
Matahari bersinar di musim semi. Begitupun Falery yang kini memulai harinya kembali. Setelah mendengar kabar akan kesembuhan Zayn dirinya kembali tersenyum meski hatinya tak sempat mengatakan terimakasih dan minta maaf pada kakak angkatnya tersebut.
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kota Florida. Meskipun masih pagi tapi nampak jalanan yang begitu lengang oleh aktivitas lautan manusia yang memadati pinggiran kota.
Kini Falery dan Lilia telah sampai di airport. Langkah mereka terhenti tatkala senyuman mengembang dari sahabatnya membuat Lilia memeluk lagi tubuh Falery yang sebelumnya belum sembuh total.
"Kau harus jaga dirimu baik-baik ya, kalau ada apa-apa hubungi aku langsung" ujar Falery pada Lilia yang kini melepas kacamatanya.
"Tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja. Kau yang harusnya menghubungi ku" ujar Lilia dengan wajahnya yang sedikit ditekuk.
Kedua sahabat itu kembali tersenyum sembari saling memeluk. Ada rasa sedih menjalar ditubuh Falery, terlebih lagi Lilia adalah sahabat dan tempat yang paling berharga untuk mencurahkan isi hatinya. Selain itu ada juga, Sarah yang kini mungkin telah melupakannya.
Lilia menarik koper berwarna pink dibelakangnya ia mengusap lembut kedua pundak sahabatnya itu dengan senyuman dan juga tangisan yang menyertainya.
"Kau jangan lupakan aku ya Lia" ujar Falery sembari menghapus air mata gadis itu.
"Seharusnya aku yang bilang begitu" ujar gadis itu sembari meneteskan air matanya.
Sebuah suara panggilan dari penerbangan terdengar begitu nyaring seantero airport membuat kedua sahabat itu tertegun sembari menyadarkan fikiran mereka masing-masing.
Lilia kembali menarik kopernya, langkahnya juga diikuti Falery yang kini masih bertahan dengan senyumannya pada sahabat yang kini tengah memakai kacamata hitamnya kembali.
Falery kembali dalam fikirannya yang kini tengah duduk bersebelahan dengan sahabatnya diruang tunggu. Pandangannya sayu dengan matanya yang berkaca-kaca dibalik kacamata yang ia kenakan. Tak ada yang tau tentang fikiran gadis itu, termasuk Lilia yang kini berada disampingnya.
Kisah cintanya, keluarganya, akankah selalu berakhir seperti ini sepanjang waktu. Dulu ia sempat dikecewakan oleh Yasya. Kini ia harus menelan kekecewaan itu lagi dengan keadaan yang berbeda.
Yasya telah memilih Sarah dari awal, meskipun sebelumnya ia bahkan berulangkali meyakinkan gadis itu perihal masalalu nya. Namun ego dan juga ingatannya masih belum terbuka. Seandainya ia dulu mencari bukti akan masalalu nya, seandainya Falery percaya dengan apa yang dikatakan Yasya. Mungkin semua ini takkan pernah terjadi.
Terlebih saat itu Falery adalah sosok gadis yang egois dan juga angkuh. Sifatnya tegas dan juga berani adalah kebalikan dari sifatnya saat ini.
"Fay, kau kenapa? ada masalah?" tanya Lilia yang kini tengah memperhatikan tatapan gadis itu dengan pandangannya yang menerawang entah kemana.
"Tidak, aku hanya berfikir jika kau jauh dariku. Siapa yang akan aku peluk nantinya" ujar Falery yang kini mulai tersenyum pada sahabatnya itu. Lilia menggeleng, tangannya menggenggam jemari gadis itu seolah meyakinkan perasaannya.
"Kita akan selalu dekat Fay, aku tau apapun tentang mu dan begitupun sebaliknya. Kau tak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi" kata Lilia sembari tersenyum lembut membuat Falery merasa lega dibuatnya. Dia kira setelah kehilangan Sarah maka ia juga akan kehilangan orang yang perduli padanya.
Namun ternyata fikirannya salah. Disinilah ia menemukan Lilia, sosok sahabat yang selalu mendukungnya.
Ceklek suara terbukanya pintu kantor rumah sakit menggema. Tak seperti biasanya Michael pagi ini belum menemukan sosok gadis itu.
Ruangan tampak kosong dan sepi tanpa Falery. Aneh, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.30 namun batang hidungnya belum juga terlihat sampai saat ini.
"Kemana gadis itu? tidak seperti biasanya dia terlambat seperti ini. Apa terjadi sesuatu" ujarnya sembari melangkah mendekati meja kerjanya.
Pria itu memulai pekerjaannya kembali tanpa Falery di sampingnya. Mungkin agak aneh mengingat gadis itu selalu mempersiapkan berkas dan juga keperluan yang seharusnya Michael kerjakan.
Tangannya meraih ponsel yang berada disakunya. Ia mengetik nama dikontak tersebut untuk memastikan keadaan gadis itu.
Namun beberapa kali mencoba panggilannya tak kunjung diangkat. Malah ponselnya tidak bisa dihubungi alias mati. Pria itu kembali mendengus, fikirannya menerawang kala kemarin sore dirinya mengatakan perihal perasaannya pada gadis itu.
"Aku menyukaimu Falery"
Suara itu masih terngiang dalam benaknya. Apa ini terlalu cepat untuknya hingga ia belum siap menemui pria itu lagi.
ceklek
Suara terbukanya pintu membuat pria itu tersenyum. Kekhawatirannya mendadak hilang seketika tatkala mendengar pintunya terbuka.
Namun sedetik kemudian wajahnya terlihat menekuk lagi kala perasaannya kecewa dengan keberadaan Romi yang kini tersenyum kearahnya.
"Ck, ternyata kau. Mau apa kau kemari! tidak sopan, masuk tanpa mengetuk pintu" ujar pria itu dengan pandangannya yang sebal membuat Romi terkekeh geli dengan sikap sahabatnya itu.
Tak biasanya pria itu menekuk wajahnya sedemikian rupa. Biasanya dia hanya bersikap tak acuh sembari melanjutkan pekerjaannya lagi. Namun kini berbeda dengan sebelumnya Michael terlihat semakin kesal.
"Kenapa kau terlihat murung seperti itu? apa kau ada masalah?" tanya Romi yang hanya dibalas lirikan dari pria itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong dimana gadis mu? apakah dia resign?" pertanyaan itu membuat mata Michael membelalak dengan sempurna. Ia sempat berfikir, apa yang dikatakan Romi benar adanya.
Tapi segera mungkin ia menghapus fikiran itu lagi, mengingat tak mungkin hanya karena peristiwa kemarin gadis itu jadi mengakhiri pekerjaannya.
"Kau itu tak usah asal bicara, kerjakan pekerjaan mu kembali" ujar Michael dengan suara datarnya.