Who Is Adam?

Who Is Adam?
Rumah Sakit



Devano masih terlihat shock saat melihat kaki Eliza terhimpit besi penyangga, bahkan kini kaki Eliza sudah terlihat mengeluarkan darah.


Devano pun mulai tersadar saat ada seseorang yang menyeru kan namanya ,seseorang yang tidak lain adalah Adam.


"Tolong Aunty Om ,tolong dia Om."Ucap Adam di sela tangis nya.


Ternyata Adam kini tengah menangis sambil memegangi kaki Eliza, Devano pun langsung tersadar dan dengan cepat Devano menghampiri Eliza.


Devano langsung membuang besi penyangga yang menghimpit kaki nya Eliza dan Devano pun segera menggendong nya.


Tak lupa Devano pun meminta tolong kepada salah satu petugas yang ada di sana untuk menggendong keponakan Eliza, dan meminta nya untuk mengantarkan nya ke mobil Devano.


Devano pun langsung berlari membawa Eliza di gendongan nya di ikuti oleh Adam dan juga petugas yang menggendong keponakan nya Eliza ,saat sampai di parkiran Devano pun meminta Adam untuk membuka mobil milik .


Dengan cekatan Adam mengambil kunci mobil Devano dari saku celana nya, dia pun segera membuka mobil milik Om nya tersebut.


Setelah mobil terbuka, dengan perlahan Devano pun menduduk kan Eliza di kursi depan di samping kursi kemudi.


Kemudian Adam pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang, seorang petugas yang menggendong keponakan nya Eliza pun langsung menduduk kan anak itu di samping Adam.


Devano pun tak lupa mengucap kan terima kasih kepada petugas tersebut dan memberikan 2 lembar uang berwarna merah ke pada nya, setelah itu Devano pun langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit .


Sepanjang perjalanan Eliza nampak menangis sambil menahan rasa sakit di kakinya,bahkan darah di kaki nya pun sudah mulai membasahi mobil nya Devano.


Keponakan Eliza pun terlihat menangis dan terus memanggil nama Aunty nya ,dia terlihat begitu takut karna melihat sendiri bagaimana kejadian yang menimpa Aunty nya itu.


Tetapi dengan cekatan Adam memeluk gadis kecil berusia empat tahun itu, Adam berusaha untuk menenangkan nya.


Anak itu pun mulai diam sambil terus menatap Aunty nya, sedangkan Devano kini sedang di rudung rasa bersalah nya pada Eliza.


"Tahan ya Za, bentar lagi kita sampai di rumah sakit."Ucap Devano.


Eliza hanya mengangguk kan kepala nya, rasa nya dia begitu sulit untuk berkata-kata karna rasa sakit yang begitu mendominasi nya.


"Aunty jangan nangis, Chacha jadi sedih."Ucap Chacha sang keponakan seraya terisak.


"Aunty wanita yang kuat, Adam yakin kalau Aunty pasti akan cepat sembuh. Jadi Chacha jangan nangis lagi, ok?! "Ucap Adam menenang kan.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi pun sudah sampai di rumah sakit, dengan cepat Devano menggendong Eliza dan membawa nya ke ruang IGD agar bisa cepat mendapat kan perawatan.


Adam dan Chacha pun dengan setia mengekori Devano, tapi saat Devano masuk ke dalam ruangan IGD ke dua bocah lucu itu pun tak di perkenanan kan untuk masuk.


Chacha sempat menangis, tapi Adam dengan cepat memeluk gadis kecil itu dan mengelus lembut punggung nya.


"Sabar ya Cha, Aunty pasti sehat lagi. Chacha do'ain Aunty, ok?! "


"Ok kak, tapi aku tetap syedih lihat Aunty kesakitan."Ucap Chacha dengan isakan manja nya.


Adam pun tersenyum, lucu sekali pikir nya anak itu. Adam jadi membayang kan jika dia mempunyai adik perempuan, pasti lucu nya kaya Chacha.


Setengah jam kemudian pintu ruang IGD pun terbuka, nampaklah Eliza yang sedang terbaring di atas brangkar yang di dorong oleh beberapa suster.


Devano pun nampak setia menemani Eliza, bahkan tangan nya terlihat menggenggam tangan Eliza dengan erat.


Chacha dan Adam yang melihatnya pun langsung ikut mengekori mereka,mereka terlihat begitu khawatir saat melihat kaki Eliza yang sudah di gif dan di perban.


Sampai di ruang perawatan, Devano pun langsung duduk di samping Eliza. Tangan nya tak lepas dari gadis cantik yang sebentar lagi lulus S2 itu, sedangkan Adam dan Chacha nampak setia di samping Devano.


