The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Jebakan Michael



Pagi menjelang, dengan Reyna yang kini tengah memakai gaunnya. Gadis itu tampak cantik dan anggun ketika dirinya menatap cermin dihadapannya. Ia kini telah selesai merias diri seraya puas dengan riasannya yang sederhana.


Jam menunjukkan pukul 07.00, ia masih menunggu Yasya yang hendak menjemputnya. Ini harinya, harusnya ia bahagia meskipun teman-temannya tiada yang datang untuknya. Reyna menghela nafas, ia berusaha sekuat tenaga untuk mempersiapkan ini.


Gadis itu masih duduk ditepi ranjang dengan pandangannya yang mengarah ke lantai. Tiba-tiba saja suara bel berbunyi membuat gadis itu terperanjat dan segera keluar untuk memastikan bahwa Yasya benar telah berada disana. Gadis itu dengan semangat membuka pintu, namun apa yang ia lihat ternyata bukanlah sosok yang ia dambakan.


Namun malah Michael yang kini menatapnya dengan seringai yang tak dapat diartikan. Michael mengenakan jas bak hendak melangsungkan sebuah acara. Reyna memijit pelipisnya, ia mulai ragu dengan apa yang ia lihat di hadapannya.


"Yasya, Yasya dimana?" pertanyaan itu membuat Michael tersenyum sinis seraya menarik lengan gadis itu kasar untuk segera keluar.


"Kau begitu cantik Reyna, mana mungkin aku akan merelakan mu pergi bersama pria lain" ujar pria itu membuat Reyna membelalak tajam menatap Michael yang kini semakin mencengkram kuat lengannya.


"Mike, apa yang kau lakukan pada Yasya? Yasya dimana? kenapa kau malahan yang berada disini?" pertanyaan itu membuat Michael semakin menarik Reyna dalam dekapannya membuat ia bisa berbisik kepada gadis itu yang kini menelan salivanya.


"Tentu saja melenyapkannya" ujar pria itu membuat tangis Reyna pecah. Gadis itu memberontak namun ia tak bisa melakukan sesuatu karena tenaganya kalah dengan tenaga Michael yang begitu kuat mencengkramnya.


"Aku, aku tidak mau, aku hanya mencintai Yasya. Jika kau melenyapkan dia, kau juga harus melenyapkannya aku juga" perkataan Reyna yang disusul tangisan itu membuat langkah Michael terhenti, ia menatap nanar wajah cantik yang berada dihadapannya dengan senyum kemenangan.


"Tidak Reyna, kamu selamanya milikku, jangan pernah akan lari dariku" ujarnya yang menarik Reyna dengan kasar menuju parkiran mobil.


Reyna semakin terisak, apalagi ia melihat mobil yang berada dihadapannya


, mobil yang dibawa oleh Michael tidak salah lagi adalah milik Yasya. Reyna menangis sesenggukan, ia tak tau apa yang harus dilakukan.


"Mike, kau apakan Yasya?! dimana dia sekarang?" pertanyaan itu tak mendapat respon dari pria dihadapannya. Ia hanya tersenyum puas dengan keadaannya sekarang, apalagi Reyna yang bersedih semakin tak bisa berfikir dengan jernih.


"Aku telah menyingkirkan ruang tengah diantara kita sayang, sudahlah, seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah membawa mu pergi dari pria itu" Reyna terdiam sejenak ada kebencian dalam dirinya tatkala Michael bermain-main dengannya.


Matanya mendadak memerah dan menatap tajam, namun seiring berjalannya mobil tersebut Reyna hanya menunduk dengan kebenciannya yang begitu terpendam.


Setelah lima belas menit berlalu kini mereka berdua telah sampai di suatu tempat, sebuah mansion besar yang begitu asing bagi Reyna.


