The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Terlanjur sepi



Falery bangkit dari duduknya, membuat Yasya menatapnya dan mencegahnya sebelum ia melangkah.


"Fay, kau mau kemana?" tanyanya pada gadis yang kini tersenyum hendak melangkah.


"Aku bosan, ingin jalan-jalan" ujar Falery membuat Yasya ikut bangkit.


"Aku ikut" ucapan dari Yasya membuat Falery menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu menatap Sarah yang kini tak memandang mereka berdua dan tengah asyik bermain ice skating sendirian.


"Jangan, Kau temani Sarah, aku hanya sebentar, lagipula bagaimana jika dia mencari mu nanti?" kata Falery dengan gusar.


Yasya tersenyum, dirinya memanggil nama Sarah yang kali ini masih fokus pada permainannya.


"SARAH!"


Falery terperanjat, dirinya membulatkan mata sambil menatap Sarah dan Yasya bergantian. Rasanya ia sendiri tak percaya dengan sikap Yasya yang kali ini berambisi untuk mengikutinya. Sarah kini mendekati mereka dan tersenyum kearah tunangan dan sahabatnya secara bergantian.


"Ada apa Yasya?" tanyanya yang kini tepat berada dihadapan mereka.


"Aku hendak mengatakan sesuatu pada Falery, dia bilang ingin jalan-jalan... bolehkah aku menemaninya."


Falery menepuk jidatnya sambil menatap Yasya pasrah. Apa yang akan difikirkan Sarah nanti jika sahabat dan juga tunangannya berjalan bersama? apakah akan berakhir buruk?.


"Tentu saja boleh" ucap Sarah sambil tersenyum kearah Falery dan Yasya bergantian. Kini Falery dapat menghembuskan nafas lega.


"Terimakasih Sarah, aku janji setelah ini, aku akan menemanimu main ice skating" ucap Yasya membuat Sarah tersenyum hangat sambil memegangi wajah Yasya.


Falery hanya bisa tersenyum melihat pemandangan dihadapannya, senyuman palsu yang akan menjadi tangisan setelahnya.


"Baiklah... aku akan kembali bermain, kau temani Falery dulu ya, dia memang tidak suka keramaian" ujar Sarah sambil melanjutkan permainannya seraya tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka berdua.


Falery dan Yasya kini berjalan cukup jauh dari lokasi ice skating tempat dimana Sarah bermain. Ditempat yang tak terlalu ramai kini akhirnya Falery bisa menghembuskan nafasnya kala meninggalkan udara yang penuh sesak oleh ramainya pengunjung ditengah liburan musim dingin.


"Bagaimana hubungan mu dengan Alfian?" tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul, membuat gadis itu mengangguk.


"Kami baik-baik saja" jawabnya singkat.


"Syukurlah" kini Yasya bisa bernafas lebih lega, meskipun hatinya tersaa mengganjal oleh fikirannya yang melayang tak tentu arah.


"Jadi apa yang mau kau katakan Iryasya?" pertanyaan dari Falery adalah ungkapan terdalam di hatinya, setelah berulang kali hatinya ingin berteriak sekencang mungkin untuk mewakili apa yang ia rasa.


Perasaan yang campur aduk menjadi satu, namun akhirnya dirinya bisa menyadari posisi saat mengingat kenangannya yang hanya menjadi masa lalu.


Falery semakin melangkah mendahului Yasya yang kini beberapa langkah dibelakangnya. Pria itu tiba-tiba menarik lengan Falery dan membuat sang pemiliknya tersentak serta membalikkan tubuhnya.


Gadis itu menatap sendu pada Yasya yang kali ini menatapnya dengan pandangan yang sama.


"Maafkan aku Fay" kata Yasya sambil menunduk.


Falery mengangkat sebelah alisnya, matanya tertuju pada mata pria dihadapannya yang begitu merasakan kesedihan dan juga penyesalan yang mendalam.


"Maaf untuk apa?" tanya Falery lagi.


"Dulu aku pernah berkata kasar padamu, saat kau menyelamatkan ku dari godaan Elizabeth, kau yang membawaku keluar dan pulang. Kau bahkan merawat ku sesampainya di rumah. Tapi yang kulakukan benar-benar keterlaluan, aku menghinamu, sungguh... saat aku mengetahui kebenarannya aku merasa sangat malu."


Ucapan dari Yasya membuat Falery terus memandang matanya, namun sedetik kemudian pandangannya beralih dan melepaskan tangannya dari cengkraman Yasya.


"Tidak apa apa, aku mengerti situasinya.. aku sudah memaafkan mu Yasya" ujar gadis itu sambil menunduk, menatap salju dibawah kakinya.


"Benarkah?" tanyanya lagi meyakinkan.


Falery mengangguk yakin dengan langkahnya kembali bersama Yasya yang kini mulai mensejajari dirinya untuk berjalan.


"Ada lagi yang ingin aku katakan padamu."


Falery hanya terdiam dengan tatapan pada Yasya yang penuh dengan pertanyaan dibenaknya.


"Tentang kasus penculikan mu yang dilakukan oleh Alex... aku telah menyelidiki semuanya, dan bukan hanya dia dalang dibalik penculikan mu, ada dua orang lagi dibaliknya."


Yasya mengangguk, sepertinya gadis itu tau betapa bencinya Elizabeth padanya.


"Aku tau, Elizabeth dan Alex mereka sepasang kekasih yang hubungannya berakhir, akibat Alex tergila-gila padaku."


