
Gadis dengan tinggi semampai itu kini masih mengunyah sarapan di pagi hari. Tatapannya masih kosong dengan pandangannya yang terkunci menatap piring kosong dihadapannya.
Gadis itu telah siap dengan pakaiannya yang lebih feminim dari biasanya. rambutnya tergerai indah dengan riasan wajah ringan serta sepatu yang biasa ia kenakan.
Entah mengapa fikirannya kembali melayang, padahal hari ini seharusnya ia tengah senang. Gadis itu mengedikkan bahu, ia menatap arloji yang berada di tangan kirinya. Dengan mata yang membelalak Reyna meraih susu kemasan dan juga sandwichnya untuk segera keluar dari apartemen. Tak lupa ia juga membawa tas kecil yang selalu menemaninya.
"Gawat, udah jam segini lagi, aku bisa telat nih" ujarnya seraya melangkah lagi tanpa memperdulikan apapun. Setelah selesai dengan suapan terakhir, ia dengan segera memasukkan susu kotak tersebut kedalam tas kecilnya. Gadis itu segera memesan ojek online untuk mengantarnya.
Tak butuh waktu lama lagi, jika ia memesan taksi pasti akan bertambah macet nanti, apalagi ibukota terasa sangat padat beberapa hari ini.
Setelah sampai bawah, ia mencari keberadaan ojek yang tadi ia pesan dan segera mengeceknya. Setelah menemukan ojek yang ia cari, gadis itu mendekati pria tersebut seraya tersenyum dengan ramah.
"Pak agak cepet ya" ujarnya seraya memakai helm yang diberikan oleh driver itu.
"Iya mbak" kata sang driver.
Udara panas memenuhi ibukota, dengan asap yang ditimbulkan dari beberapa laju kendaraan yang membuat Reyna beberapa kali mengibaskan udara yang hampir masuk kedalam kerongkongannya.
Gadis itu menghela nafasnya, daripada ia harus berseteru dengan macetnya jalanan, lebih baik sekali-kali naik motor.
Hanya berkisar dua puluh menit perjalanan, ia akhirnya sampai di tempat tujuan. Jika saja memesan taksi mungkin akan lebih lambat sepuluh atau bahkan dua puluh menitan dari biasanya.
Setelah turun dari motor gadis itu langsung memasuki airport yang luasnya tak terkira. Ia menatap langit yang membiru membuatnya tersenyum hangat seraya berjalan dengan santai.
"Masih jam segini, seharusnya take off lima menit lagi dong" ujarnya kembali melangkah.
Gadis itu memasuki airport dan menunggu seseorang diruang tunggu. Beberapa kali ia melihat arloji ditangannya, namun orang yang ingin ia temui tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Reyna semakin cemas dibuatnya, padahal ini sudah lebih dari perkiraan.
Reyna mengecek ponselnya, barangkali ada informasi disana. Gadis itu bangkit namun belum sempat ia membuka ponsel, mata gadis itu seperti ditutup oleh seseorang dari belakang. Reyna terkejut bukan main, ia melepaskan tangan tersebut dari matanya dan langsung disambut pelukan dari belakang tubuhnya.
"I'm coming dear " ujar pria itu membuat Reyna tersenyum hangat dengan matanya yang berbinar-binar. Reyna merasakan hangat pelukan Yasya yang begitu dalam, ia juga mendengar helaan nafas dari pria itu yang seperti berbisik di telinganya.
Tidak bisa diragukan lagi, disampingnya Reyna begitu nyaman. Gadis itu memejamkan matanya beberapa saat sebelum Yasya membalikkan tubuhnya untuk menatap lekat mata pria itu.
Dengan segera Reyna memeluk tubuh Yasya dengan erat dan dibalas oleh pria itu.
"Finally you come too, I love you " Reyna sangat merindukan Yasya, hanya melihat pria itu ada dihadapannya membuat dirinya merasa lega dan nyaman. Gadis itu memejamkan matanya tatkala Yasya mulai menarik wajahnya, ia membuka matanya lagi untuk menatap lekat wajah pria tampan itu yang selalu menjadi bayang indah dalam kehidupannya.