"Za, seharus nya kamu ngga nyelametin aku. Kamu jadi terluka kaya gini gara-gara aku, "Sesal Devano.


"Tak apa kak, aku senang kakak tidak terluka."Ucap Eliza seraya meringis menahan sakit.


Tak lama pintu ruang perawatan Eliza pun terbuka, nampak lah ke dua orang tua Eliza datang menghampiri nya.


Devano pun langsung melepaskan tautan tangan nya dan berdiri, dia berusaha memberikan ruang untuk ke dua orang tua nya Eliza.


"Sayang, kenapa bisa seperti ini? "Tanya Tuan Bram .


"Hanya kecelakaan Yah, sebuah patung yang lumayan besar rubuh Yah dan Eliza tak sempat untuk menghindar ."Ucap Eliza.


Devano tertunduk lesu, Devano merasa tak enak hati dengan apa yang di ucap kan oleh Eliza.


"Ngga usah khawatir Ma,Eliza tak apa-apa. Kata dokter hanya luka biasa, paling hanya butuh waktu satu bulan agar aku bisa berjalan dengan normal kembali."Jawab Eliza dengan senyum hangat nya.


Devano sempat terpesona dengan senyum Eliza, berbeda sekali sikap Eliza saat bersama nya dan saat berada bersama dengan orang tua nya, Eliza nampak terlihat sangat dewasa pikir nya.


Pandangan mata Eliza kini beralih pada Devano, dia merasa tak nyaman kalau Devano masih berada di sana.


"Kak, "Panggil Eliza.


Devano pun dengan cepat mendekat ke arah Eliza,"Ada apa? "


"Pulang lah, ajak Adam pulang. Anak kecil tak boleh berlama-lama di rumah sakit, "Ucap Eliza.


"Tapi--"


"Ngga usah tapi-tapian, sekarang kakak pulang."Ucap Eliza.


Ucapan nya sangat pelan, tapi terdengar penuh perintah.


"Baiklah, aku dan Adam akan pulang. Lalu bagaiman dengan Chacha?"


"Chacha nanti akan pulang sama Ayah, iya kan Yah? "


"Iya, sebentar lagi Ayah akan membawa Chacha pulang. "Jawab Tuan Bram.


Devano pun terlihat pasrah, Devano mendekati Eliza dan mengelus lembut puncak kepala nya.


"Nanti malam aku akan ke sini, aku akan menemani mu."Ucap Devano.


"Tidak usah, aku bisa sendiri."Tolak Eliza.


Hati Devano terasa tercubit, biasa nya perempuan yang sedang berada di hadapan nya itu selalu ingin berlama-lama dengan nya.


Tapi kali ini dia terlihat begitu enggan, Devano pun jadi merasa tak enak hati.


"Terserah kamu saja, tapi nanti malam aku pasti datang untuk menemani kamu."Ucap Devano,tatapan Devano pun beralih pada ke dua orang tua Eliza."Saya pamit Om, tante."


"Ya pulang lah, hati-hati."Ucap Nyonya Berlin.


Adam yang sedari tadi diam pun langsung menghampiri Eliza, "Adam pulang dulu ya Aunty, Aunty harus cepat sembuh."Ucap Adam.


Eliza nampak menganggukan kepala nya, Adam pun tersenyum. Tak lama Adam mendekati Eliza dan mencium kening nya, semua yang ada di sana nampak terperangah.


Setelah mencium kening Eliza, Adam pun nampak mencium pipi ke dua orang tua Eliza.


"Aku pulang dulu ya Oma, Opa."Pamit nya.


"Oke tampan, hati-hati."Ucap Nyonya berlin.


Chacha nampak menghampiri Adam, dia memeluk Adam dengan erat."Kakak hati-hati pulang nya, nanti kita ketemuan lagi. Ok?! "


"Oke gadis kecil, kakak pulang dulu."Pamit Adam.


Devano dan Adam pun langsung pulang menuju rumah Adam, sepanjang perjalanan Devano terus saja memikir kan Eliza.


Begitu banyak kata Andai saja yang terlintas di dalam otak nya, dan sampai saat ini dia masih tak percaya jika Eliza sudah menyelamatkan kan Devano dari kecelakaan.


+


+


+


Duh gimana ini Dev?


Bagaimana nasib Eliza ke depan nya?


Apa kamu ngga tersentuh dengan pengorbanan Eliza?


pantengin terus ya gengs, jangan lupa tinggal kan jejak Yes..