil adik kecil kamu, Mas?" goda Laila.
"Oh, tuhan... Bahkan umur adikku, lebih muda dari anak kedua ku," ucap Arkana.
Semua orang yang ada di sana pun langsung tertawa.