The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kesadaran



"Aku bukan Falery, aku Reyna!" teriak gadis itu kala Zayn semakin mendekat kearahnya. Matanya menatap tajam Zayn yang kini hendak berjalan untuk menyentuhnya.


"Sya, kamu percaya aku kan Sya, aku Reyna Sya" kata Reyna yang kini menatap Yasya dengan tatapan datarnya. Reyna yang awalnya menatap Yasya dengan memohon kini menatapnya dengan tajam, gadis itu mencoba untuk memberontak, namun cengkraman Yasya terlalu kuat untuk ia tahan.


"Ya, aku memang Falery, lalu kenapa? apa kak Zayn dan mommy tidak ingin aku hidup lagi. Aku memang bukan Reyna, tapi aku bagian dari kalian" ujar gadis itu yang kini menatap Zayn yang telah berdiri hadapannya.


"Kamu yang harusnya hilang Falery, tubuh Reyna hanya milik dia saja" kata Zayn dengan tatapannya yang datar. Falery menatap Yasya yang kini masih mencengkramnya dengan kuat. Namun Zayn diam-diam mengambil sebuah suntikan bius di saku celananya dan menyuntikkannya ke lengan gadis itu.


"Ah" teriak gadis itu seraya menggeleng karena matanya yang semakin memburam. Ia merasakan perih serta pening secara bersamaan, serta diikuti kesadaran gadis itu yang semula kembali.


"Ka, kakak Zayn" kata gadis itu sebelum ia memejamkan matanya.


Setelah dua jam berlalu, Yasya selalu menggenggam jemari Reyna dengan erat, ia begitu mencintai gadisnya yang kini masih terlelap. Mansion miliknya memang cukup besar, bukan karena alasan ia menjadikan tempat itu awal mula dari rencana pertunangannya. Sebelumnya ia hanya ingin merayakannya dirumahnya saja, namun karena adanya insiden Reyna, ia menggantinya dengan tempat itu. Itu semua juga berkat Alfian yang menyarankannya untuk menjebak Falery. Karena bagaimanapun juga Yasya pernah mengajak Reyna kemari, jika ia paham berarti Reyna juga takkan memberontak. Namun dalam perkiraan, yang muncul adalah Falery yang sengaja mereka buat gara-gara untuk memancingnya keluar dan tentu saja menjebaknya.


"Kamu tenang aja, bentar lagi dia pasti bangun kok" ujar Agatha yang kini tiba-tiba masuk dan bersedekap dada berdiri di samping Yasya.


Dalam tidur Reyna yang lelap, ia melihat gelap disekelilingnya, pancaran sinar membuat gadis itu melangkah menuju arah dengan penglihatannya yang semula meremang kini terbuka lebar dan terlihat jelas sebuah tempat yang membuatnya takjub akan keindahan taman yang dipenuhi bunga-bunga.


Belum sempat gadis itu melangkah, namun suara asing yang berkali-kali menghantuinya dalam mimpi itu terdengar begitu nyaring dikepalanya.


"Reyna, kamu harus mati" begitu suara itu mengganggunya. Gadis itu ambruk seketika dengan telinganya yang ia tutup menggunakan kedua tangannya. Suara itu terngiang dikepalanya, tak sedikitpun hilang malah semakin kencang dan membuat dirinya ketakutan.


"AAaaaaaarrrrghh" teriaknya kencang seraya terbangun dari tidurnya dan kini bangkit seketika.


"Sayang" suara lembut Yasya membuat gadis yang tengah terengah-engah itu kini tersadar dan berhambur memeluk pria disampingnya. Reyna masih syok, apa yang berada dalam mimpinya bak kenyataan yang hampir saja membuat gadis itu tak bisa berfikir dengan tenang.


"Sya, aku, aku mimpi Sya" ujar gadis itu yang kini mendongak menatap Yasya dengan tangisannya yang begitu menakutkan.


"Reyna, saya akan bertanya, dan kamu harus jawab jujur. Ingat jangan pernah menutup-nutupi keadaan kamu yang sebenarnya" kata Agatha yang kini duduk dihadapannya. Sedang Reyna kini tengah ditemani Yasya yang selalu setia menggenggam jemarinya.