"Kau apakan Yasya?" pertanyaan itu bahkan tak digubris oleh Michael, pria itu masuk kedalam mansion tersebut yang penuh dengan hiasan pesta dan balon juga bunga mawar yang menghiasi jalan menuju mansion tersebut. Begitu indah dan megah, namun kini diri Reyna bukanlah Reyna lagi, tatapan itu menyiratkan sebuah arti. Mata menyipit dengan penuh tanda tanya didalamnya.


"Jika kau ingin tau, maka aku akan menunjukkan bagaimana aku melenyapkan Yasya" ujar pria itu yang kini berdiri membelakangi tubuh Reyna yang nampak begitu menahan amarah.


'Sial! aku menunggu hari ini untuk menggoda Yasya, aku juga mencintai dia. Jika apa yang dikatakan Michael memang benar, aku takkan memaafkannya' batin gadis itu yang kini berjalan cepat mengikuti langkah Michael yang jauh dari tempatnya berdiri.


"Apa yang kau mau sialan! dimana Yasya?!" pertanyaan itu begitu menggema ketika Reyna memasuki ruangan besar didalam mansion bak istana tersebut. Ia menatap tajam Michael yang kini tengah tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau jadi kasar Reyna, bukannya kau Reyna yang lemah? Reyna yang ku kenal tak seberani ini" ujar Michael menantang membuat Reyna berjalan cepat mendekat kearah pria tersebut. Reyna melayangkan sebuah tamparannya namu tanpa disangka dengan sigap Michael malah menampik lengan Reyna membuat gadis itu memberontak.


"Tenang sayang, tenang. Jelaskan padaku, kenapa kau begitu berani ha? apa kau terganggu oleh makhluk halus setelah kubawa kemari" ujar Michael yang membuat tatapan Reyna kini penuh dengan amarah.


Gadis itu segera menendang kaki Michael membuat pria itu terjatuh seketika. Reyna sudah tidak sabaran lagi, ia menarik dagu pria itu dengan kasar seraya menendang kakinya membuat Michael meringis kesakitan.


"Katakan dimana Yasya?!" pertanyaan itu membuat Michael tertawa, ia tak tahan lagi melihat tingkah Reyna yang begitu garang dihadapannya. Reyna melayangkan tinjunya bertubi-tubi kearah wajah pria itu membuat Michael ambruk dan terbatuk-batuk.


"Kau kira aku adalah Reyna yang dulu. Kau tau aku akan membunuh Reyna yang lemah itu Michael, yang kau cintai sekarang bukanlah Reyna yang lemah tapi Reyna yang berdiri menginjak mu. Jadi jangan menunggu aku membunuhmu dan kau tidak mengatakan apapun tentang Yasya" perkataan itu membuat Michael bangkit, wajahnya penuh lebam dengan tubuhnya yang merasa kesakitan.


"Aku membiusnya dan membuangnya ke jurang. Apa kau puas?" perkataan itu membuat Reyna tertawa terbahak-bahak namun diujung matanya yang menyipit ia ternyata menjatuhkan sebuah air mata dan menetes deras dipipinya.


"Apa kau tidak ingat tempat ini Reyna?" pertanyaan itu membuat Reyna tak bisa berfikir dengan jernih, gadis itu terjatuh begitu saja dengan tangisannya yang menggebu.


"Apa kau gila?! aku bahkan tak pernah sekalipun kemari. Meskipun begitu, aku tak perduli, aku tak perduli dimana tempat ini. Tapi yang jelas, aku akan membunuhmu Michael" teriak gadis itu dengan lantang seraya berlari kearah Michael yang kini tersenyum menang menatap Reyna.


"Kamu nggak inget? atau kamu benar-benar tidak pernah ke sini sebelumnya Falery?" suara lantang itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya dan menghentikan langkahnya seketika kala ia hampir mencekik Michael yang hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya.


Terlihat Yasya yang kini menatap tajam kearahnya seraya mendekat dengan kemeja putih polos.


"Yasya!"