The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pernyataan cinta



Kanaya yang semula memejamkan matanya erat-erat kini dirinya mulai membuka matanya perlahan, menelisik pria asing yang kini menghimpit tubuhnya dalam cahaya remang tanpa alat bantu penerangan.


Glek


Kanaya menelan ludahnya kasar kala pandangannya kini bertatapan dengan pria yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya itu, sedangkan posisi mereka kali ini benar-benar akward. Pria itu menahan tangannya didinding dengan tangannya yang masih mencekal lengan Kanaya yang berada didepan mata. Kanaya mencoba untuk memberontak, kali ini ia tidak mau lagi jatuh dalam perasaanya terhadap Reyhan lagi. Mau bertanya pun Kanaya malu, karena sedari awal Reyhan hanya datang seolah dia menginginkannya saja, seperti saat ini. Tiba-tiba menarik lengannya dilorong yang kosong dan menghimpit tubuhnya.


"Kak Reyhan apa-apaan sih?! aku mau keluar, jangan halangi aku" kata Kanaya yang kini mendorong tubuh Reyhan, namun tak disangka pria itu malah menahan kaki Kanaya menggunakan lututnya.


"Nggak! sebelum kamu jawab pertanyaan aku, aku nggak bakalan biarin kamu lepas lagi."


"Maksud kakak apa?" kali ini Kanaya bahkan tak ingin menebak-nebak apa yang dirasakan pria dihadapannya. Ia takut dirinya terbawa perasaan lagi, meskipun kini posisi mereka dapat membuat pipi Kanaya merona, tapi ia dapat menyembunyikan segalanya.


"Kenapa kamu ngehindar dari aku Nay? aku udah denger semuanya, kamu bilang kamu mau resign kan? kenapa?"


"Kenapa kakak tanya gitu? memangnya penting buat kak Reyhan? kak Reyhan mending nggak usah ikut campur urusan aku deh. Kita nggak ada hubungan-" belum sempat Kanaya melanjutkan omelannya, namun ia terkejut kala Reyhan tiba-tiba mencium bibirnya. Kanaya membulatkan matanya, ia merasakan bibir Reyhan yang ******* lembut bibirnya, semula mata Kanaya yang membelalak kini menutup rapat disusul air matanya yang jatuh. Hal itu membuat Reyhan tersadar dan membuka matanya.


"Kamu masih nggak bisa ngerasain Nay?" pertanyaan itu berulang kali membuat Kanaya bingung. Reyhan telah merenggut ciuman pertamanya, dan ia terharu, meskipun Kanaya tak tau ini yang pertama atau bukan untuk Reyhan. Tapi Kanaya bisa merasakan ciuman Reyhan yang begitu mendalam. Kanaya menghapus jejak air matanya, ia menunduk tak berani menatap pria yang kini menatap intens padanya.


"Nay, aku nggak mau kamu dijodohin, aku nggak mau kamu deket sama orang lain selain aku. Aku nggak mau laki-laki lain punya sebutan calon suami dari kamu. Aku cinta sama kamu Kanaya" kata Reyhan panjang lebar membuat Kanaya tercengang. Kini matanya telah berani menatap Reyhan yang semakin yakin akan perkataannya barusan. Bahkan Kanaya masih tak menyangka, ia takut ia salah dengar, namun tidak mata Reyhan masih sama seperti sebelumnya, berarti ini bukan mimpi, ini kenyataan.


"Tapi kakak kenapa?"


"Sssttt, aku tau" Reyhan menyentuh bibir Kanaya menggunakan jari telunjuknya. Membiarkannya untuk melanjutkan perkataannya sejenak, lalu setelah itu Reyhan menyatukan dahinya dengan dahi Kanaya dan yang terakhir menyentuhkan hidungnya tepat dihidung mancung Kanaya.


"Aku tau ada banyak pertanyaan dibenak kamu, aku memang pengecut Nay, sampai saat ini aku baru bilang kalo aku jatuh cinta sama kamu. Aku selalu ilang tanpa kabar, aku datang seenaknya, aku tau itu buat kamu bimbang. Dan kamu harus ingat, apapun yang aku lakuin kemarin itu, semua ada penjelasannya, banyak yang pengen aku ceriatain Nay, banyak banget. Aku cuma mau selesain dulu sebelum cerita ke kamu, aku harap kamu percaya sama aku Nay."


