The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Aku bukan Falery



"Ishhh.. aw" suara jeritan kecil menggema diruang apartemen Falery. Tampak dirinya masih memegangi sudut bibirnya yang tengah membiru dengan bekas tamparan kecil yang samar-samar terlihat tepat didepan cermin kamarnya yang terpantul bayangan dirinya.


tok tok tok...


Suara pintu yang diketuk membuatnya beralih pandang, menatap pintu luar kamar.


Gadis itu perlahan berjalan dengan langkah lemas sambil sesekali menyembunyikan bibirnya.


ceklek....


"Falery...." pelukan hangat berhambur pada tubuh Falery yang kini terdiam sambil menatap heran pada sahabatnya yang datang tiba-tiba.


"Apa kau baik-baik saja? ada apa denganmu?" pelukan Sarah tiba-tiba merenggang, dirinya menatap Falery yang kini terlihat sedikit pucat ditambah dengan bibirnya yang lebam.


"Kau kenapa Fay? siapa yang memukulmu? kau tidak cerita padaku? bukankah kau master karate? kenapa bisa terluka seperti ini" Falery memutar bola matanya, dirinya merasa enggan untuk terbuka pada Sarah, terlebih peristiwa yang hari ini ia lalui pasti akan membuatnya sangat khawatir.


"Tidak apa, aku hanya tak sengaja terjatuh tadi" ucap Falery seraya melangkah masuk dan membiarkan Sarah mengikutinya dari belakang.


"Kau tak berbohong padaku kan? ayolah Fay, ceritakan padaku" Falery menggeleng, dirinya masih enggan menatap mata Sarah yang kini mulai mengintimidasi. Falery mencoba untuk menghindar, gadis itu melangkah menuju dapur, membuatkan sahabatnya secangkir teh dan juga kue jahe.


"Aku tidak apa-apa Sarah."


"Kalau begitu katakan... kenapa kau masih bertahan disini dan enggan untuk pulang?" Falery terdiam, dirinya sempat berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Sarah agar dia tak salah paham. Kali ini Sarah tak bisa dibohongi lagi, matanya tajam menatapnya, sudut matanya duduk berhadapan dengan Falery yang tepat berada didepannya. Gadis itu masih mengalihkan pandangannya seraya meletakkan nampan berisi kue dan teh dihadapan Sarah.


"Baiklah... tapi kau janji, jangan terkejut dengan apa yang aku ceritakan... ini masalah keluarga, dan kau harus janji untuk menyembunyikannya okay?" Falery menunjukkan jari kelingkingnya, dan dibalas oleh Sarah yang kini membalas sebuah janji pada sahabatnya itu.


***


Suara dering ponsel memenuhi ruangan presdir, membuat pria itu beralih dan mengangkat panggilan itu asal tanpa memperdulikan siapa yang menghubunginya. Yasya menekan tombol loudspeaker dengan matanya masih tetap fokus pada berkas-berkas dan juga data dilayar monitor.


"Hallo bos..." suara itu tak asing bagi Yasya, dirinya dengan santai menjawab panggilan itu dengan nada tegas.


"Katakan Peter..."


"begini... aku sudah berada di kantor polisi, sekarang Alex telah ditahan, dia mengajukan banding dengan pengacaranya..."


"jangan biarkan dia lolos.. pastikan dia dipenjara"


Ucap Yasya sambil terus fokus dengan pekerjaannya yang kian menumpuk.


"baik bos... tapi..."


"apa lagi...?"


"dia tidak sendirian dalam merencanakan penculikan terhadap nona Falery... dari informasi yang didapat polisi, ada dua orang lagi yang ikut andil dalam penculikan berencana ini"


Yasya menghentikan aktivitasnya sejenak, dirinya menghela nafas sambil menatap intens ponsel yang masih tersambung dengan Peter.


"dia adalah... mantan kekasih Alexander Wiliam"


Yasya menggelengkan kepalanya, dirinya kembali pada pekerjaannya.


"lanjutkan Peter..."


