
Mentari pagi menyeruak, memasuki kamar apartemen Reyna yang kini sunyi tanpa suara.
Tiba-tiba saja, gadis itu menguap, ia bangkit dari tidurnya seraya melepaskan selimutnya dari tubuh mungilnya.
Tanpa sadar, ia menghentikan aktivitasnya tatkala melihat Yasya yang kini masih tertidur dengan lelapnya. Gadis itu tersenyum hangat, ia memperhatikan dada bidang Yasya yang begitu berotot dan seksi membuat fikiran liarnya bermain.
Namun sedetik kemudian, gadis itu menggeleng dan segera turun dari ranjang untuk memasuki kamar mandinya.
Suara gemericik air terdengar bersamaan dengan air shower yang menyentuh kulit gadis itu. Membuat Reyna mengingat apa yang dilakukan Yasya semalam padanya.
Flashback on.
Mata gadis itu terperanjat kala Yasya kini terlihat bertelanjang dada dan menatapnya intens seperti tak kuasa menahan gairah. Pria itu perlahan naik keranjang Reyna dan menindih tubuh gadis itu. Tatapannya terkunci pada Reyna yang nampak cantik dengan rambutnya yang tergerai.
Pria itu beralih mendekat, dan meraih tangan Reyna untuk menyentuh dada bidangnya. Setelah Reyna menyentuh dada bidang pria itu, Yasya langsung mencium leher gadis itu membuat Reyna menggelinjang.
"Ada apa sayang" tanya Yasya yang kini menaikkan sebelah alisnya, membuat Reyna menggeleng. Pria itu dengan lembut meraih jemari Reyna dan menciumnya, lalu ciumannya beralih pada kening Reyna.
"Aku tak akan menodai kamu Reyna, aku akan selalu menjaga kesucian dan kehormatan kamu sampai kita menikah nantinya. Jangan pernah takut sayang" ujar Yasya membuat Reyna kini bisa bernafas lega. Yasya kini berbaring disamping gadis itu, ia memeluk Reyna dan mengecup puncak kepalanya sebelum matanya terpejam.
"Makasih Yasya, makasih karena kamu mau nunggu" ujar Reyna sedikit berbisik kemudian membalas pelukan pria itu dengan hangat.
Flashback off.
Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang menunjukkan semburat merah dipipinya.
Ia melangkahkan kakinya dengan memakai baju kemeja putih serta celana kerja berwarna coklat. Ia memasuki kamarnya dengan senyuman gadis itu menatap manik mata Yasya yang kini masih terpejam dalam mimpinya.
"Yasya bangun" serunya seraya menggoyangkan pelan tubuh pria itu membuat Yasya menggeliat manja.
"Yasya ayo bangun, ini udah siang. Kamu lupa hari ini aku pertama kali masuk kerja" kata Reyna yang kini merengek, namun perkataan Reyna bahkan tidak mempan dengan Yasya yang kini masih nyaman dalam mimpinya.
Reyna kini beralih ke sisi ranjang. Ia berjongkok dan tak sengaja wajah mereka saling berdekatan membuat jantung Reyna berdegup kencang, gadis itu menelan salivanya seraya tersenyum tenang melihat ketenangan kala Yasya tengah terlelap.
Gadis itu kini bangkit, ia hendak melangkah namun Yasya dengan sengaja mencekal lengannya. Pria itu menarik tangan Reyna hingga tubuhnya ambruk tepat dipangkuan Yasya.
"Yasya! kamu ngapain sih, ini udah siang, aku mau berangkat kerja" ujar Reyna seraya memberontak, namun pria itu tak menggubris malah semakin mempererat pelukannya pada Reyna. Yasya menyembunyikan wajahnya dipunggung gadis itu, rasanya sangat nyaman ketika mencium aroma parfum Reyna yang memasuki indera penciumannya.
Reyna segera memberontak, ia akhirnya bisa melepaskan diri dari pelukan pria itu. Yasya hanya terkekeh seraya ikut bangkit membuat Reyna memijit pelipisnya.
"Mendingan kamu mandi deh, aku mau masak nasi goreng dulu" ujar Reyna yang kembali melangkahkan kakinya menuju ruang dapur. Langkahnya dibarengi dengan jantungnya yang berdegup kencang tatkala mengingat apa yang dilakukan Yasya padanya. Begitu manis dan sangat nyaman baginya, senyumnya terpancar dan wajahnya yang semakin merona membuat Reyna tak dapat berkata-kata.
Gadis itu kembali pada aktivitasnya untuk memasak. Sarapan nasi goreng tiba-tiba mengingatkannya pada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Ingatannya kembali berkelabu ketika ia bersama Reyhan memasak nasi goreng buatan mereka. Rasanya itu baru kemarin, mengingat hal itu membuat fikirannya tak bisa berkonsentrasi. Gadis itu menggeleng, ia melanjutkan aktivitasnya untuk memasak lagi, tak dihiraukannya fikirannya yang mulai melayang entah kemana.
Setelah selesai dengan acara memasak, Reyna kemudian membawa dua piring nasi goreng yang telah ia persiapkan, gadis itu membalikkan tubuhnya, seketika tubuh gadis itu terperanjat kala Yasya sudah berada dihadapannya.
"Yasya! kamu ngagetin aja deh,"
"Kamu kenapa Rey, kok murung gitu? ada masalah?" tanya pria itu membuat Reyna menggeleng dengan senyumnya yang terlihat dibuat-buat membuat Yasya segera meraih dua piring gadis itu dan meletakkannya di meja makan.
Yasya kini kembali mendekati gadis itu, ia meraih kedua tangan Reyna dan mengajaknya untuk duduk di kursi makan bersama. Reyna masih tersenyum, ia tak ingin berbagi apa yang ia rasakan. Ketika berada didekat pria yang paling ia cintai, ia hanya ingin merasakan kebahagiaan.
"Cerita dong sayang" seru Yasya seraya mengelus pundak gadis itu.
"Kita makan dulu aja yuk, udah jam segini, takut telat nanti."
"Reyna,"
"Yasya, ini hari pertama aku jadi dokter, dan kamu dari kemaren juga belum pulang kan. Udahlah, aku nggak apa-apa kok, kita makan dulu aja yuk" kata Reyna membuat Yasya akhirnya menyerah dan ia mengangguk tanda setuju pada Reyna yang kini mulai bernafas lega.
Yasya kini memeluk tubuh gadis itu, ia mengelus punggung Reyna. Meskipun ia tak pernah tau apa yang Reyna rasakan, namun Yasya juga laki-laki yang peka.
Reyna membalas pelukan pria dihadapannya, hanya dengan pelukan itu membuat fikiran khawatirnya bisa berkurang.