Kanaya bisa gila jika posisi mereka terus seperti ini. Apalagi Reyhan, ia bisa melihat mata lelah pria itu, mata yang sebelumnya hanya ada keceriaan, namun ternyata menyimpan begitu banyak beban dibaliknya. Ia masih enggan untuk yakin, tapi hatinya seperti menuntunnya untuk percaya pada pria yang kini menunduk dengan sesekali tatapannya yang mengarah padanya. Jemari Kanaya bergerak menyentuh wajah pria dihadapannya, perkataan Reyhan yang tadi bahkan masih seperti mimpi baginya. Kanaya memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang diberikan Reyhan kali ini yang tengah menyentuh pinggangnya.


"Aku juga cinta sama kak Reyhan, aku percaya sama kakak, tapi aku harap kakak nggak bohongi aku lagi" kata Kanaya yang kini merangkul leher Reyhan membuat pria itu tersenyum hangat dan mencium puncak kepala gadis dihadapannya.


"Aku nggak bakalan janji, tapi aku bakal buktiin ke kamu tentang keseriusan aku, sisanya kamu tinggal tunggu" perkataan Reyhan membuat jantung Kanaya berdetak tak karuan, wajahnya kini memerah ditengah pelukan yang diberikan Reyhan padanya.


***


"Kanaya!" langkah kedua sejoli itu terhenti kala suara tak asing terdengar berteriak memanggil Kanaya. Kanaya dan Reyhan saking bertatapan lalu kemudian mereka saling membalikkan tubuh untuk melihat siapa gerangan wanita yang memanggilnya.


Reyhan terperanjat, begitupun juga Kanaya, mereka melepaskan genggaman tangan yang baru saja terjalin erat karena Reyna kini tersenyum dan berlari kearah mereka berdua. Reyhan hanya bisa menelan ludahnya, namun berbeda dengan Kanaya yang kini tersenyum senang melihat sahabatnya yang memeluk erat tubuhnya.


"Nay lo apa kabar? gue kangen banget sama lo"


"Seharusnya gue yang tanya sama lo, lo kemana aja selama ini, gue nggak nyangka dan seneng banget" kata Kanaya yang membalas pelukan dari sahabatnya itu. Kanaya benar-benar bodoh jika mempercayai kata-kata Novi itu, mana mungkin Reyna melupakannya. Bahkan kali ini Reyna tumbuh semakin cantik dan juga dewasa, Kanaya bahkan hampir pangling dengan kecantikan sahabatnya itu yang semakin bertambah saja. Ia pun baru tau jika petinggi perusahaan adalah Reyna, padahal sudah sangat lama ia bekerja di Syakieb group. Ternyata gadis cantik yang masih muda, pemegang saham terbesar itu adalah sahabatnya sendiri.


"Gue-" belum sempat Reyna melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja lengannya kini sudah ditarik oleh seorang lelaki dibelakangnya. Siapa lagi kalau bukan-.


"Kak Zayn apaan sih? dari tadi aku mau cari Kanaya dilarang terus" Zayn benar-benar tidak habis fikir, masa Reyna tidak sadar jika kakaknya dan sahabatnya itu tengah kasmaran. Baru saja mau memberitahu malah pergi begitu saja, kalau saja Zayn ini ada dalam posisi Reyhan, dia pasti akan mengutuk adik yang durhaka ini.


"Ikut kakak dulu, ada file yang harus kamu tanda tangani" kata Zayn membuat Reyna mengerutkan keningnya, sedangkan Reyhan dan Kanaya hanya bisa saling berpandangan menatap keduanya.


"Ini kan masih jam istirahat kak! kakak jangan resek deh, aku masih mau ngobrol dulu sama sahabat aku" seru Reyna yang masih tidak paham dengan situasi. Dasar Reyna, karena kerinduannya ia bahkan sama sekali tidak peka. Kali ini mau tidak mau Zayn harus bertindak nekat, jika tidak khawatirnya nanti Reyhan tidak ada kemajuan lagi.


"Ini darurat, siang ini ada rapat, kakak baru dapat kabar dari pak Sandi" perkataan Zayn barusan membuat Reyna membelalakkan matanya.


"Apa?! mendadak banget sih, kalo gitu aku ke kantor aku dulu ya Nay, nanti kita ketemu diluar, kita harus hang out bareng. Jangan lupa telfon aku" kata Reyna seraya melangkah sambil menarik lengan Zayn membuat pria itu hanya bisa menahan tawanya. Sedangkan Reyhan kini bisa menebak apa yang dilakukan Zayn barusan memang sengaja. Dan benar saja, baru saja ia memikirkan hal demikian dan Zayn tiba-tiba membalikkan tubuhnya seraya mengerlingkan sebelah matanya. Reyhan mengangguk, ia tersenyum hangat seolah mengatakan 'terimakasih' pada saudaranya itu. Tak menyangka jika Zayn ternyata berguna juga.