"Apaan sih" kata Reyna seraya menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas dan memerah bagai tomat. Tak bisa dipungkiri bahwa Reyna memang adalah pilihan hati Yasya, gadis yang baik dan cantik. Ia selalu mengagumi sosok Reyna yang selalu menonjol itu. Ditambah saat ini perasaan Yasya semakin menggebu untuk memiliki Reyna dalam kehidupannya.
Yasya ikut tersenyum kecil kala gadis itu menunduk dengan semburat merah dipipinya. Dan 'cup' satu kecupan mendarat dipipi Reyna yang kini semakin memerah tak tertahankan.
"Yasya, ini ditempat umum" ujar Reyna seraya menyembunyikan wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Biarin aja, biar semua orang tau kalau Reyna cuma punya Yasya" seru Yasya dengan senyum kemenangan. Reyna masih tak bisa berfikir, ia menggeleng seraya menyembunyikan wajahnya. Tanpa disadari tangan pria itu menggenggam jemarinya dan menarik gadis itu untuk pergi dari sana.
"Eh, Sya, mau kemana?,"
"Mau nikmatin hari sama calon istri ku dong" ujar Yasya yang kini semakin berjalan cepat menggandeng tangan gadis itu tanpa memperdulikan tatapan banyak pasang mata disana.
"Kamu kan baru dateng, terus barang kamu?" Reyna memperlambat langkahnya. Namun dengan sigap Yasya malah menghentikan langkahnya dan mendekatkan tubuhnya, ia menyentuh wajah Reyna yang begitu lembut. Wajah mereka saling berdekatan membuat deruan nafas gadis itu terdengar lembut ditelinga Yasya.
"Sayang, ada asisten aku, dia yang bakal bawa semua barang-barang aku. Sekarang aku lagi kangen banget sama calon istri aku, boleh dong kalo aku kangen-kangenan sama dia" kata Yasya seraya menyelipkan sebagian rambut Reyna kebelakang telinganya membuat gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk.
"Good" kata Yasya dan disusul kecupan di dahi gadis itu membuat wajah Reyna kian merona.
Yasya mengajak Reyna menaiki sebuah taksi, gadis itu hanya menurut saja pada pria itu. Baginya didekat Yasya kali ini seperti sebuah mimpi. Bahkan didalam mobil Reyna masih terkesima dengan ketampanan pria tersebut.
'Ternyata dari dulu Yasya nggak berubah ya, tetep aja ganteng' gumamnya dalam hati seraya tersenyum menatap wajah Yasya yang semakin teduh.
"Sayang, kamu mau makan apa? kita makan yuk, atau kita jalan-jalan sebentar" pertanyaan Yasya bahkan tak mendapat respon dari Reyna yang kini masih sibuk dengan tatapannya yang terkunci pada pria disampingnya. Yasya yang sedari tadi tak menyadari, kini beralih menatap Reyna yang ternyata melamun memandanginya.
Dengan gerakan cepat pria itu mengecup singkat bibir Reyna membuat gadis itu terperanjat dan mengalihkan pandangannya seketika.
"Ya, Yasya ihhhh" Yasya hanya menahan tawanya kala Reyna menatap tajam dirinya. Sedang gadis itu tengah mengerucut sebal akibat perlakuan Yasya yang mengejutkan baginya.
"Aku tau, calon suami kamu ini ganteng banget, tapi kamu nggak perlu sampek ngelamun gitu dong. Aku ngomong aja dicuekin" tiba-tiba saja Reyna mengerjapkan matanya, matanya tiba-tiba membulat dengan wajahnya yang semakin memerah. Reyna semakin memalingkan wajahnya, ia tak mau terlihat malu ketika Yasya menatap wajahnya.
Tak disangkanya, Yasya tiba-tiba saja meraih wajah gadis itu dengan gemas, kemudian membisikkan sesuatu seolah hendak mencium bibir gadis itu.
"Sayang, I love you."