The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kesadaran yang membingungkan



Pagi menyeruak, membuat Reyna yang disinari mentari dari celah jendelanya tersadar. Ia melihat sekeliling, begitu pusing dan pening menerpa kepalanya. Ia melihat tubuhnya yang kini berselimut dengan keadaannya yang telanjang bulat didalamnya.


Reyna buru-buru bangkit, ia menyelimuti dirinya lagi. Tak sadar dengan apa yang ia lakukan semalam, namun anehnya Yasya tidak ada disampingnya. Gadis itu memijit pelipisnya, seingatnya ia tiba-tiba tertidur sebelum Yasya keluar dari kamar mandi. Namun setelah itu Reyna tak sadar dengan apa yang terjadi. Gadis itu mengacak rambutnya frustasi, ia beralih menatap ponselnya dan segera menghubungi Yasya.


Tanpa ia sadari ketakutan menyelimuti dirinya, ia menelfon Yasya dengan segera, tanpa perduli hari maupun jam. Ia harus meminta kejelasan. Setelah beberapa detik Yasya akhirnya mengangkat panggilan itu, dan seketika Reyna pun menangis sesenggukan dalam panggilan.


"Halo Rey" ujar pria disebrang sana membuat Reyna terperanjat karena ia baru sadar jika pria tersebut juga baru bangun dalam tidurnya.


"Kamu nangis?" pertanyaan itu membuat Reyna segera menyeka air matanya. Ia mulai berfikir dengan jernih seraya meremas selimut yang kini ia genggam.


"Sya, aku, aku mau tanya sama kamu" kata gadis itu memberanikan diri dengan nada suaranya yang sedikit gemetar. Reyna menghela nafasnya seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Mau tanya apa Rey? kamu kenapa?" sedangkan disebrang sana Yasya tengah terduduk lemas seraya berfikir keras tentang keadaan Reyna sekarang. Ia takut terjadi sesuatu padanya mengingat dalam dirinya terjadi hal aneh.


"Sya, aku, aku sekarang tidur telanjang Sya, aku tanya sama kamu. Apa kamu tau kenapa aku kaya gini, dan sebelum kamu pergi apa kamu ingat aku ngelakuin apa aja? jujur aku takut Sya" kata gadis itu seraya terisak dengan suara lemahnya membuat Yasya mengingat kejadian semalam yang membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih.


"Rey, kamu tenang sayang, aku udah janji kan sama kamu nggak akan nyentuh kamu sampai kita bener-bener halal. Aku jujur sama kamu sayang" perkataan Yasya membuat Reyna sedikit lega, namun pandangannya beralih kearah lingerie yang robek berwarna hitam dibawah kasurnya.


"Tapi sya" kata Reyna dengan hatinya yang tengah berkecamuk.


"Kalo kamu nggak percaya, kamu lihat bagian bawah kasur kamu. Kalo memang aku nyentuh kamu berarti ada noda darah disana" perkataan itu membuat Reyna tersentak, ia buru-buru melihat bagian bawah kasurnya dan ternyata memang tak ada cairan apapun disana.


"Aku percaya sama kamu, tapi aku takut Sya" ujar gadis itu seraya meremas selimut itu lagi dengan isakannya yang makin terdengar ditelinga Yasya.


"Rey, kamu tenang sayang, aku bakal kesana sekarang okay" ujar pria itu membuat Reyna mengiyakan kata-kata pria itu seraya menghela nafasnya dengan lega.


Setelah setengah jam Reyna menunggu, ia akhirnya mendengar sebuah suara bel dari apartemennya, ia yang sudah berpakaian longgar ala rumahan itu buru-buru keluar dan membukakan pintu tersebut.


Reyna segera berhambur memeluk pria dihadapannya, rasanya begitu takut ketika jauh dari Yasya. Namun ketika dekat, rasanya Reyna merasa tenang. Yasya mengelus rambut gadis itu, ia mencium puncak kepala Reyna. Semula Reyna yang hanya ketakutan kini menunjukkan suara isakannya yang membuat hati Yasya begitu teriris.


"Minum dulu sayang" kata Yasya yang kini mendekati Reyna yang duduk dengan tatapan kosongnya yang berada di kursi makan. Reyna hanya bisa terdiam dengan tatapannya yang kosong, ia merasa takut setiap kali menghadapi dirinya sendiri.


"Sya, aku bener-bener nggak ngerti."


"Jangan difikirin, besok hari H kan, kamu harus lebih tenang jangan mikir yang aneh-aneh, mungkin semalam kamu cuma mimpi aja" Reyna menatap manik mata itu, Yasya yang begitu tenang meski dirinya merasa ketakutan.


'Apa kamu udah nggak perduli sama aku lagi Sya? aku takut Sya, aku takut Falery berbuat sesuatu sama kamu' batinnya seraya membuang muka dari tatapan Yasya padanya.


Reyna kini beralih pergi, ia meninggalkan Yasya yang tengah menghela nafasnya seraya mengacak rambutnya dengan gusar. Sedangkan gadis itu berbaring di ranjangnya, fikirannya kalut dengan apa yang terjadi dan sesuatu yang tidak ia ketahui.


Reyna hanya bisa terisak seraya memeluk tubuhnya sendiri. Teriakan itu memekakkan telinganya yang sama sekali tak bersuara dalam ruangan namun begitu nyata dalam otaknya.


"Kuat adalah diriku, matilah Reyna, mati."


Begitu kiranya suara itu terus terngiang dikepala Reyna yang penuh dengan hal yang membuatnya semakin tak bisa berfikir dengan jernih.


"Reyna kamu mau kemana?" pertanyaan itu muncul kala Yasya kini menyadari ada yang aneh dengan gadisnya. Tiba-tiba saja Reyna keluar dari kamarnya dengan pakaian yang begitu minim dan membawa gitar. Gadis itu hanya menyunggingkan senyumnya kepada Yasya. Ada yang berbeda lagi dari make-upnya, ia terlihat begitu menonjol dalam hal ini.


"Mau kemana lagi? aku mau cari hiburan" ujarnya seraya melangkahkan kakinya lagi, namun dengan sigap Yasya menahan lengan Reyna membuat gadis itu menyeringai dengan tatapan kesalnya.


"Besok kita tunangan Reyna, kamu mau kemana pake baju kaya gini. Nggak sopan!" ujar pria itu dengan nada menekan membuat Reyna membelalakkan matanya seraya menunjuk-nunjuk diri Yasya yang kini tengah dilanda amarah.


"Gue itu model Sya, gue penyanyi, gue seksi dan gue juga cantik. Lo udah nolak gue tadi malam, dan wajar kalo gue cari cowok yang lain" ujar gadis itu membuat Yasya geram dan menarik lengan Reyna dengan


kasar, namun gadis itu tak tinggal diam, ia kembali menarik lengan Yasya dan memelintirnya membuat pria itu meringis kesakitan.


",Aw, Reyna!" teriak pria itu kala Reyna buru-buru pergi tanpa mau menatap Yasya yang kini mulai mengejarnya.


'Kamu udah buat kesalahan Sya main-main sama Falery, kamu yang harusnya ngejar-ngejar aku dan minta maaf buat mohon' batin Reyna yang kini tersenyum dengan sinis.


Reyna tak memperdulikan apa yang terjadi, ia tetap saja melangkah meski ia tau Yasya berada dibelakangnya.