"bo.. bos... maaf sebelumnya, tapi menurut penyelidikan ku, mantan kekasih Alexander, dia juga pernah ingin menjebakmu pada malam saat kau mabuk di bar"


Yasya tersentak, dirinya sontak menghentikan gerakan tangannya yang hendak menandatangani berkas. Matanya menatap tajam seolah ingin membunuh seseorang disekitarnya.


"APAA?!!!!"


"i.. iya bos, aku telah menyelidiki latar belakangnya, dan juga kegiatan serta tempat-tempat yang ia datangi selama sebulan terakhir ini... aku menemukan bukti pada CCTV di lorong hotel dalam bar tersebut.. maafkan aku bos, aku terlambat untuk mengetahui ini... jika saja tidak ada nona Gilbert..."


Yasya bangkit dan tersentak, dirinya menaikkan sebelah alisnya sambil melangkah menuju sofa dan duduk disana.


"apa maksudmu??? kenapa dengan Falery??"


"bos.. aku melihat nona Falery membawamu keluar, tepat setelah wanita itu membopong tubuhmu masuk... tak hanya itu, dia juga memakaikanmu jaket miliknya"


Yasya terkejut, kenyataan itu seperti menohok hatinya. Fikirannya melayang mengingat dimana dirinya menghakimi Falery dengan tuduhan yang begitu menyakitkan.


"kau telah sengaja membuat ku mabuk dan membawaku pulang... kau berniat untuk mencuri perhatian dariku, dan hendak menjebakku... setelah kau tau bahwa kau diawasi oleh pembantu ku, maka kau akhirnya mulai menunjukkan kebaikan palsu yang mana itu adalah hanya untuk menarik simpati dariku ..."


Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti sambaran petir tepat diatas kepalanya. Yasya membisu dengan seribu bahasa, dirinya merasa malu dan bersalah atas apa yang ia katakan pada Falery hari itu. Hari dimana harusnya dirinya mengucapkan terimakasih, namun malah dibalas dengan kata-kata hinaan darinya.


Yasya mengacak rambutnya, pria itu mengusap wajahnya yang tampan tanpa cacat sedikitpun.


"bos..."


Suara disebrang sana membuatnya terbangun dari lamunan penyesalan.


"katakan padaku siapa perempuan itu???"


"di.. dia..."


"KATAKAN..!!!!"


"Elizabeth Thompson..."


Yasya mencoba menghembuskan nafasnya, dirinya ingin meredam amarahnya sesaat untuk mengetahui lebih dalam kasus Falery.


"satu lagi Peter... kirimkan semua bukti, dan juga selidiki semuanya secara rinci... berikan informasi pelaku ketiga padaku hari ini juga"


.


.


.


.


"APA?!!!!"


Falery menghembuskan nafasnya, kini rasa sedikit lega menyelimuti hatinya yang sebelumnya gundah tiada arah. Meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang berada dibenak Sarah terhadapnya saat ini.


Falery hanya bisa menunduk pasrah, berharap pengertian dari sahabatnya akan masalah yang terjadi pada dirinya.


"Fay... itu sebabnya kenapa kau berbeda dari Falery yang dulu??? dan kau menjadi lemah seperti sekarang ini???"


Sarah bangkit, dirinya memegangi kepalanya yang tengah pening. Hatinya ingin tidak percaya, namun semua teka-teki yang selama ini ia gali dari perubahan Falery kini terjawab oleh sahabatnya sendiri.


Mata Sarah berkaca-kaca, dirinya membalikkan tubuhnya, dan sedetik kemudian berhambur memeluk Falery yang kini duduk dengan tatapan hampa.


"Fay.. .hiks.. maafkan aku, aku terlambat mengetahui ini.. Fay, kenapa kau tak beritahu aku dari awal??? hiks..."


Falery menyentuh punggung Sarah dan mengelusnya perlahan. Dalam benaknya ia terfikir kan sesuatu yang hampir sama dengan peristiwa ini.


"maaf, gue nggak ada disaat lo ada masalah... lo udah kaya sodara gue sendiri Reyna... gue nggak bisa hidup tanpa lo... jangan selalu buat gue khawatir... lo nggak perlu nyembunyiin air mata yang seharusnya lo tumpahkan Rey.... hiks hiks...."