Yasya mengangguk, ia mengisyaratkan pada dirinya untuk tetap tenang dan Reyna mulai mengangguk. Sebelumnya ia tak bisa menerima jika ia harus ditangani oleh psikiater, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia punya gangguan mental dari trauma masa lalunya.


"Apa kamu sering sakit kepala? mimpi yang aneh? atau suara-suara aneh dikepala kamu?" pertanyaan itu membuat Reyna mengangguk. Ia akhirnya menceritakan apa yang ia rasakan selama ini, mulai dari suara dalam mimpinya dan teriakan itu.


Reyna juga mengeluh, kadang meskipun ia bangun dari tidur ia tidak merasakan nyaman tapi malah sebaliknya. Ia seperti beraktivitas seperti biasa. Reyna yang biasanya tak menyangka untuk tidur dan terbangun dengan jangka waktu yang lama dan ia hanya menganggap itu hal yang biasa. Ia tak pernah berfikir ada keanehan dalam dirinya meski kadang ia bingung ketika ia sadar.


"Ada satu lagi, setiap kali saya ngerasain sakit, entah kenapa saya terbangun. Pernah suatu ketika saya tiba-tiba bangun karena tangan saya merasa sakit, ternyata memang benar tangan saya berdarah dan ada bekas sayatan disana. Pernah juga" Reyna menghentikan suaranya yang tiba-tiba berhenti dan menatap Yasya yang kini mengangguk padanya.


"Teruskan Reyna" ujar Agatha membuat Reyna menelan salivanya seraya menghela nafas untuk mempersiapkan kalimatnya yang hampir tercekat.


"Waktu itu pipi saya panas, sakit, dan tiba-tiba saya lihat Yasya yang menatap tajam saya. Saya baru sadar kalau saya ditampar oleh dia" kata Reyna dengan suaranya yang begitu pelan takut jika menyinggung pria disampingnya.


Yasya hanya bisa menghela nafasnya seraya menyesal dengan apa yang ia perbuat. Masalahnya tidak ada jalan lain lagi selain dia harus menghentikan Falery yang mencoba memberontak padanya.


"Reyna, kamu tau sebenarnya kamu bisa mengendalikan sosok Falery dalam karakter kedua kamu. Kamu tidak boleh kalah dari dia, banyak orang yang tidak bisa mengendalikan kepribadian keduanya, tapi ini adalah kejadian langka" perkataan Agatha membuat Reyna tersenyum. Ia mungkin tidak sadar tapi sebelum ia mengalaminya, ia sendiri yang memanggil karakter Reyna dalam dirinya.


"Hanya kamu yang bisa mengalahkan Falery, jika ada hal yang mendesak, kamu hendak menyakiti seseorang ataupun menyakiti dirimu sendiri, kamu harus membawa benda tajam kecil, untuk menyadarkan diri kamu. Hilangkan semua dendam dan lupakan kenyataan pahit yang pernah kamu alami Reyna, maka kamu bisa mengendalikan Falery. Setiap hari kamu juga harus menemani dia berbicara suatu hal yang baik-baik, kita hanya bisa melakukan terapi psikologi terhadap dia dengan hati-hati dengan begitu perlahan itu akan mengurangi emosi Falery."


"Tapi, Reyna bisa sembuh kan?" pertanyaan dari Yasya membuat Agatha yang semula memakai kacamatanya ia lepaskan kembali.


"Multiple personality disorder memang tidak dapat disembuhkan, kemungkinannya begitu kecil untuk sembuh. Tapi saya sebagai seorang psikiater berani mengatakan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selama Reyna mau, selama dia bisa mengendalikan dirinya dan selalu berfikiran positif, siapa tau Falery akan melepaskannya" perkataan Agatha membuat fikiran Reyna yang semula negatif dan hendak menyerah, kini ada secercah harapan untuknya.


Ia hanya berharap apa yang dikatakan Agatha memang benar. Ia ingin kehidupannya normal tanpa ada karakter lain yang membuat dirinya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan olehnya pada orang lain.