The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Mencintaimu dan Menjagamu



tap tap tap...


Suara langkah kaki gadis kini mendekati meja dimana Sarah tengah memutar-mutar sedotan pada gelas berisi jus jambu miliknya.


Pandangannya menengadah, menatap manik mata gadis itu dengan memutar bola matanya.


"Lama sekali, darimana saja?" tanya gadis itu membuat Falery terdiam sejenak.


"Aku tiba-tiba sakit perut, maaf" ucap Falery menahan kegugupannya.


"Mau ku antar kerumah sakit sekarang?" tawar Sarah dengan nada khawatir dan juga perasaannya yang tak karuan.


"Tidak perlu, kau pasti lapar kan, kau makan saja dulu, aku bisa pulang sendirian. Maafkan aku Sarah, mungkin karena aku terlambat makan."


Sarah memegang punggung tangan Falery yang tampak oleh keringat dingin darinya.


Gadis itu nampak cemas dengan keadaan Falery yang tampak tak baik dengan wajahnya yang sedikit pucat.


"Tidak apa, kalau begitu, kau istirahat lah dirumah, jangan banyak fikiran, seharusnya aku yang minta maaf, jika bukan karena ku mungkin kau tak akan merasa sakit seperti ini."


"Tidak apa-apa, aku senang membantu kalau begitu aku pamit dulu" ujarnya dan langsung di iyakan oleh Sarah.


***


dak dak dak...


Langkah kaki kasar pria yang kini menggandeng tangan adiknya menuju mobil yang biasa ia tumpangi.


"Kak... kau mau bawa aku kemana?" tanya Falery dengan perasaannya yang kian menggebu.


"Kau harus pulang Fay, aku akan menjelaskan semuanya pada mommy, dan semuanya akan selesai, aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi."


Zayn masih fokus menyetir dengan wajahnya yang penuh ambisi dan juga ketidaksabaran.


"Kak, bisakah aku bicara padamu secara empat mata, kau harus pertimbangkan ini baik-baik" ujar Falery dengan penuh harap.


Zayn melirik Falery, mata gadis itu berkaca-kaca dibalik kacamata yang ia kenakan selama ini.


Pandangan sendu dan juga harapan seperti ia isyaratkan lewat kedua mata itu.


"Baiklah" ucap Zayn menghela nafas terpaksa mengikuti kemauan Falery.


***


Setelah bernegosiasi perihal masalahnya, Falery kini tengah duduk disebuah kursi panjang tepat dijalan trotoar. Pandangannya menengadah, menatap langit penuh bintang jauh diatas kepalanya.


Malam semakin larut, begitupun dengan udara yang semakin dingin oleh angin yang membawa bunga bermekaran di musim semi. Gadis itu memeluk tubuhnya, yang hanya memakai kemeja maroon dan juga celana jeans membalut tubuhnya.


Pandangannya beralih kala segelas coklat panas menghadang dihadapannya. Terulur sebuah tangan sang kakak yang kali ini menyerahkan minuman hangat itu untuknya.


"Terimakasih" kata gadis itu dengan senyuman yang ramah.


Zayn duduk disamping Falery sambil menyesap kopi yang baru saja ia beli bersama dengan coklat yang ia berikan pada Falery.


"Yernyata kau juga ingat ya?" ujar Falery yang kini menatap lekat coklat yang masih terlihat kepulan hangat uap panas dengan senyuman yang merekah.


"Bagaimana bisa aku melupakan apa yang kau suka, bahkan aku sangat ingat jika kau suka chess."


"Aku kira semenjak kakak membenciku, kau akan melupakan semua tentang ku" ucap Falery dengan matanya yang kini mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak pernah membencimu Fay, itu semua hanyalah salah faham, dan aku yang salah, dan jika bukan karena kak Grace" tiba-tiba saja perkataannya terhenti saat Falery mulai menyerobot kata-kata Zayn yang belum terselesaikan.


"Aku tau itu, tapi, sekarang sudah berbeda, aku bukan Falery yang dulu lagi."


Zayn menatap lekat kedua bola mata Falery, kedua tangannya menepuk pundak gadis itu. Ada rasa kehilangan setelah beberapa saat Falery hilang dari dalam hidupnya.


Jika saja waktu dapat diputar kembali, ia takkan membiarkan semuanya terjadi. Zayn akan berusaha keras untuk memisahkan Alfian dan dirinya dari awal.


Namun kini terlambat, Falery dalam ingatannya sudah hilang bersamaan dengan datangnya Reyna.


"Kau adalah adikku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji Fay... ku mohon ikutlah kembali kepada kakak mu ini."