'Kanaya???'


Batinnya tanpa sadar mengingat kejadian lampau yang membuatnya mengingat kilas balik itu.


"aku tidak apa-apa... hanya saja semua kesalah pahaman ini sudah aku lupakan sejak aku mengalaminya"


Sarah menghentikan pelukannya, dan menghapus air matanya yang sempat berlinang.


"bagaimana bisa...!!! aku tau kau bukan Falery... tapi kau tetap sahabatku.. kau jangan mau kalah dengan Grace... dia bukan siapa-siapa Fay.. kau tak perlu takut"


"justru aku yang bukan siapa-siapa Sarah... aku lebih baik pergi daripada menimbulkan masalah lagi"


"tapi masalah itu timbul bukan karena mu..."


Falery membisu, matanya ikut berkaca-kaca saat menatap Sarah yang kini mulai menangis kembali.


"Sarah apa kau tau..."


Falery menghentikan kata-katanya, dirinya bangkit perlahan, memandangi arah jendela dan mendekatinya. Gadis itu mencoba memejamkan mata, seolah bersiap untuk memberikan pengertian pada sahabatnya.


"setelah semua yang terjadi dalam kehidupan masa lalu ku, aku hanya punya mereka seorang... sebelum Elizabeth dan Grace bersekongkol, kakak ipar ku adalah wanita yang lembut dan baik hati..."


Sarah mengepalkan kedua tangannya, dirinya merasa kesal terhadap sikap Falery yang begitu lemah.


"kau bilang ular itu baik hati...?? jika ia memang baik dan lembut... dia tidak mungkin merencanakan hal gila seperti ini Fay..."


"Sarah... percayalah padaku... ini hanyalah tipu muslihat Elizabeth... dia hanya ingin memanfaatkan kakak ku, aku tau itu... Sarah... aku hanyalah masalah, jika memang kak Grace menginginkan aku pergi, maka aku akan lakukan apa yang ia suka... aku ingin keluarga itu bahagia"


Sarah menarik lengan Falery, dirinya menatap kesal pada Falery.


"Apa kau gila haaa??!!! kau jelas-jelas korban Fay, kenapa kau begitu lemah dan tidak menuntut keadilan..."


"Ini sudah adil bagiku Sarah... jangan paksa aku untuk mengguncang keluarga ku lagi... kakak Grace hanya terlalu menyayangi keluarganya, itulah kenapa dia mencoba untuk menyingkirkan aku"


Sarah terdiam, dirinya berfikir beberapa kali untuk membuat Falery mengerti.


"baiklah... jika kau tidak mau... maka aku yang akan katakan ini pada keluarga mu Fay... aku akan berkata yang sejujurnya pada mereka semua"


Sarah membalikkan tubuhnya, gadis itu bersiap untuk meninggalkan tempat Falery. Namun Falery dengan sigap menarik lengannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.


"Sarah kumohon... kau satu-satunya yang tau tentang semua rahasia ku, kau juga sudah berjanji padaku bukan... Sarah... jika kau hiks... mengatakan pada mereka, hiks... mereka pasti akan menyalahkan kak Grace


. dan kak Alan akan menceraikannya Sarah... kumohon jangan katakan apapun... hiks..."


Sarah menghembuskan nafas panjangnya, dirinya tak tega melihat ketidak berdayaan Falery yang kini menangis memohon padanya untuk orang yang kini telah melukai hatinya.


Mata gadis itu berkaca-kaca dengan hidungnya yang ikut memerah. Sarah dengan cepat memeluk tubuh Falery yang kini lemah oleh perasaannya sendiri.


"Falery... hiks... kenapa kau begitu egois pada dirimu sendiri... hiks Fay... aku janji, aku akan menemanimu dan menjagamu... aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri Fay... aku akan selalu mendukungmu"


"hiks... Sarah..."


Mereka berdua berpelukan dengan tangis menghiasi pipi mereka masing-masing. Rasa lelah dan gundah ia tumpahkan begitu saja dalam pelukan hangat yang diberikan oleh Sarah padanya.