"Kau juga tau?" Yasya tertegun, ternyata selama ini Falery hanya diam dan membisu kala dua orang hendak menjatuhkannya.


"Bukan hanya sekedar tau, tapi aku juga mengetahui segalanya, saat aku berada di Georgia, seorang gadis ingin mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari balkon apartemen. Secara spontan aku sebagai manusia biasa menyayangkan kejadian itu dan mencoba menyelamatkan nyawanya, namun saat aku hendak menariknya, dia malah mendorongku untuk terjatuh dari sana. Tapi secara beruntung saat itu kaulah yang menyelamatkan nyawa ku."


Yasya menghentikan langkahnya, dirinya menatap Falery yang kini juga masih menggantung kata-katanya.


"Perempuan yang hendak bunuh diri itu, Elizabeth Thompson. Dia ingin bunuh diri karena baru putus dengan Alex, karena dia tau Alex memutuskannya akibat tergila-gila padaku, saat ia menyadari yang menyelamatkannya adalah aku makanya dia sampai mau mendorong tubuh ku... dan aku sangat berterimakasih padamu Yasya."


Falery menghentikan kata-katanya sejenak. Ia mengingat betapa Yasya sangat melindunginya meski dirinya tidak tau siapa sebenarnya Falery yang sesungguhnya.


"Kau adalah penyelamat ku, berulangkali aku dalam keadaan bahaya dan kau selalu menjadi yang pertama kali mengulurkan tangan untukku. Sejujurnya aku sangat tidak layak, mengingat perilaku ku padamu yang begitu kasar."


Yasya menutup bibir tipis Falery dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan untuk tetap diam.


"Sst... seharusnya aku yang berbalik berkata begitu, aku berulang kali menuduhmu, aku selalu mendesak mu sebagai Reyna jika aku tidak terlalu menjengkelkan mungkin kau juga tidak bersikap seperti itu padaku kan?...aku tidak tau lagi harus berkata apa, sepertinya kita memiliki kisah yang terlanjur banyak untuk diungkapkan satu persatu."


Falery terdiam, ada rasa kehilangan cukup besar dalam benaknya. Kini Yasya melangkahkan kakinya, memandangi Ice Factory yang begitu luas dengan salju yang memenuhi seluruh pepohonan dan juga jalanan.


"Falery... satu lagi, dibalik kasus penculikan mu, ada satu orang lagi yang terlibat" ucapan Yasya membuat Falery menaikkan sebelah alisnya. Dalam benaknya gadis itu bertanya-tanya, siapa lagi yang tega untuk menyakitinya. Sebelumnya dia tidak pernah membuat gara-gara pada siapapun.


"Grace Anderson" jelasnya pada Falery yang kini tak menyangka.


Gadis itu membelalakkan matanya, dengan perlahan berkaca-kaca oleh kenyataan yang diucapkan oleh pria dihadapannya.


"Kak, Grace?" membayangkannya saja dirinya tidak mampu, meskipun gadis itu tau betapa bencinya Grace padanya. Tapi dirinya sama sekali tidak menyangka jika kakak iparnya itu sengaja merencanakan sesuatu yang tidak masuk akal untuk keuntungannya.


"Aku tau keadaan mu Falery, Grace adalah kerabat mu, jika kau mengizinkan ku aku akan membawanya ke ranah hukum."


"Biarkan saja Yasya... lagipula, aku tidak punya urusan lagi dengan mereka."


Yasya tertegun, bahkan kata-katanya yang belum sempat ia selesaikan dipotong begitu saja oleh Falery.


Matanya seperti mengisyaratkan kepasrahan, kesedihan dan juga kehampaan tanpa ada orang yang tau.


Entah mengapa, hatinya seperti juga ikut bergetar dan sedih kala Falery berkata demikian.


"Fay, aku..." Yasya sempat ingin mengatakan sesuatu namun secepat kilat gadis itu menyela perkataannya.


"Sudahlah... kita tidak perlu membahas ini, akan lebih sulit jika keadaan bertambah menjadi rumit."


Falery berjalan cepat mendahului Yasya, dirinya ingin menghindari setiap pertanyaan dan juga teka-teki yang ingin Yasya gali dari dirinya.


Kali ini Falery begitu kecewa dengan Grace, sebegitu bencinya dirinya pada Falery yang tak pernah mengusik hidupnya.


"Falery...." suara itu membuat Falery terdiam dan beberapa saat kemudian sebuah tangan menarik lengannya dan tangan yang lainnya merengkuh tubuhnya.


Gadis itu tak dapat berkata apa-apa lagi selain pasrah, menikmati aroma parfum maskulin Yasya yang sedari dulu tak pernah berubah dari pria yang ia cinta.


Pelukan yang mengingatkannya akan Reyna yang dulu, dirinya yang selalu berada dalam pelukan dan juga perlindungan Yasya setiap kesedihan yang ia rasa. Dan sekarang kini semua kembali dengan status yang sama namun keadaan yang sungguh berbeda.


Mata gadis itu berkaca-kaca, ingin rasanya ia menumpahkan segala yang ia rasa didalam pelukan yang hangat dan nyaman ini.


Falery dengan kesadarannya mendorong tubuh Yasya, gadis itu berlari menjauh dari Yasya yang kali ini menatap punggungnya dengan sendu.


"Kenapa kau begitu menghindari ku Falery? sebenarnya apa yang kau sembunyikan?" gumam Yasya dengan pandangannya yang tak lepas dari gadis itu.