Falery menggeleng. Mungkin keputusan yang ia ambil adalah keputusan paling bijak didalam hidupnya.


"Tidak, aku sudah tidak mau lagi mempunyai keluarga, bahkan aku takut untuk menjenguk keluarga angkat ku, aku juga sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk kembali ke Indonesia, aku lebih tenang sendirian kak"


Kini pria blasteran itu beralih bersimpuh dihadapan gadis cantik itu. Gadis berkacamata yang kini tak lain adalah adik angkatnya sendiri.


"Tidak! bagaimana mungkin kau akan hidup sendirian, kau harus kembali Fay, kau adalah Falery... Falery adikku."


Falery memejamkan matanya. Ia merasa tak kuasa menahan setiap permohonan dari Zayn padanya.


Kedua tangannya menggenggam erat tangan Falery dengan kuat.


"Kak, aku mohon... aku bukan Falery!! aku Reyna! bisakah kau menyadari posisi ku? aku sudah terlalu banyak menanggung beban, bisakah kau sedikit saja mengurangi beban ku, Kau tau kak...! Yasya...!!! Yasya akan menikah dengan Sarah, Sarah sahabat ku sendiri. Itu kenapa aku begitu hancur lebih hancur daripada kehilangan keluarga ku."


Zayn bangkit, pria itu memeluk kepala Falery yang kini mulai menangis sesenggukan.


Rasa sakit yang Falery rasakan seperti mengalir, merambah lewat kehangatan yang ia bagi untuk adiknya itu.


Zayn menangkup kedua pipi Falery.


"Fay, ingat kata-kata ku... aku akan selalu membahagiakan mu dimanapun kau berada. Bagiku kau bukan hanyalah Falery, tapi kau juga bagian dari hidup ku, jika kau tak mau kembali ke sisi keluarga Gilbert, maka aku yang akan menjagamu Fay."


Falery tersentak, dirinya ikut bangkit bersamaan dengan kata-kata Zayn yang terlontar dari mulutnya.


"Aku akan menikahi mu Fay."


Mendadak petir seperti menyambar tepat diatas ubun-ubun gadis itu. Matanya membelalak dengan tubuhnya yang bergetar.


Ia tak tau lagi harus berkata apa. Yang jelas ia seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan Zayn padanya.


"Aku akan menjagamu Fay, aku akan mencintaimu, kau bisa melupakan Yasya, dan memulai hidup baru bersama ku. Aku berjanji, untuk selalu membahagiakan mu."


Falery melepaskan genggaman dari Zayn yang kini telah usai melanjutkan kata-katanya.


Sepertinya memang benar, apa yang dimaksud Zayn. Ini bukan soal pendengarannya yang salah, tapi Zayn memang bersungguh-sungguh untuk menikahinya.


"Aku ini adikmu kak, bagaimana bisa kita menikah?" Falery memalingkan wajahnya, ia menatap arah jalanan yang begitu sunyi tanpa suara terkecuali suara lirih namun serius dari dirinya dan kakak angkatnya tersebut.


Ia melangkah beberapa senti dari tempat dimana Zayn berdiri.


Pandangannya menengadah, menatap kembali langit yang sebelumnya belum sempat ia nikmati.


"Kak, maafkan aku, tapi aku tidak bisa menikah, aku hanya punya satu masa depan, yaitu Yasya... dia adalah masa depan ku, dengan siapapun dia, rasa cinta ku takkan pernah hilang maupun berpaling."


Zayn mengusap wajahnya kasar. Ia membalikkan tubuh Falery yang kini mulai menghentikan tangisannya meskipun matanya terlihat memerah.


"Sadarlah Fay! Yasya akan segera menikah, menikah dengan sahabat ku sendiri, aku lebih baik dari dia."


Falery menggeleng. Ia menyadari betapa tulusnya Zayn dari mata yang ia sorotkan.


"Aku tidak perduli, aku akan bahagia selama dia bahagia kak, meskipun aku tidak bisa menggapainya, meskipun aku hanya bisa mengingat bayangnya dalam masa lalu yang pernah kita tulis, aku akan terus mencintai dia kak."


Zayn mulai berkaca-kaca, ia memegang kedua pundak Falery dan segera merengkuhnya dengan erat.


Gadis itu membalas pelukan hangat dari sang kakak. Pelukan yang selama ini ia rindukan, namun semakin ia jauhi.


"Maafkan aku Fay... aku gagal, aku gagal memberimu kebahagiaan."


Falery mengeratkan pelukannya lagi. Ia ingin menjadi sandaran untuk Zayn meskipun hanya sebatas ini.